Sains

Puncak Hujan Meteor Lyrid 23 April 2026: Cara Melihat dan Waktu Terbaik di Indonesia

Advertisement

Fenomena astronomi tahunan, hujan meteor Lyrid, akan mencapai puncaknya pada hari ini, Kamis, 23 April 2026. Peristiwa ini muncul setiap tahun antara 15 hingga 29 April, memberikan kesempatan bagi para pengamat langit di seluruh Indonesia untuk menyaksikan jejak debu komet Thatcher.

Astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo, menjelaskan bahwa meskipun intensitas hujan meteor Lyrid tidak selalu deras, fenomena ini sangat layak diamati karena visibilitasnya yang baik di Indonesia. “Intensitasnya maksimum 18 meteor per jam, namun yang bisa diidentifikasi mata manusia kemungkinan berkisar 10-15 meteor per jam,” ujar Marufin kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).

Waktu Terbaik dan Cara Mengamati

Kunci utama dalam mengamati hujan meteor Lyrid adalah waktu. Fenomena ini tidak hadir sepanjang malam, melainkan mengikuti terbitnya rasi bintang Lyra, yang merupakan titik asal (radiant) meteor tersebut. Hujan meteor Lyrid dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia sejak tengah malam hingga menjelang Subuh.

“Hujan meteor Lyrid dapat disaksikan pada tengah malam hingga dinihari (subuh). Yakni sejak rasi bintang Lyra mulai terbit di langit bagian timur hingga saat langit mulai bertambah terang oleh sapuan cahaya fajar jelang Matahari terbit,” jelas Marufin.

Untuk cara mengamatinya, Anda tidak memerlukan teleskop atau alat bantu optik lainnya. Cukup arahkan pandangan ke langit sesuai dengan waktu pengamatan. “Caranya cukup arahkan pandangan ke langit bagian utara (jika menjelang waktu Subuh) atau langit bagian timur (jika tengah malam),” tambahnya.

Marufin menekankan bahwa pengamatan meteor membutuhkan medan pandang yang lebar, sehingga mengandalkan ketajaman mata lebih disarankan. Jika memang harus menggunakan alat bantu, kamera dengan sudut pandang lebar atau sky camera lebih direkomendasikan.

Advertisement

Kondisi Langit yang Menguntungkan

Agar pengamatan maksimal, Marufin mengatakan bahwa lokasi yang gelap dan minim polusi cahaya sangat krusial. Tantangan terbesar dalam melihat hujan meteor adalah polusi cahaya dari lampu kota maupun cahaya Bulan.

“Maka Jakarta dan Jabodetabek pada umumnya tidak memungkinkan pengamatan ini karena langitnya sudah terpolusi cahaya tingkat parah,” kata dia. Di wilayah dengan polusi cahaya tinggi seperti Jakarta, hanya objek langit yang sangat terang, seperti Jupiter (magnitudo -1), yang dapat terlihat. Sementara itu, meteor Lyrid umumnya memiliki magnitudo +2 atau +3, kecuali jika terjadi meteor terang.

Tahun ini, kondisi alam mendukung para pengamat. Bulan berada dalam fase sabit muda dengan pencahayaan hanya sekitar 25 persen. Hal ini sangat menguntungkan karena Bulan sudah terbenam sebelum tengah malam, sehingga tidak mengganggu pengamatan saat hujan meteor diprakirakan muncul.

Masyarakat diimbau untuk mencari lokasi pengamatan di area pinggiran kota, pantai, atau dataran tinggi. Berikan waktu sekitar 20 menit bagi mata untuk beradaptasi dengan kegelapan agar kilatan meteor yang redup dapat tertangkap dengan jelas.

Advertisement