Akses.co.id — Puluhan hektare sawah di Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, terancam gagal panen akibat lumpur sisa banjir dan rusaknya infrastruktur irigasi. Setidaknya 90 hektare dari total 120 hektare lahan persawahan kini tidak dapat digarap oleh petani setempat.
Banjir yang melanda kawasan tersebut pada 26 November 2024 lalu meninggalkan lapisan lumpur tebal yang mengering dan retak. Kondisi ini membuat lahan tidak layak tanam.
Sekretaris Desa Ulee Meuria, Kecamatan Meurah Mulia, Fakhri, menjelaskan bahwa pembersihan lumpur tersebut memerlukan alat berat. “Lumpurnya tebal, dan kini mengering retak-retak. Tak mungkin bisa kita bersihkan dengan tangan atau cangkul. Harus pakai alat berat,” ujarnya kepada Kompas.com, Jumat (24/4/2026).
Selain masalah lumpur, petani juga menghadapi kendala lain berupa belum difungsikannya Bendungan Irigasi Krueng Pase yang masih dalam tahap perbaikan. Padahal, jika suplai air irigasi tersedia, petani kemungkinan akan tetap turun ke sawah meskipun hasil panen dikhawatirkan menurun drastis.
Fakhri menambahkan, data kerusakan sawah telah dilaporkan ke Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, namun belum ada tindakan perbaikan yang signifikan. “Kabar yang kami terima, kecamatan lain mulai diperbaiki sawahnya. Namun kecamatan kami belum diperbaiki. Kita harap, Kementerian Pertanian RI bisa mempercepat perbaikan seluruh sawah rusak ini,” tuturnya.
Perbaikan Bertahap Dilakukan
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Aceh Utara, Erwandi, menyatakan bahwa perbaikan sawah yang rusak akibat banjir telah memasuki tahap awal. Kerjasama antara TNI AD dan Kementerian Pertanian RI menjadi motor penggerak perbaikan ini.
Tahap awal fokus pada perbaikan sawah di Kecamatan Sawang, Muara Batu, Dewantara, dan Kecamatan Langkahan. “Aceh Utara dapat seluas 1.093 hektare dari 18.316 hektare sawah yang rusak karena banjir. Pasti akan ada tahap berikutnya, namun kita belum tau kapan,” jelas Erwandi saat dihubungi terpisah.
Ia meminta para petani untuk bersabar sembari menunggu giliran perbaikan di wilayah mereka. “Untuk itu, kami minta petani bersabar,” pungkasnya.
Ikuti Akses.co.id
