— Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) angkat bicara menyusul viralnya metode pijat bayi yang dikenal sebagai “totok sirih” di media sosial. Organisasi profesi ini menekankan pentingnya sentuhan yang aman, lembut, dan tidak menyakitkan bagi bayi.

Menurut IDAI, tangisan bayi yang keras saat dipijat merupakan indikasi ketidaknyamanan. Stimulasi pada bayi seharusnya selalu mengutamakan rasa aman, kelembutan, serta respons positif dari anak.

Sebelumnya, sebuah video yang beredar di TikTok memperlihatkan seorang bayi menangis histeris saat tubuhnya diketuk menggunakan alat totok, sementara bagian kepalanya diusap oleh seorang praktisi. Video ini memicu diskusi luas mengenai praktik pijat bayi yang aman.

Melalui akun Instagram resminya, @idai_ig, IDAI menegaskan bahwa setiap sentuhan pada anak harus menciptakan rasa aman, bukan luka atau ketakutan.

“Menanggapi video viral ‘Totok Sirih’ pada bayi di Palembang, Sumatera Selatan. Mari kita pastikan setiap sentuhan pada anak menghadirkan rasa aman, bukan luka. Karena yang mereka butuhkan bukan kekuatan, tapi kepekaan dan kasih sayang,” tulis IDAI pada Sabtu (25/4/2026).

IDAI juga mengapresiasi respons cepat IDAI Sumatera Selatan dalam memberikan edukasi dan advokasi perlindungan anak terkait kasus tersebut.

Dalam penjelasannya, IDAI menegaskan bahwa bayi yang menangis keras saat dipijat menandakan ia sedang tidak nyaman. Oleh karena itu, kondisi bayi harus diperhatikan dengan cermat sebelum melakukan pijat.

Bayi sebaiknya tidak dipijat jika sedang demam atau sakit, baru saja makan atau menyusu, dalam keadaan lapar atau mengantuk, serta belum berada dalam kondisi tenang.

“Kalau bayi belum nyaman, lebih baik ditunda dulu,” tulis IDAI.

Tahapan Pijat Bayi yang Aman dan Lembut

IDAI juga memberikan panduan mengenai tahapan pijat bayi yang aman dan lembut. Sebelum memulai, disarankan untuk menciptakan suasana ruangan yang hangat dan tenang. Tangan pemijat harus dipastikan bersih dan kuku harus dipotong pendek.

Penggunaan minyak khusus bayi juga disarankan. Penting untuk memastikan bayi dalam kondisi sadar dan tenang selama proses pijat.

Adapun tahapan pijat bayi yang direkomendasikan adalah sebagai berikut:

  • Kaki: Usap paha ke arah kaki secara lembut, menyerupai gerakan “memerah susu”, tanpa memberikan tekanan yang kuat.
  • Perut: Pijat ringan dengan gerakan searah jarum jam untuk membantu mengurangi kembung. Hindari memijat perut segera setelah bayi makan.
  • Dada dan Tangan: Usap dari tengah dada ke arah samping, kemudian pijat tangan dan bahu hingga pergelangan tangan dengan lembut.
  • Punggung: Tengkurapkan bayi dengan tetap dalam pengawasan, lalu usap perlahan dari area leher hingga bokong.

IDAI menekankan bahwa pijat bayi harus selalu mengikuti respons anak. Jika bayi terlihat tenang, pijatan dapat dilanjutkan. Namun, jika bayi menangis, sebaiknya segera dihentikan.

Durasi pijat bayi yang ideal adalah sekitar 10-15 menit. Penting untuk tidak memberikan tekanan kuat dan menghindari teknik seperti “totok”.

“Tujuannya membuat bayi nyaman, bukan takut, nyeri, atau terpaksa. Pijat bayi bukan untuk mengobati penyakit, tetapi untuk menstimulasi tumbuh kembang,” tegas IDAI.

Jika dilakukan dengan benar, pijat bayi dapat memberikan sejumlah manfaat, di antaranya membuat bayi lebih rileks, membantu kenaikan berat badan, serta mendukung sistem pencernaan dan sirkulasi tubuh.