Akses.co.id — Dr. Grandprix Thomryes Marth Kadja, seorang ilmuwan muda Institut Teknologi Bandung (ITB), telah meraih gelar Doktor pada usia 24 tahun dan berkontribusi signifikan di dunia akademik. Kiprahnya di bidang nanomaterial membawanya masuk dalam daftar Top 2% World Scientist versi Elsevier dan Stanford University. Perjalanan akademiknya yang cepat ini berakar kuat pada ketertarikan mendalam terhadap ilmu kimia sejak bangku sekolah, yang kemudian ia tekuni hingga jenjang doktoral dan profesi insinyur.
Saat ini, Grandprix tidak hanya aktif mengajar tetapi juga menjabat sebagai Deputi Direktur Bidang Pengembangan Pusat-Pusat Penelitian dan Pusat Unggulan IPTEK (PUI) di Direktorat Riset dan Inovasi ITB. Ia menegaskan bahwa penghargaan yang diraihnya bukanlah tujuan utama.
“Penghargaan itu sebenarnya hanyalah bonus dari konsistensi dalam meneliti dan menulis,”
ujarnya, sebagaimana dikutip dari laman ITB pada Minggu (26/4/2026). Di balik publikasi bereputasi internasional dan penghargaan Achmad Bakrie ke-20 yang diterimanya, terdapat fondasi kuat yang ia bangun sejak kecil: kebiasaan membaca buku dan menulis.
Menulis sebagai Manifestasi Membaca
Dalam rangka memperingati Hari Buku Sedunia yang jatuh pada 23 April, Grandprix merefleksikan peran krusial buku dalam kariernya sebagai ilmuwan. Ia berpandangan bahwa kemampuan seorang peneliti untuk memublikasikan riset di kancah internasional sangat bergantung pada seberapa banyak informasi yang diserap dari bacaan.
“Menulis itu manifestasi dari membaca. Kita tidak bisa menyusun gagasan tanpa terlebih dahulu memahami berbagai pemikiran dari apa yang kita baca,”
ungkapnya. Kebiasaan melahap beragam literatur sejak muda, mulai dari buku pelajaran, sains populer, hingga komik, telah membentuk rasa ingin tahunya serta memperkaya cara berpikirnya.
Logika dan Kedalaman Berpikir di Era Digital
Di tengah dominasi informasi singkat dan cepat di era digital, Grandprix menekankan peran buku dalam membangun pemahaman yang utuh. Melalui buku, pembaca dilatih untuk memahami alur logika, hubungan sebab-akibat, serta mampu membedakan antara argumen dan opini.
“Semakin banyak kita membaca, semakin kita sadar bahwa pengetahuan itu selalu membuka ruang untuk pertanyaan dan pengembangan baru,”
jelasnya. Proses ini memungkinkan seseorang mengolah dan mensintesis berbagai gagasan menjadi pemahaman baru, sekaligus memperkuat kemampuan analitis yang menjadi ciri khas seorang ilmuwan. Berbeda dengan informasi singkat yang cenderung menyentuh permukaan, buku melatih fokus dan kesabaran untuk memahami persoalan secara menyeluruh.
“Buku mengajak kita masuk ke kedalaman pemikiran penulis, sementara informasi singkat sering kali hanya bersifat permukaan,”
tuturnya. Ia menambahkan bahwa membaca buku juga melatih fokus dan kesabaran dalam memahami suatu persoalan secara menyeluruh.
Dorongan untuk Mahasiswa
Sebagai seorang pendidik, Grandprix menggarisbawahi bahwa budaya membaca merupakan denyut nadi lingkungan akademik yang sehat. Ia mendorong mahasiswa untuk tidak hanya membaca demi memenuhi tugas, melainkan menjadikannya kebutuhan untuk membangun argumen yang berbasis data. Di tengah derasnya arus informasi, pelestarian budaya membaca menjadi semakin penting.
Grandprix turut membagikan beberapa rekomendasi buku yang membentuk perspektifnya, di antaranya adalah The Art of War karya Sun Tzu, Hidden Potential karya Adam Grant, Ikigai karya Hector Garcia & Francesc Miralles, dan Atomic Habits karya James Clear.
“Teruslah membaca secara mendalam. Kemampuan untuk fokus dan berpikir dalam justru menjadi kekuatan yang langka dan berharga di masa kini,”
pesannya kepada generasi muda.
Ikuti Akses.co.id
