— SURABAYA, Kompas.com – Terungkapnya kembali dugaan praktik joki dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) tahun 2026 kembali menjadi sorotan. Sejumlah pengamat pendidikan mendalami akar permasalahan budaya hingga dampak serius yang ditimbulkannya bagi kualitas lulusan perguruan tinggi.

Kasus terbaru mencuat di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada hari pertama pelaksanaan UTBK, Selasa (21/4/2026). Seorang terduga pelaku joki berhasil diamankan saat bertugas, kedapatan menggunakan identitas palsu berupa kartu tanda penduduk (KTP) dan ijazah untuk mengelabui sistem.

Perkara ini kini tengah ditangani oleh pihak Polrestabes Surabaya dan masih dalam tahap pemeriksaan lebih lanjut untuk mengungkap jaringan yang lebih luas.

Akar Permasalahan: Ambisi Instan hingga Tekanan Orang Tua

Pengamat pendidikan, Totok Amin Soefijanto, menilai praktik joki UTBK merupakan cerminan dari pola pikir dan budaya masyarakat yang masih mengedepankan hasil instan.

“Kalau boleh berasumsi, tindakan ini dipengaruhi berbagai faktor, antara lain budaya masyarakat, kebiasaan curang, nilai terhadap kejujuran dan kerja keras, tingkat kepercayaan, keinginan sukses yang instan, rendahnya penghargaan kepada kompetensi, dan sebagainya,” terang Totok kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).

Ia menambahkan, pandangan sebagian orang tua yang masih menganggap perguruan tinggi negeri (PTN) sebagai satu-satunya jalan kesuksesan juga turut memicu tekanan bagi calon mahasiswa. Padahal, menurut Totok, keberhasilan studi tidak hanya bergantung pada nama besar universitas, melainkan kesesuaian minat dan potensi mahasiswa dengan pilihan program studi.

“Sebagai orangtua, hindari pemaksaan seperti itu, karena si anak belum tentu nyaman dan cocok,” imbaunya.

Totok juga menyoroti aspek etika dan moral calon mahasiswa yang menggunakan jasa joki. Tindakan tersebut diartikannya sebagai bentuk penghalalan segala cara demi mencapai tujuan.

“Etika dan moralnya sudah bermasalah, sehingga kelak dia akan cenderung menerapkan pendekatan itu. (tapi) Semoga proses pendidikan dapat mengubahnya menjadi baik,” tuturnya, penuh harap.

Dampak: Ancaman Kredibilitas Akademik dan Kualitas Sumber Daya Manusia

Pengamat pendidikan lainnya, Doni Koesoema, mengungkapkan keprihatinannya terhadap praktik joki yang menunjukkan rendahnya integritas sejak tahap seleksi awal. Hal ini berimplikasi pada keraguan terhadap kemampuan sebenarnya dari mahasiswa yang diterima.

“Kecurangan dalam proses seleksi membuat kampus tidak mengetahui kemampuan asli mahasiswa yang diterima,” ujar Doni.

Doni Koesoema mengingatkan bahwa praktik joki UTBK berpotensi menimbulkan dampak serius bagi dunia pendidikan. Kampus berisiko meluluskan mahasiswa yang tidak kompeten karena proses seleksi yang tidak lagi objektif dan jujur.

“Bila sistem penilaian dari dosen tidak objektif dan otentik, mahasiswa ini juga curang saat ujian, maka ke depan kampus yg akan rugi nama baiknya karena meluluskan alumni yg tidak kompeten,” tegasnya kepada Kompas.com, Jumat (24/4/2026).

Jika kondisi ini terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh institusi perguruan tinggi, tetapi juga oleh masyarakat luas. Sektor-sektor krusial seperti kesehatan, pendidikan, dan hukum akan paling merasakan kerugiannya.

“Kalau bidangnya menyangkut kesehatan, pendidikan, dan hukum, maka yang dirugikan adalah masyarakat dan bangsa,” pungkasnya.