Akses.co.id — TANGERANG SELATAN, CNN INDONESIA — Setelah lebih dari tiga dekade lekat dengan nuansa distorsi keras bersama band Purgatory, gitaris Lutfi Armia kini membuka lembaran baru kariernya melalui proyek solo Armia and the Shadows. Langkah ini bukan berarti meninggalkan akar musiknya, melainkan sebuah perluasan identitas kreatif di tengah masa hiatus Purgatory.
Dorongan untuk terus berkarya tak terbendung, mendorong Lutfi untuk mendefinisikan ulang dirinya sebagai pencerita dalam balutan musik yang lebih sinematik. “Bermusik adalah cara saya bernapas. Saat Purgatory sedang dalam fase jeda, energi itu tidak bisa berhenti. Armia And The Shadows lahir bukan sekadar pengisi kekosongan, tapi fase baru yang memang harus lahir,” ujar Lutfi dalam keterangan tertulis, Jumat (24/4/2026).
Bagi Lutfi, ini bukanlah perubahan arah, melainkan ekspansi identitas. Fondasi yang dibangun bersama Purgatory tetap kokoh, namun kini berkembang menjadi sesuatu yang lebih bebas dan mendalam. “Apa yang saya bangun di Purgatory tetap menjadi fondasi, tapi sekarang berkembang menjadi sesuatu yang lebih bebas dan lebih dalam,” jelasnya.
Momentum di Film OZORA dan Lahirnya “Hidup Setara”
Evolusi ini menemukan momentumnya ketika Armia and the Shadows dipercaya menggarap original soundtrack film OZORA: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel, yang saat ini tayang di Netflix. Bersama Doni Akbar, Lutfi menciptakan single “Hidup Setara”. Lagu ini tidak hanya berfungsi sebagai pengiring film, namun juga menerjemahkan emosi dan isu sosial yang diangkat ke dalam sebuah karya audio.
Kedekatan personal Lutfi dengan isu yang diangkat film menjadi bahan bakar utama proses kreatif tersebut. “Kasus ini bukan sekadar cerita. Saya mengikuti langsung bagaimana ketimpangan itu terjadi. Rasa marah, kecewa, dan sedih itu nyata, dan itu yang menjadi bahan bakar utama kami dalam menyusun musiknya,” ungkap Lutfi.
Dengan akses langsung terhadap naskah film, pendekatan yang diambil pun semakin mendalam, menggabungkan realitas sosial dengan interpretasi musikal yang kaya akan emosi.
Fase Paling Personal: Menjadi Vokalis dan Penulis Lirik
Berbeda dari perjalanannya bersama Purgatory, Armia and the Shadows membawa Lutfi ke wilayah yang lebih personal. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya terlibat dalam komposisi, tetapi juga mengambil peran sebagai vokalis sekaligus penulis lirik. “Di Purgatory saya tidak pernah menulis lirik. Tapi di ANTS, setiap kata lahir dari pengalaman hidup kami sendiri,” ungkapnya.
Tantangan lain datang dari arah yang tak terduga. Dalam single “Hidup Setara”, Lutfi untuk pertama kalinya harus membawakan lagu dengan genre rap. “Saya harus melakukan rap di lagu ini, sesuatu yang belum pernah saya lakukan seumur hidup. Di titik itu, saya merasa batasan saya sebagai musisi benar-benar runtuh,” sambungnya.
Kolaborasi Strategis dengan Anggy Umbara dan Sara Wijayanto
Kedalaman karya Armia and the Shadows semakin diperkuat melalui kolaborasi dengan sutradara Anggy Umbara dan Sara Wijayanto. Keterlibatan Anggy memastikan musik dan visual bergerak dalam satu frekuensi yang sama, menciptakan harmoni antara audio dan visual. Sementara itu, Sara Wijayanto menghadirkan dimensi emosional dan spiritual yang memperkaya makna lagu.
“Ini adalah milestone besar bagi kami. Kolaborasi ini membuka perspektif baru, bahwa musik tidak hanya berdiri sendiri, tapi bisa menjadi bagian dari narasi yang lebih besar,” kata Lutfi.
Langkah ke dunia sinema sebenarnya telah dimulai lebih awal melalui karya “Ruang Semu (My Drowning Soul)”, yang masuk dalam soundtrack film Gundik. Kedua karya ini menjadi penanda bahwa Armia and the Shadows bukan sekadar eksperimen, melainkan sebuah arah baru yang semakin terdefinisi dalam perjalanan karier Lutfi Armia.
Ikuti Akses.co.id
