Global

RS Indonesia di Gaza Dipasang Spanduk Provokatif oleh Militer Israel, Begini Respon Kemlu RI

Advertisement

Jakarta – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menyampaikan kecaman keras terhadap tindakan pasukan Israel Defense Forces (IDF) yang memasang spanduk provokatif bertuliskan “Rising Lion” di atas bangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza utara. Aksi tersebut dinilai sebagai bentuk propaganda militer di fasilitas sipil yang seharusnya dilindungi.

Informasi mengenai pemasangan spanduk tersebut pertama kali dilaporkan oleh media dan kemudian dikonfirmasi oleh sumber yang dikutip Antara pada Rabu, 22 April 2026. Istilah “Rising Lion” sendiri diketahui merujuk pada nama operasi militer Israel yang dilancarkan terhadap Iran pada Juni 2025. Pemasangan spanduk di tengah reruntuhan rumah sakit ini sontak menuai sorotan tajam, mengingat Gaza masih dilanda konflik berkepanjangan.

Kecaman Keras dari Pemerintah Indonesia

Menanggapi insiden tersebut, Kemlu RI tidak tinggal diam. Melalui pernyataan resmi di platform X pada Rabu (22/4), Indonesia secara tegas menyatakan kecaman dan protesnya. “Indonesia mengecam keras dan memprotes pemasangan spanduk ‘Rising Lion’ oleh pasukan Israel di atas reruntuhan Rumah Sakit Indonesia di Gaza,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Pemerintah Indonesia memandang penggunaan simbol dan propaganda militer di lokasi yang seharusnya steril dari aktivitas perang sebagai tindakan yang sangat provokatif dan tidak dapat dibenarkan. Rumah Sakit Indonesia di Gaza, yang dibangun atas dasar solidaritas rakyat Indonesia untuk membantu masyarakat Palestina, seharusnya menjadi tempat perlindungan dan pelayanan kesehatan, bukan sasaran atau alat propaganda militer.

Kemlu RI menegaskan bahwa tindakan ini merupakan bentuk penghinaan terhadap fasilitas kemanusiaan yang telah didirikan dengan niat mulia. “Tindakan tersebut merupakan penghinaan terhadap fasilitas kemanusiaan yang dibangun dari solidaritas rakyat Indonesia untuk membantu rakyat Palestina,” tegas Kemlu RI.

Fasilitas Medis Harus Dihormati dan Dilindungi

Indonesia kembali mengingatkan bahwa rumah sakit dan seluruh fasilitas medis memiliki status khusus yang wajib dihormati serta dilindungi sesuai dengan hukum humaniter internasional. Pemerintah Indonesia mendesak Israel untuk segera menghentikan segala bentuk tindakan yang melanggar prinsip perlindungan terhadap infrastruktur sipil.

Advertisement

Lebih lanjut, Indonesia menuntut adanya akuntabilitas atas serangan-serangan yang telah menargetkan fasilitas kesehatan di Jalur Gaza. Perlu diketahui, Rumah Sakit Indonesia sendiri telah beberapa kali terdampak serangan militer Israel sejak Oktober 2023 hingga masa gencatan senjata pada Oktober 2025. Situasi tragis juga dialami oleh Direktur rumah sakit tersebut, Marwan Al-Sultan, yang dilaporkan gugur akibat serangan Israel di kediamannya di Gaza barat pada Juli 2025.

Perkembangan Terbaru Konflik Israel-Palestina

Di tengah situasi yang memanas, laporan terbaru dari Al Jazeera pada Kamis (23/4/2026) mengabarkan adanya serangan udara Israel di Gaza utara yang menewaskan sedikitnya lima warga Palestina, termasuk tiga anak-anak. Serangan tersebut dilaporkan menargetkan sekelompok warga sipil di dekat masjid Al-Qassam di Beit Lahia.

Pejabat kesehatan setempat pada Rabu (22/4/2026) malam menyatakan bahwa jenazah para korban telah dibawa ke rumah sakit Al-Shifa di Kota Gaza. Pihak rumah sakit pun telah mengonfirmasi penerimaan korban, meskipun usia spesifik anak-anak yang menjadi korban tidak dirinci lebih lanjut.

Sementara itu, Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan bahwa Israel telah melakukan sekitar 2.400 pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas sejak Oktober. Pelanggaran tersebut mencakup serangan terarah, penangkapan, blokade, hingga tindakan yang menyebabkan kelaparan paksa terhadap penduduk Gaza.

Kondisi memilukan juga diungkapkan oleh laporan Save the Children pada September lalu, yang mencatat lebih dari 20.000 anak tewas selama dua tahun konflik di Gaza. Rata-rata, setidaknya satu anak meninggal setiap jam. Lebih dari 1.000 dari mereka berusia di bawah satu tahun, sementara ribuan lainnya mengalami luka, trauma, atau terpisah dari keluarga mereka.

Advertisement