JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah menyoroti perlunya sinkronisasi regulasi antara pusat dan daerah guna memastikan kelancaran arus investasi yang krusial bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Supratman Andi Agtas, dalam acara Halalbihalal PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) bersama pemerintah dan pemangku kepentingan di The St. Regis Jakarta, Selasa (21/4/2026).
“Pemerintah sangat terbuka terhadap investasi. Sebagai kementerian yang membidangi hukum, tugas kami adalah memastikan regulasi yang ada selaras dan mendukung kelancaran investasi, baik di pusat maupun di daerah,” ujar Supratman dalam keterangan pers DSLNG, Rabu (22/4/2026). Ia menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha merupakan faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Pertemuan yang digagas oleh DSLNG ini dipandang sebagai wadah strategis untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para investor. Supratman juga mengapresiasi kontribusi nyata DSLNG dalam pengembangan sektor minyak dan gas di Sulawesi Tengah.
“Ini adalah bentuk nyata kolaborasi investasi yang memberikan dampak positif bagi daerah,” katanya. “Sangat berterima kasih kepada Mitsubishi Corporation dan Korea Gas Corporation bisa terus berkolaborasi dengan Pertamina dan Medco. Ini juga momentum berkolaborasi antara Pemerintah Pusat dan daerah serta pihak investasi,” tambahnya.
President Director DSLNG, Yuichi Sakaguchi, mewakili manajemen menyambut para tamu undangan dan menegaskan kembali pentingnya menjaga hubungan baik dengan seluruh pemangku kepentingan. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya mendorong koordinasi antara pemerintah dan pelaku industri dalam mendukung pembangunan sektor energi.
Donggi Senoro dan Peran Vital Kawasan Timur
Di tengah upaya menjaga iklim investasi, kinerja sektor migas di Indonesia timur menjadi salah satu penopang penting, termasuk melalui keberadaan Donggi Senoro LNG. Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina mencatatkan produksi minyak dan gas (migas) sebesar 208.500 barrel setara minyak per hari (mboepd) pada tahun 2025. Angka ini melampaui target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) yang ditetapkan, mencapai 100,4 persen.
Realisasi lifting migas juga menunjukkan kinerja positif, mencapai 171.000 mboepd atau 102,9 persen dari target perusahaan. Direktur Regional Indonesia Timur, Ruby Mulyawan, menyatakan bahwa capaian ini menjadi modal berharga untuk meningkatkan produksi di masa mendatang.
“Untuk mencapai target tersebut, Regional Indonesia Timur terus melakukan berbagai upaya, seperti program kerja workover, pemboran sumur pengembangan maupun sumur eksplorasi untuk menambah resources, serta Enhanced Oil Recovery seperti CO2 flood yang saat ini sedang dikembangkan di Lapangan Sukowati,” ujar Ruby dalam keterangan tertulis, Selasa (17/3/2026).
Sepanjang tahun 2025, Regional Indonesia Timur tercatat melakukan 6 pengeboran sumur eksplorasi, 12 pengeboran sumur pengembangan, serta 17 kegiatan workover sumur. Selain itu, perusahaan juga giat mendorong penerapan teknologi digital guna meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menjaga keberlanjutan produksi migas.
Produksi Migas Naik, Kewaspadaan Terhadap Risiko Global Tetap Penting
Di sisi lain, aspek keselamatan kerja dan lingkungan atau health, safety, security, and environment (HSSE) tetap menjadi prioritas utama dalam setiap operasional perusahaan.
“Penerapan HSSE menjadi fokus utama baik di kantor regional maupun di seluruh zona operasi,” kata Ruby.
Komisaris Pertamina EP Cepu, Tri Winarno, menilai kinerja produksi tahun 2025 cukup positif. Namun, ia menekankan perlunya perusahaan untuk tetap mewaspadai dinamika global yang dapat memengaruhi industri migas.
“Kinerja 2025 cukup baik, baik dari sisi produksi maupun lifting,” ujarnya.
“Namun untuk 2026 kita perlu memperhatikan kondisi geopolitik global yang tentu akan berpengaruh pada industri migas sehingga strategi yang ditetapkan harus tepat,” lanjut Tri.
Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina mengelola wilayah kerja yang tersebar luas, meliputi Jawa Timur, Sulawesi, Maluku, hingga Papua, mencakup aset lepas pantai (offshore) maupun darat (onshore). Kawasan ini juga memiliki satu aset hilir strategis, yaitu Donggi Senoro LNG, yang memegang peranan penting sebagai salah satu proyek gas vital di Indonesia timur.






