Akses.co.id — JAKARTA, KOMPAS.com — Kehadiran film terbaru Wregas Bhanuteja, Para Perasuk, menawarkan sebuah perspektif segar terhadap tradisi lokal yang kerap diasosiasikan dengan hal mistis. Film ini tidak hanya mengeksplorasi tema kerasukan, tetapi juga menyajikan pandangan yang berani dan menghibur tentang budaya yang dianggap menakutkan, bahkan mengubahnya menjadi sumber hiburan dan pelarian spiritual bagi warga Desa Latas melalui sebuah tradisi yang disebut pesta sambetan.
Konsep pesta sambetan sebagai jantung kehidupan sosial desa menjadi pembeda signifikan di tengah maraknya film Indonesia yang cenderung mengangkat unsur horor dari fenomena kerasukan. Dalam film ini, kerasukan justru menjadi sarana ekspresi dan pelarian dari realitas kehidupan yang keras.
Obsesi dan Luka Batin
Cerita berpusat pada Bayu, yang diperankan oleh Angga Yunanda, seorang pemuda dengan cita-cita menjadi Perasuk. Obsesinya membawanya mengikuti sayembara untuk mencari pemimpin ritual desa yang baru. Angga Yunanda berhasil memerankan Bayu dengan nuansa yang pas, menampilkan semangat yang meluap namun belum diimbangi kesiapan batin.
Pemeran suami Shenina Cinnamon ini piawai membedakan antara obsesi yang berpotensi merusak karena sifatnya yang buruk, dengan ambisi yang dapat membawa seseorang pada kemajuan. Di sisi lain, Maudy Ayunda hadir sebagai Laksmi, seorang pelamun yang dirasuki roh hewan. Peran ini menuntut Maudy menampilkan gerakan-gerakan intens yang meniru binatang, sebuah penampilan yang disebut sebagai salah satu yang paling berani dalam kariernya.
Melalui karakter Bayu dan Laksmi, Wregas Bhanuteja secara halus menyampaikan pesan tentang bahaya obsesi yang membutakan dan trauma yang terpendam, tanpa terkesan menggurui, melainkan melalui penggambaran yang terasa sangat nyata.
Visual yang Memukau
Wregas Bhanuteja, yang sebelumnya dikenal melalui karya seperti Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti, kembali menunjukkan keahliannya dalam merancang bahasa visual. Para Perasuk terasa sebagai loncatan estetika yang signifikan, dengan permainan warna-warna hangat yang kaya, tekstur visual yang hidup, dan sinematografi yang berani.
Pendekatan visual ini mengingatkan pada film Like & Share karya Gina S. Noer, yang juga menggunakan estetika sebagai alat bercerita. Setiap adegan di Desa Latas terasa seperti sebuah dunia dengan aturan mainnya sendiri, yang berhasil diciptakan Wregas agar penonton betah berlama-lama di dalamnya.
Humor yang Mengejutkan
Salah satu kejutan terbesar dalam Para Perasuk adalah unsur humornya. Film ini menyajikan dialog-dialog yang menggelitik tanpa terasa dipaksakan, serta komedi situasi yang muncul secara organik dari ritual sambetan itu sendiri. Chicco Kurniawan, Bryan Domani, Ganindra Bimo, dan Indra Birowo memberikan kontribusi momen-momen lucu dengan porsi yang tepat.
Anggun C. Sasmi melakukan debut layar lebarnya sebagai Guru Asri, sosok penting dalam dimensi spiritual yang menjadi poros cerita. Lebih dari sekadar berakting, Anggun turut menciptakan 20 mantra khusus yang digunakan dalam film, sebuah kontribusi yang membuat karakternya terasa otentik dan berbobot.
Pesan Sosial yang Mendalam
Di balik kemeriahan pesta sambetan, desa tersebut menghadapi ancaman dari sebuah perusahaan besar yang berencana membeli sumber mata air mereka untuk dijadikan hotel. Konflik ini tidak hanya menjadi latar belakang, tetapi juga lapisan cerita yang melengkapi film, mengingatkan pada ancaman nyata terhadap adat dan ruang hidup komunitas kecil yang terus berulang.
Sedikit Ganjalan di Akhir Cerita
Meskipun demikian, Para Perasuk tidak luput dari kekurangan. Memasuki babak ketiga, ritme film terasa sedikit kehilangan keseimbangannya. Beberapa resolusi cerita tampak terburu-buru jika dibandingkan dengan kesabaran dan ketelitian pembangunan narasi di dua babak sebelumnya.
Namun, ganjalan kecil ini tidak mengurangi kualitas keseluruhan film. Para Perasuk adalah film Indonesia yang langka, berani, dan menghibur. Film ini lebih berbicara tentang obsesi yang kerap berbenturan dengan realitas dan pentingnya menjaga adat leluhur dari keserakahan zaman, ketimbang sekadar horor dan ketakutan.
Wregas Bhanuteja kembali membuktikan diri sebagai salah satu sutradara penting dalam perfilman Indonesia saat ini. Di antara berbagai elemen yang patut diapresiasi, penampilan Maudy Ayunda sebagai Laksmi menjadi salah satu yang paling sulit dilupakan dan layak mendapatkan pengakuan terbaik atas perannya yang luar biasa.
Para Perasuk dijadwalkan tayang di bioskop mulai hari ini, Kamis (23/4/2026).
Ikuti Akses.co.id
