— JAKARTA, Kompas.com – Perubahan metodologi dalam penyusunan indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai memicu guncangan pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps, bahkan hingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Investor ritel dihadapkan pada tantangan untuk lebih cermat dalam memilih instrumen investasi di tengah dinamika pasar yang baru.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai bahwa penyesuaian kriteria indeks seperti IDX30, LQ45, dan IDX80 telah menggeser lanskap investasi secara fundamental. Jika sebelumnya seleksi saham lebih banyak bertumpu pada kapitalisasi pasar, kini fokusnya bergeser pada kualitas likuiditas, tingkat free float (saham yang beredar bebas di publik), serta distribusi kepemilikan melalui aturan High Shareholding Concentration (HSC).

“Perubahan kriteria indeks BEI pada IDX30, LQ45, dan IDX80 yang kini memasukkan syarat minimum free float, jumlah hari transaksi, serta aturan HSC pada dasarnya menggeser fokus seleksi dari sekadar kapitalisasi pasar menjadi kualitas likuiditas dan keterbukaan saham di publik,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Jumat (24/4/2026).

Dampaknya, komposisi indeks berpotensi mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Emiten yang secara fundamental besar namun sahamnya “terkunci” pada pemegang mayoritas akan lebih rentan keluar dari indeks. Sebaliknya, saham dengan distribusi kepemilikan yang lebih merata dan aktif diperdagangkan berpeluang masuk.

Fenomena penurunan harga pada saham kategori HSC seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang anjlok 9,78 persen dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang turun 4,26 persen menggambarkan kekhawatiran pasar terhadap potensi eksklusi dari indeks. “Bagi investor itu berarti strategi tidak bisa lagi hanya berbasis big caps, tetapi lebih selektif melihat likuiditas riil dan struktur kepemilikan,” papar Hendra.

Sementara itu, tekanan pada saham perbankan besar pada sesi perdagangan Jumat ini, seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang terkoreksi 2,16 persen, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang minus 5,45 persen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang turun 2,53 persen, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang turun 3,36 persen, menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap perubahan metodologi indeks. “Mengingat saham-saham ini selama ini menjadi tulang punggung indeks dan portofolio investor institusi,” jelasnya.

Potensi Peningkatan Kualitas Indeks Jangka Panjang

Di sisi lain, kebijakan tersebut dinilai secara jangka menengah hingga panjang berpotensi meningkatkan kualitas indeks. Hal ini karena hanya saham dengan likuiditas tinggi, free float memadai, dan distribusi kepemilikan yang sehat yang akan bertahan. Indeks menjadi lebih investable dan mencerminkan kondisi pasar yang lebih realistis bagi investor besar, termasuk dana asing.

Namun, dalam jangka pendek, risiko volatilitas yang meningkat tidak dapat dihindari. Hal ini terutama disebabkan oleh potensi forced rebalancing dari reksa dana indeks dan ETF yang wajib menyesuaikan portofolionya dengan komposisi baru.

Jika saham unggulan keluar dari indeks, maka akan terjadi tekanan jual mekanis atau technical selling. Hal ini bukan disebabkan oleh memburuknya fundamental, melainkan karena aturan. Fenomena ini bisa menciptakan dislokasi harga sementara, bahkan pada saham-saham berkualitas.

IHSG Rentan Uji Support di Tengah Ketidakpastian

Dalam konteks pergerakan pasar secara keseluruhan, Hendra memandang IHSG saat ini berada dalam fase sensitif. Tekanan dari proses rebalancing dan penyesuaian portofolio berpotensi membuat indeks rentan menguji area support di kisaran 7022-7119.

“Level ini menjadi krusial karena jika ditembus dengan volume besar, maka risiko pelemahan lanjutan akan terbuka, terutama di tengah dominasi arus dana pasif dan masih terbatasnya aliran dana asing. Sebaliknya, jika mampu bertahan, area tersebut bisa menjadi titik konsolidasi sehat sebelum indeks kembali mencari arah baru,” tukasnya.

Strategi Investor Ritel dalam Menghadapi Perubahan

Bagi investor, dampak nyata dari perubahan metodologi indeks adalah potensi terjadinya rebalancing besar-besaran. Hal ini dapat memicu pergerakan harga ekstrem dalam waktu singkat, terutama menjelang dan setelah periode evaluasi indeks.

Investor ritel maupun institusi perlu lebih proaktif mengantisipasi saham mana yang berisiko keluar atau masuk indeks, mengingat aliran dana pasif kini semakin dominan di pasar.

Strategi yang dapat diambil adalah memanfaatkan potensi dislokasi harga akibat aksi jual paksa sebagai peluang akumulasi pada saham fundamental kuat yang tertekan secara teknikal. Hindari pula saham yang berisiko tinggi terkena eksklusi tanpa dukungan likuiditas yang cukup.

Ke depan, pendekatan investasi akan semakin bergeser ke arah kombinasi antara analisis fundamental, likuiditas, dan struktur kepemilikan, bukan hanya kapitalisasi pasar semata. Investor yang adaptif terhadap perubahan metodologi indeks akan memiliki keunggulan dalam membaca arah arus dana di pasar.

Rekomendasi Saham untuk Investor Ritel

Investment Specialist PT Korea Investment And Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, mencatat penurunan IHSG tidak terlepas dari tekanan pada saham-saham tertentu yang berpotensi mengalami arus keluar dana.

Terutama, saham BREN dan DSSA menghadapi potensi outflow setelah tidak lagi memenuhi kriteria untuk tetap berada dalam indeks LQ45. Hal ini seiring dengan diberlakukannya aturan baru yang mensyaratkan saham tidak masuk dalam kategori HSC untuk dapat menjadi konstituen indeks LQ45, IDX30, maupun IDX80.

“Ini tidak lepas dari BREN dan DSSA yang akan menghadapi outflow dari didepaknya dua emiten tersebut dari LQ45 seiring diberlakukannya syarat tidak tercantum dalam HSC list untuk indeks LQ45, IDX30 & IDX80,” ungkap Faris.

Adapun saham yang direkomendasikan KISI untuk trading Jumat ini antara lain PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS). Saham ini dinilai menarik untuk strategi buy on weakness, dengan area masuk di kisaran Rp 1.375 hingga Rp 1.400. Target harga ditetapkan di Rp 1.480-Rp 1.530, dengan batas risiko atau cut loss apabila bergerak di bawah 1.335.

Sementara itu, saham PT Avia Avian Tbk (AVIA) juga direkomendasikan untuk trading buy. Area entry berada pada rentang Rp 380-394, dengan potensi kenaikan menuju target Rp 412-Rp 420. Batas pengendalian risiko disarankan di bawah level Rp 370.

Kondisi IHSG di Sesi I

Untuk diketahui, IHSG menutup sesi I perdagangan Jumat dengan penurunan tajam. Indeks tercatat turun 225,752 poin atau 3,06 persen ke area 7.152,853. Sejak dibuka di angka 7.378,072, indeks langsung bergerak di zona merah dan terus melanjutkan tren penurunan hingga menyentuh angka terendah di 7.147,579. Sementara itu, level tertinggi yang sempat dicapai adalah 7.383,400.

Dalam perdagangan tersebut, sebanyak 642 saham terkoreksi, jauh melampaui 90 saham yang menguat, sementara 82 saham tidak mengalami perubahan.

Aktivitas perdagangan terpantau tinggi dengan volume mencapai 28,638 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 13,243 triliun, serta frekuensi transaksi 1,66 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat turun menjadi Rp 12.805,516 triliun.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.