WASHINGTON DC – Upaya pembersihan ranjau laut yang diduga ditanam Iran di Selat Hormuz diperkirakan memakan waktu hingga enam bulan. Estimasi tersebut disampaikan oleh Pentagon kepada Kongres Amerika Serikat pada Selasa (21/4/2026), seperti dilaporkan The Washington Post mengutip tiga pejabat yang mengetahui diskusi tersebut. Angka ini memicu kekhawatiran dan frustrasi di kalangan anggota Kongres dari kedua partai.
Penilaian Pentagon semakin memperkuat kekhawatiran bahwa harga minyak dan bensin di Amerika Serikat akan tetap tinggi, bahkan setelah kesepakatan damai tercapai. Rata-rata harga bensin di AS saat ini tercatat mencapai 4,02 dollar AS per galon, melonjak dari 2,98 dollar AS sebelum perang dimulai pada Februari.
Presiden Donald Trump sendiri memberikan pernyataan yang berubah-ubah terkait harga energi. Awalnya, ia menyebut harga bensin “bisa tetap sama atau mungkin sedikit lebih tinggi” menjelang pemilu paruh waktu, namun kemudian berjanji harga akan menjadi “jauh lebih rendah” sebelum pemilu. Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperkirakan harga bensin baru akan kembali ke kisaran 3 dollar AS per galon pada akhir September.
Ranjau Iran Sulit Dideteksi
Para pejabat AS mengungkapkan dugaan bahwa Iran telah menempatkan setidaknya 20 ranjau di sekitar Selat Hormuz. Sebagian ranjau tersebut diduga dipasang menggunakan teknologi GPS dari jarak jauh, sehingga menyulitkan upaya deteksi oleh militer AS. Ranjau lainnya diyakini dipasang menggunakan kapal kecil oleh pasukan Iran.
Namun, Pentagon enggan berkomentar lebih jauh mengenai detail penilaian tersebut. Juru bicara Pentagon Sean Parnell hanya menyatakan bahwa informasi yang beredar “tidak akurat” dan menuduh media lebih mementingkan agenda daripada kebenaran.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas Konflik
Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, telah menjadi salah satu titik paling krusial dalam konflik yang terjadi. Iran bahkan mengklaim telah menutup selat tersebut dan menyerang sejumlah kapal, sebagai upaya menekan ekonomi global dan pemerintah AS.
Sebelum konflik, jalur ini menjadi urat nadi distribusi energi bagi negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan China. Gangguan di kawasan ini dipastikan berdampak langsung pada rantai pasok global.
Presiden Trump menuntut Iran untuk menghentikan program nuklirnya, menyerahkan uranium yang telah diperkaya, dan membuka kembali selat tersebut. Ia juga mengancam akan meningkatkan aksi militer jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi. Di sisi lain, Iran menyatakan tidak akan melanjutkan negosiasi selama AS masih memberlakukan blokade laut yang menekan ekonominya.
Operasi Militer
Iran disebut mulai menempatkan ranjau sejak Maret, seiring meningkatnya serangan dari AS dan Israel. Trump telah memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi “pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya” jika tidak mencabut ranjau tersebut.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan, pasukan AS menghancurkan kapal-kapal Iran dengan “presisi tanpa ampun” dan menegaskan bahwa AS “tidak akan membiarkan Teheran menyandera Selat Hormuz.” Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi membantah negaranya memasang ranjau. Laporan lain menyebutkan Iran kemungkinan kesulitan menemukan kembali semua ranjau yang telah dipasang.
Risiko Jangka Panjang
Ahli diplomasi Iran dari Columbia University, Richard Nephew, menilai estimasi enam bulan untuk pembersihan ranjau akan mengguncang pasar minyak dan gas. Ia menekankan bahwa perusahaan asuransi, pemilik kapal, dan kapten kapal akan sangat berhati-hati.
“Anda tidak akan melihat banyak pihak yang mau mengambil risiko itu,” ujarnya. Menurutnya, keberadaan ranjau mungkin tidak sepenuhnya menghentikan lalu lintas, tetapi gangguan sebagian saja sudah cukup menimbulkan dampak besar. Jalur pelayaran yang tidak sepenuhnya aman bisa mengganggu distribusi energi global secara signifikan.






