MANOKWARI, KOMPAS.com — Puluhan siswa kelas X SMK Taruna Nusantara Kasuari, Manokwari, Papua Barat, diduga menjadi korban penganiayaan oleh seniornya pada Rabu (22/4/2026) malam. Insiden tersebut mengakibatkan sejumlah siswa mengalami luka, bahkan satu di antaranya dilaporkan mengalami patah tulang.
AS, salah satu siswa kelas X yang mengaku menjadi korban, menceritakan kronologi kejadian. “Kita lagi belajar persiapan ulangan tiba-tiba sekitar 40 orang masuk. Saya kena pukul awal dari belakang kepala lalu dihajar pakai doka di depan,” ujarnya.
Menurut AS, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 08.00 WIT. Ia dan sekitar 10 siswa lainnya tengah belajar mandiri di dalam kelas ketika puluhan siswa senior memasuki ruangan dan melakukan pemukulan. AS mengaku tidak mengetahui kesalahan apa yang diperbuat hingga para siswa diminta meletakkan buku sebelum dipukul.
Orang Tua Siswa Mengamuk, Terobos Pagar Sekolah
Mengetahui anaknya menjadi korban, puluhan orang tua siswa mendatangi sekolah setelah sebelumnya membuat laporan polisi. Mereka mendatangi kompleks Balai Latihan Kerja (BLK) Sanggeng, Manokwari, lokasi SMK Taruna Nusantara Kasuari berada. Pihak sekolah sempat menutup pagar gerbang, namun sejumlah orang tua yang tidak terima perlakuan terhadap anak-anak mereka akhirnya menerobos masuk.
“Pendidikan karakter seperti apa begini, kita punya darah daging diperlakukan begini,” ujar salah satu orang tua murid dengan nada kesal saat menerobos pagar sekolah.
Para orang tua berharap agar sistem pembinaan di SMK Taruna Nusantara Kasuari dapat diperbaiki sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.
Sekolah Keluarkan 60 Siswa Terduga Pelaku
Ketua Paguyuban Siswa Angkatan V, Markus Waran, menyayangkan insiden tersebut. Ia secara khusus mempertanyakan penggunaan benda seperti doka atau besi dalam aksi pemukulan yang terjadi di lingkungan sekolah.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SMK Taruna Nusantara Kasuari, Yusuf Ragainaga, menyatakan bahwa sebanyak 60 siswa yang diduga terlibat dalam penganiayaan telah dikeluarkan dari sekolah. “60 siswa sudah kita keluarkan tadi, mereka keluar dengan koper,” kata Yusuf.
Yusuf juga menambahkan bahwa pihak sekolah akan mengevaluasi pola pembinaan berbasis asrama yang selama ini diterapkan.
Dinas Pendidikan Sarankan Korban Segera Visum
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat, Barnabas Dowansiba, menyarankan agar orang tua siswa korban segera melakukan visum. Hal ini penting sebagai dasar untuk proses hukum selanjutnya.
“Pelaku dalam insiden ini harus diproses sesuai dengan aturan perundang-undangan dan hukum yang berlaku. Dan pelaku harus bertanggung jawab sesuai dengan perbuatan yang dilakukan,” tegas Barnabas Dowansiba.
Ia juga mengungkapkan penyesalannya atas kejadian yang disebutnya telah beberapa kali terjadi di lingkungan sekolah tersebut dan di luar batas kewajaran. Barnabas menambahkan, pemerintah provinsi sedang mempersiapkan pembangunan gedung sekolah baru yang lebih representatif di Warmare, yang ditargetkan dapat digunakan pada tahun 2028 dengan fasilitas yang lebih memadai.






