Akses.co.id — Produsen mobil global dari Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman tengah berjuang mengejar ketertinggalan teknologi dari para pemain lokal di pasar otomotif China. Tekanan ini datang seiring dengan tren penurunan penjualan yang dialami di pasar mobil terbesar di dunia tersebut.
Menyikapi kondisi ini, pabrikan asal Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jerman mulai meluncurkan model-model baru yang dirancang khusus untuk pasar China. Peluncuran tersebut bertepatan dengan gelaran pameran otomotif Beijing yang dimulai pada Jumat.
“Kami memiliki rencana untuk membangun kembali merek ini dan kembali ke posisi kami sebelumnya dari sisi volume dan pangsa pasar,” ujar Will Stacy, Vice President Cadillac China di General Motors, mengutip CNBC, Jumat (24/4/2026).
Cadillac sendiri telah memperkenalkan SUV listrik tiga baris bernama VISTIQ. Model ini menandai debut kendaraan pertama mereka di China yang dilengkapi dengan teknologi bantuan pengemudi canggih.
Perangkat lunak bantuan pengemudi tingkat lanjut ini dirancang untuk mendukung penggunaan di berbagai kondisi jalan, mulai dari jalan tol, jalan kota, hingga kemampuan parkir otomatis. Teknologi ini dikembangkan melalui kolaborasi dengan Momenta, sebuah startup asal China yang fokus pada kendaraan otonom.
Selama ini, Cadillac dikenal di China sebagai merek yang identik dengan kendaraan bermesin pembakaran internal. Peluncuran model listrik ini menjadi langkah strategis untuk beradaptasi dengan perubahan preferensi pasar yang semakin mengarah pada elektrifikasi.
Selain itu, dengan memproduksi kendaraan secara lokal, proses manufaktur juga dapat dipercepat, memangkas waktu produksi hingga 18 bulan.
Langkah serupa juga diambil oleh Hyundai Motor Company yang meluncurkan merek kendaraan listriknya, IONIQ, di China. Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi ekspansi besar perusahaan di negara tersebut.
“China adalah tempat masa depan mobilitas dibentuk, dan Hyundai ingin turut mendefinisikannya di China, untuk China, dan pada akhirnya untuk dunia,” ujar CEO Hyundai, Jose Munoz.
Kondisi pasar China memang memberikan tantangan tersendiri bagi Hyundai. Kontribusi penjualan dari pasar China terhadap total penjualan global Hyundai tercatat menurun drastis dari 17 persen menjadi hanya 4 persen, mendorong adanya perubahan strategi yang signifikan.
Model terbaru IONIQ V yang diluncurkan di China juga dilengkapi dengan teknologi bantuan pengemudi yang dikembangkan bersama Momenta. Fitur unggulan lainnya mencakup kontrol suara berbasis kecerdasan buatan yang ditenagai oleh chipset Qualcomm Snapdragon 8295.
Jika lini IONIQ berhasil meraih kesuksesan di China, Hyundai berencana untuk mengekspornya ke pasar Asia Pasifik, Australia, hingga Timur Tengah.
Persaingan Sengit dan Adaptasi Teknologi Lokal
Penurunan penjualan tidak hanya dialami oleh Cadillac dan Hyundai. Nissan, misalnya, mencatat penurunan penjualan di China sebesar 47 persen pada Maret lalu jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Cadillac sendiri mengalami penurunan 39 persen dalam rentang waktu yang sama.
Stephen Dyer dari AlixPartners menilai langkah produsen asing untuk mengadopsi teknologi lokal sebagai keputusan yang tepat. “Saya senang melihat merek asing cukup rendah hati untuk mengakui nilai teknologi China dan mulai menggunakannya,” ujarnya.
Namun, Dyer meragukan kemampuan produsen asing untuk merebut kembali pangsa pasar yang signifikan. Peluang yang lebih realistis, menurutnya, justru terletak pada kemampuan penyebaran teknologi China ke pasar global.
“Saya rasa teknologi ini akan menyebar ke seluruh dunia. Tidak mungkin dibatasi hanya di China,” katanya.
Volkswagen juga menunjukkan upaya serupa dengan mempercepat inovasi melalui fitur perintah suara berbasis kecerdasan buatan. Fitur ini rencananya akan mulai diterapkan di China pada paruh kedua tahun ini.
“Mobil seharusnya menjadi seperti teman,” kata CTO Volkswagen China, Thomas Ulbrich, menggambarkan tujuan di balik pengembangan fitur tersebut.
Sistem asisten digital ini memanfaatkan teknologi dari perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka China seperti Tencent, Alibaba, dan Baidu, dengan tujuan memahami kebutuhan pengemudi secara lebih baik.
Selain itu, Volkswagen turut memperkenalkan empat model baru di ajang Beijing Auto Show. Salah satunya adalah ID. UNYX 09 yang merupakan hasil kolaborasi pengembangan dengan Xpeng selama dua tahun terakhir.
Dominasi BYD dan Strategi Nissan
Persaingan di pasar otomotif China semakin ketat, terutama dengan dominasi produsen lokal seperti BYD. Pada kuartal pertama 2026, BYD mencatat penjualan sebanyak 688.993 unit, meskipun mengalami penurunan 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Secara global, BYD telah berhasil menjual 2,26 juta kendaraan listrik pada tahun lalu, melampaui angka 1,64 juta unit yang dicapai oleh Tesla.
Dinamika pasar yang sangat cepat ini terlihat dari peluncuran 10 hingga 15 model baru setiap bulannya di China.
Presiden dan CEO Nissan, Ivan Espinosa, menekankan pentingnya menjaga daya saing di tengah persaingan yang semakin intens. “Memiliki jaringan dealer yang kuat, pengalaman, dan layanan yang baik juga menjadi semakin penting,” tegasnya.
Untuk menghadapi kompetisi yang semakin ketat di China, Nissan menyiapkan strategi dengan meluncurkan lima kendaraan energi baru berbasis plug-in dalam 12 bulan ke depan.
Ikuti Akses.co.id
