Akses.co.id — JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) membantah keras beredarnya isu di media sosial yang menyebut Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia hanya cukup untuk tiga bulan ke depan dan berpotensi membuat nilai tukar rupiah melemah hingga Rp 20.000 per dolar Amerika Serikat. Informasi tersebut dipastikan sebagai hoaks.
Beredarnya klaim palsu ini terlihat dalam unggahan di akun TikTok @inves pada Kamis (23/4/2026). Tangkapan layar yang dibagikan menampilkan foto Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan narasi yang mengkhawatirkan, “APBN RI Hanya Cukup untuk 3 Bulan, Rupiah Bisa Sentuh Rp 20.000”. Hingga Jumat (24/4/2026) pagi, unggahan tersebut telah ditonton lebih dari 111 ribu kali dan memicu ratusan komentar dari warganet.
Kemenkeu Tegaskan APBN Tetap Sehat
Menanggapi kehebohan tersebut, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Deni Surjantono, secara tegas menyatakan bahwa informasi tersebut tidak benar.
“Itu hoaks,” ujar Deni saat dikonfirmasi Kompas.com pada Jumat (24/4/2026). Ia menekankan bahwa kondisi APBN saat ini tetap terjaga dan dikelola dengan prinsip kehati-hatian.
“APBN tetap dikelola secara prudent, fleksibel, dan responsif dalam merespons setiap dinamika, sehingga APBN tetap sehat,” jelas Deni.
Sebelumnya, Kemenkeu juga telah menyebarkan bantahan resmi melalui situs dan akun media sosialnya. Melalui unggahan di Instagram @ppid.kemenkeu pada Kamis, Kemenkeu menegaskan bahwa klaim tersebut tidak benar dan mengimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap penyebaran berita bohong.
“Berita yang beredar mengenai APBN RI hanya cukup untuk 3 bulan dan rupiah bisa menyentuh Rp 20.000 per dollar AS merupakan berita hoaks. Masyarakat diharapkan waspada terhadap penyebaran berita bohong yang mengatasnamakan Menteri Keuangan Purbaya,” tulis Kemenkeu.
Pelemahan Rupiah Dipicu Ketidakpastian Global
Di sisi lain, nilai tukar rupiah memang tercatat mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Pada Kamis (23/4/2026), rupiah sempat menyentuh level Rp 17.300 per dolar AS. Hingga pukul 09.35 WIB pada Jumat (24/4/2026), rupiah berada di posisi Rp 17.310 per dolar AS, melemah sekitar 0,74 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp 17.181 per dolar AS.
Menanggapi kondisi pelemahan mata uang Garuda ini, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menjelaskan bahwa faktor utamanya adalah meningkatnya ketidakpastian global yang turut menekan mata uang di kawasan.
“Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date sebesar 3,54 persen,” ujar Destry, dikutip dari Kompas.com, Kamis.
Ikuti Akses.co.id
