— JAKARTA, Kompas.com — Kehadiran replika sepeda Penny Farthing era 1870-an di ajang Car Free Day (CFD) Sudirman–Thamrin, Minggu (26/4/2026), ternyata menyimpan cerita menarik tentang kemampuan industri dalam negeri. Sepeda klasik yang memukau perhatian warga itu adalah buatan Indonesia, bukan barang impor.

Replika ini dibuat dengan skala 1:1, meniru persis ukuran dan bentuk asli sepeda yang populer pada dekade 1870-an. Fahmi, founder Komunitas Penny Farthing Indonesia, menegaskan bahwa setiap detail, mulai dari rangka hingga pelek, dibuat menyerupai aslinya.

“Ini dibuat dengan perbandingan satu banding satu, artinya sesuai ukuran asli, baik bentuk, frame, maupun rim seperti Penny Farthing yang dibuat pada era 1890-an,” ungkap Fahmi di kawasan CFD Sudirman-Thamrin, Minggu (26/4/2026).

Lebih membanggakan lagi, sebagian besar komponen sepeda ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Fahmi menyebutkan beberapa sentra produksi yang turut berkontribusi.

“Banyak yang merupakan buatan lokal, seperti dari Purbalingga, Bekasi, Klaten, dan Surabaya. Jadi, untuk yang bisa dikendarai, kebanyakan adalah replika buatan dalam negeri,” jelas Fahmi.

Detail Teknis dan Tantangan Produksi

Salah satu ciri khas Penny Farthing adalah ban depannya yang berdiameter sangat besar. Untuk replika ini, digunakan ban jenis non-pneumatic atau ban mati, yang tidak memerlukan pompa udara.

“Material ini kami dapatkan dari industri sling atau perlengkapan kabel industri yang memiliki kelenturan tertentu, lalu dimanfaatkan menjadi ban utama sepeda ini,” katanya.

Proses pembuatan sepeda abad ke-19 ini tidak lepas dari tantangan. Kesulitan utama terletak pada pembuatan pelek dan memastikan keseimbangan sepeda, terutama mengingat perbedaan diameter roda depan yang mencapai sekitar 48 inci dengan roda belakang yang hanya 16 hingga 20 inci.

“Bahannya sebenarnya sama, besi biasa. Namun kesulitannya ada pada pembuatan pelek atau rims, serta memastikan hasil akhirnya balance atau seimbang. Itu yang paling sulit dalam pembuatan sepeda ini,” katanya.

Simbol Status Sosial di Era Awal Perkembangan Sepeda

Fahmi menjelaskan bahwa pada masa awal penemuan sepeda, Penny Farthing diciptakan untuk memberikan kecepatan lebih dibandingkan berjalan kaki.

Inovasi kemudian berlanjut dengan memperbesar roda depan, yang membuat posisi pengendara lebih tinggi dari pejalan kaki. Fenomena ini menciptakan efek sosial tertentu.

“Jadi, ketika naik Penny Farthing, pengendara melihat pejalan kaki ke bawah, sementara pejalan kaki melihat ke atas. Pada masa itu, ada nilai sosial tertentu yang melekat pada sepeda ini,” katanya.

Bentuknya yang ikonik menjadikan Penny Farthing sebagai simbol status sosial di Eropa dan Amerika, sekaligus memicu tren penggunaan sepeda secara luas.

Sebelumnya, sepeda klasik era 1870-an ini menjadi magnet bagi warga yang antusias untuk berfoto dan bahkan mencoba sensasi mengendarainya di CFD Sudirman-Thamrin. Keberadaan sepeda beroda depan raksasa ini terlihat sangat mencolok dan mudah dikenali dari kejauhan.