— PT Waskita Karya (Persero) Tbk menggenjot penyelesaian proyek Light Rail Transit (LRT) Jakarta Fase 1B rute Velodrome–Manggarai. Proyek yang digarap untuk PT Jakarta Propertindo (Jakpro) ini dikabarkan telah mencapai progres konstruksi sebesar 91,86 persen.

Melalui keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (24/4/2026), Corporate Secretary Waskita Karya Ermy Puspa Yunita menyatakan bahwa pemasangan perlintasan jalur layang LRT di atas Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono telah rampung 100 persen. Pekerjaan yang masih tersisa kini fokus pada pemasangan steel box girder (SBG) di area simpang Matraman.

Percepatan Pembangunan dan Inovasi Teknologi

Ermy Puspa Yunita menekankan bahwa pemasangan bentang girder merupakan tahapan krusial dalam proyek LRT Jakarta Fase 1B. Ia bersyukur seluruh proses pembangunan berjalan lancar sesuai rencana, yang menurutnya menunjukkan sinergi kuat antara Waskita Karya, Jakpro, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan.

Dalam pelaksanaannya, Waskita Karya menerapkan sejumlah inovasi untuk mempercepat dan mempermudah pekerjaan, terutama di area dengan lalu lintas padat seperti jalan raya dan jalur tol aktif di Jakarta. Inovasi tersebut mencakup penggunaan metode long span (bentang panjang) serta implementasi Building Information Modeling (BIM) hingga level 7D.

Teknologi yang dioptimalkan antara lain incremental lifting steel box girder, lifting sliding PC girder, dan traveler launcher cast-in situ balanced cantilever. Metode-metode ini memungkinkan pemasangan jalur layang di atas jalan tol tanpa mengganggu arus lalu lintas, sekaligus mengedepankan aspek keamanan dan keselamatan kerja.

Lebih lanjut, Ermy menjelaskan bahwa jalur layang LRT Jakarta dari Kelapa Gading hingga Jalan Pramuka kini telah tersambung, menjadi bagian dari jaringan rel layang yang menghubungkan Jakarta Utara, Timur, dan Pusat. Sejumlah struktur utama di koridor Jalan Pemuda, Jalan Pramuka, Jalan Tambak, dan Jalan Sultan Agung juga telah terintegrasi.

Dengan progres yang terus membaik, Waskita Karya optimistis proyek LRT Jakarta Fase 1B dapat diselesaikan tepat waktu. Proyek senilai Rp 4,1 triliun ini diharapkan tidak hanya mengurangi kemacetan tetapi juga menurunkan emisi karbon di kawasan perkotaan.

“Proyek ini sangat dinantikan masyarakat karena dapat meningkatkan kualitas udara dan mendukung mobilitas yang lebih efisien,” ujar Ermy.

Pengakuan atas Inovasi Digital

Dedikasi Waskita Karya dalam mengadopsi teknologi inovatif juga membuahkan penghargaan. Perusahaan berhasil menjadi finalis ajang Bentley’s Going Digital Awards in Infrastructure (YII) 2025 yang diselenggarakan di Amsterdam, Belanda.

Inovasi digital yang diterapkan dalam pembangunan LRT Jakarta Fase 1B dinilai mampu meningkatkan efisiensi, keselamatan, dan keberlanjutan konstruksi. Dalam ajang yang diikuti 250 nominasi dari 47 negara, Waskita mempresentasikan berbagai teknologi untuk mengatasi kompleksitas pembangunan di kawasan perkotaan.

Ermy Puspa Yunita menambahkan bahwa pembangunan sarana transportasi massal di perkotaan memang tidak mudah, sehingga solusi inovatif sangat diperlukan. Waskita menerapkan solusi digital berbasis BIM dan teknologi Bentley Systems, termasuk pemanfaatan drone fotogrametri serta simulasi 4D untuk pemantauan proyek secara real-time.

Selain itu, Waskita menggunakan platform digital terintegrasi yang menyatukan data spasial, model BIM, dan jadwal pekerjaan dalam satu sistem. Pendekatan ini memudahkan seluruh tim, baik teknis maupun nonteknis, untuk mengakses informasi proyek secara langsung dan mempercepat pengambilan keputusan.

Melalui metode ini, Waskita berhasil mengidentifikasi dan menyelesaikan lebih dari 1.200 potensi kendala sebelum proses konstruksi dimulai. Implementasi simulasi 4D tidak hanya meningkatkan keselamatan kerja, tetapi juga mendorong efisiensi dan presisi dalam pembangunan.

Ermy menegaskan komitmen Waskita Karya untuk terus berinovasi demi mendukung pengembangan sistem transportasi publik yang andal, aman, nyaman, dan berkelanjutan. “Kami yakin, proyek ini turut mendorong penciptaan lingkungan sehat dan mendukung net zero emission (NZE),” pungkasnya.