— Bangkalan kembali diguncang fenomena angin puting beliung pada Kamis (23/4/2026). Kali ini, pusaran angin tersebut terlihat berputar di area persawahan warga Desa Buluh, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, bahkan nyaris mendekati kawasan Universitas Trunojoyo Madura (UTM).

Kejadian ini menyusul fenomena serupa yang terjadi sehari sebelumnya, Rabu (22/4/2026), di Selat Madura. Saat itu, pusaran angin bahkan menyentuh permukaan air laut, memicu gelombang yang lebih kencang.

Salah seorang mahasiswa UTM, Rofii, mengaku menyaksikan langsung kejadian tersebut. Meskipun pusaran angin tidak sampai masuk ke area kampus, titik pusatnya berada di lahan kosong yang berdekatan. Fenomena alam ini sempat menjadi tontonan para mahasiswa.

“Tadi, kita di lantai tiga semua bisa lihat angin itu berputar di sawah. Kami juga khawatir jika angin itu bergerak lebih dekat tapi untungnya menjauh dari kampus,” ujar Rofii, Kamis.

Penyebab Cuaca Ekstrem

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangkalan, M Zainul Qomar, menjelaskan bahwa angin puting beliung merupakan dampak dari tumpukan awan cumulonimbus yang menggantung di langit Bangkalan.

Awan tebal yang menjulang tinggi ini, lanjut Zainul, memicu terjadinya cuaca ekstrem. “Salah satu bentuknya ya seperti angin puting beliung itu. Biasanya juga di daerah sekitar lokasi tersebut juga disertai hujan,” ungkapnya.

Menurut Zainul, pusaran angin ini terbentuk akibat adanya perbedaan massa suhu antara permukaan tanah dan lapisan udara di atasnya, yang kemudian menciptakan pergerakan angin.

[video.1]

Tak Ada Korban Jiwa, Kerusakan Pada Padi

Zainul Qomar memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa angin puting beliung kali ini. Pusaran angin tersebut terjadi di tengah lahan kosong persawahan warga.

“Untuk kerusakan di pemukiman tidak ada, hanya saja padi warga rusak akibat pusaran angin tersebut,” jelasnya.

BPBD Kabupaten Bangkalan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada saat terjadi cuaca ekstrem, termasuk angin puting beliung. Fenomena ini biasanya berlangsung antara 5 hingga 30 menit dan berpotensi berpindah ke lokasi lain.

“Kami juga meminta masyarakat tidak mendekati area pusaran dan segera menjauh dari titik tersebut,” tegas Zainul.