Akses.co.id — YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Kasus dugaan penyiksaan anak di Daycare Little Aresha, Umbulharjo, Yogyakarta, yang terungkap setelah penggerebekan polisi pada Jumat (24/4/2026), memicu keprihatinan mendalam. Pihak kepolisian telah menetapkan 13 tersangka, termasuk kepala yayasan, kepala sekolah, dan 11 pengasuh, atas dugaan perlakuan tidak semestinya terhadap anak-anak yang dititipkan.
Menanggapi fakta yang terungkap, seperti anak-anak yang diikat kaki dan tangannya serta ditempatkan di ruangan sempit tanpa pakaian layak, psikolog Danti Wulan Manunggal dari Ibunda.id menegaskan bahwa tindakan tersebut bukan sekadar kelalaian, melainkan bentuk penyiksaan terstruktur yang berpotensi merusak arsitektur otak anak secara mendalam.
“Melainkan bentuk penyiksaan terstruktur yang memberikan dampak psikologis mendalam bagi tumbuh kembang anak,” ujar Danti kepada Kompas.com, Minggu (26/4/2026).
Kerusakan Arsitektur Otak Akibat Stres Toksik
Danti menjelaskan bahwa kekerasan yang dialami balita di tempat penitipan dapat menciptakan kondisi toxic stress atau stres beracun. Paparan kronis ini bertindak sebagai neurotoksin yang merusak pertumbuhan sinapsis di otak.
Beberapa dampak neurobiologis yang mungkin dialami korban meliputi:
- Hiperaktivasi Poros HPA: Sistem respons stres anak menjadi permanen aktif, menyebabkan kortisol berlebih yang menghambat pembentukan memori di hipokampus. Hal ini membuat anak sering tampak “blank” atau sulit fokus.
- Hipertrofi Amigdala: Pusat rasa takut di otak membesar dan menjadi terlalu sensitif, menyebabkan anak selalu waspada (hypervigilance) dan mudah kaget dalam situasi aman sekalipun.
- Gangguan Prefrontal Cortex (PFC): Pusat logika dan kontrol emosi terhambat perkembangannya, membuat anak kesulitan mengatur emosi dan cenderung bertindak impulsif di masa depan.
Putusnya Fondasi Kepercayaan Dasar
Pada usia 0-3 tahun, anak seharusnya membangun fondasi kepercayaan bahwa dunia adalah tempat yang aman. Namun, dalam kasus Little Aresha, figur pengasuh yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi sumber ancaman.
“Insting anak mengatakan lari ke arah pengasuh untuk perlindungan, tapi pengasuh itulah sumber bahayanya,” jelas Danti mengenai kondisi disorganized attachment atau kelekatan tidak teratur.
Pengkhianatan kepercayaan ini atau betrayal trauma dapat menyebabkan anak mengalami disosiasi, seperti terlihat “beku” (freezing) atau menunjukkan perilaku kontradiktif seperti mendekat lalu tiba-tiba menjerit.
Picu Regresi pada Anak
Salah seorang wali murid berinisial HF menceritakan bagaimana anaknya menunjukkan tanda-tanda ketakutan luar biasa setelah hanya satu hari berada di daycare tersebut.
“Baru masuk satu hari, di hari kedua anak sudah ketakutan. Setiap mau berangkat selalu bilang tidak mau,” ungkap HF.
Menurut Danti, ketakutan tersebut merupakan sinyal darurat psikologis. Dampak lain yang mungkin muncul meliputi:
- Regresi: Anak kembali mengompol atau menghisap jempol meski sudah melewati fase tersebut.
- Somatisasi: Gejala fisik yang diperparah oleh kondisi psikis, seperti laporan adanya korban yang mengalami pneumonia.
- Helplessness: Tindakan pengikatan fisik mengirimkan pesan ke sistem saraf bahwa tubuh mereka bukan milik mereka, memicu perasaan tidak berdaya yang sangat dalam.
Langkah Pemulihan untuk Korban
Mengingat kompleksitas dampak pada struktur otak, pemulihan korban tidak dapat berlangsung instan. Danti menyarankan beberapa langkah intervensi yang dapat dilakukan orangtua:
- Validasi Perasaan: Ciptakan suasana rumah yang sangat aman tanpa memaksa anak bercerita.
- Terapi Spesialis: Segera lakukan Trauma-Focused Cognitive Behavioral Therapy (TF-CBT) atau Play Therapy untuk membantu anak memproses memori traumatis.
- Observasi Medis-Psikologis: Pastikan tidak ada trauma fisik permanen yang memengaruhi saraf motorik anak akibat pengikatan.
“Luka fisik mungkin sembuh dalam hitungan minggu, namun luka di ingatan tubuh (body memory) memerlukan kehadiran orangtua yang stabil dan bantuan profesional untuk pulih sepenuhnya,” tutup Danti.
Ikuti Akses.co.id
