Akses.co.id — Moskow dan Teheran menunjukkan peningkatan intensitas komunikasi diplomatik sejak eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dilaporkan telah melakukan kontak telepon sebanyak tiga kali dalam kurun waktu tersebut.
Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, mengonfirmasi adanya hubungan erat ini pada Kamis (23/4/2026). “Para presiden kami menjaga komunikasi yang sangat baik,” ujar Jalali, mengutip laporan Xinhua melalui Antara. Ia menambahkan bahwa jalinan komunikasi yang kuat juga terjalin di tingkat menteri luar negeri kedua negara.
Percakapan telepon terakhir antara kedua kepala negara terjadi pada 12 April. Dalam dialog tersebut, Rusia menyatakan kesiapannya untuk terus berperan dalam memfasilitasi penyelesaian konflik dan mewujudkan perdamaian yang adil serta berkelanjutan di kawasan Timur Tengah. “Kami berterima kasih kepada Rusia atas suara dan dukungan ini, yang membuktikan adanya hubungan stabil dan mendalam di antara negara kami,” ucap Jalali.
Dukungan Rahasia Rusia untuk Iran
Di balik intensitas komunikasi diplomatik tersebut, terungkap pula adanya dugaan dukungan rahasia dari Rusia kepada Iran. Berdasarkan asesmen intelijen Ukraina yang ditinjau oleh Reuters, Moskow diduga telah memberikan bantuan berupa citra satelit mata-mata dan dukungan siber kepada Teheran.
Bantuan ini dilaporkan bertujuan untuk memperkuat kemampuan Iran dalam melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat dan target lainnya di Timur Tengah. Kerja sama ini menjadi rincian paling mendalam mengenai sokongan rahasia Moskow kepada Iran, terutama pasca serangan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari.
Dokumen intelijen tersebut mencatat bahwa satelit Rusia melakukan setidaknya 24 survei mendetail di 11 negara Timur Tengah antara 21 hingga 31 Maret. Pemantauan tersebut mencakup 46 objek vital, termasuk pangkalan militer AS, bandara, dan ladang minyak.
Penilaian intelijen menemukan adanya pola yang jelas, sebagaimana dilaporkan Reuters pada Selasa (7/4/2026). Dalam beberapa hari setelah objek-objek tersebut dipantau oleh satelit Rusia, pangkalan militer dan markas besar tersebut dilaporkan menjadi sasaran serangan rudal balistik dan drone yang dilancarkan oleh Iran.
Ikuti Akses.co.id
