— Bagi sebagian orang, pertanyaan mengenai konsumsi telur bagi penderita kolesterol tinggi kerap muncul. Telur, yang dikenal sebagai sumber protein praktis dan terjangkau, menjadi menu favorit dalam berbagai hidangan, mulai dari sarapan hingga lauk sehari-hari. Namun, kekhawatiran akan kandungan kolesterolnya membuat banyak penderita kolesterol tinggi ragu untuk menikmatinya.

Kabar baiknya, penderita kolesterol tetap dapat mengonsumsi telur. Kuncinya terletak pada pengelolaan porsi, metode memasak, dan pemilihan pendamping makanan yang tepat. Dilansir Kompas dari Times of India, berikut adalah panduan untuk menikmati telur secara lebih aman tanpa mengorbankan cita rasa.

Konsumsi Telur Utuh Lebih Disarankan

Banyak yang beranggapan bahwa hanya mengonsumsi putih telur lebih aman bagi penderita kolesterol. Namun, anggapan ini perlu diluruskan. Kuning telur ternyata kaya akan nutrisi penting. Putih telur memang unggul dalam protein berkualitas tinggi, sementara kuning telur mengandung vitamin A, D, B12, kolin, lemak sehat, serta antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan mata dan otak.

Selama tidak ada anjuran medis spesifik dari dokter untuk membatasi konsumsi kuning telur, mengonsumsi telur utuh justru dapat memberikan asupan gizi yang lebih lengkap. Selain itu, kombinasi nutrisi dalam telur utuh juga diklaim dapat memberikan rasa kenyang yang lebih tahan lama.

Pilih Metode Memasak Rendah Lemak

Cara pengolahan telur sangat memengaruhi nilai kesehatannya. Metode memasak seperti merebus, mengukus, atau membuat telur poached menjadi pilihan yang lebih baik karena tidak menambah asupan lemak jenuh secara signifikan.

Sebaliknya, menggoreng telur dengan minyak berlebih, mentega, atau memasaknya bersama bahan-bahan tinggi lemak dapat meningkatkan asupan lemak jenuh. Kondisi ini tentu kurang ideal bagi penderita kolesterol.

Padukan dengan Makanan Tinggi Serat

Untuk menciptakan hidangan telur yang lebih seimbang, padukanlah dengan sumber serat. Sayuran seperti bayam, tomat, brokoli, atau pilihan karbohidrat seperti roti gandum utuh dapat menjadi pendamping yang baik.

Serat berperan penting dalam mendukung kesehatan pencernaan dan diklaim dapat membantu mengontrol kadar kolesterol dalam tubuh. Contoh kombinasi sehat yang bisa dicoba adalah telur rebus dengan salad sayur, atau omelet sayur yang disajikan bersama roti gandum.

Perhatikan Pendamping Makanan

Terkadang, masalah bukan terletak pada telur itu sendiri, melainkan pada makanan yang menyertainya. Telur yang disajikan bersama daging olahan, keju dalam jumlah berlebih, roti putih, atau dimasak dengan banyak mentega dapat secara signifikan meningkatkan asupan lemak jenuh dan natrium.

Sebagai alternatif, para ahli menyarankan untuk menggunakan rempah-rempah sebagai penambah rasa. Pilihlah roti gandum sebagai pengganti roti putih dan batasi penggunaan bahan-bahan olahan yang tinggi lemak.

Pertimbangkan Waktu Konsumsi

Selain jenis makanan dan cara pengolahan, waktu konsumsi telur juga dapat dipertimbangkan. Sarapan atau makan siang seringkali dianggap sebagai waktu yang ideal untuk menikmati hidangan telur.

Pada waktu-waktu tersebut, tubuh cenderung lebih aktif dalam mencerna makanan dan memanfaatkan energi yang dihasilkan. Sementara itu, mengonsumsi makanan berat, termasuk menu berbasis telur yang kaya lemak, terlalu larut malam bagi sebagian orang dapat memicu rasa begah atau bahkan gangguan pencernaan.