Tren

[POPULER TREN] 30 Negara Bahas Hormuz | Motif Trump Perpanjang Gencatan Senjata 

Advertisement

Pertemuan lebih dari 30 negara di Inggris untuk membahas upaya membuka kembali Selat Hormuz mendominasi daftar artikel terpopuler di kanal Tren Kompas.com edisi Selasa (22/4/2026) hingga Rabu (23/4/2026) pagi. Posisi kedua ditempati berita mengenai Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang secara mengejutkan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu. Sementara itu, fenomena silent rebellion atau pemberontakan sunyi di lingkungan perkantoran juga menarik perhatian pembaca.

Rangkuman Berita Populer Tren

Berikut adalah rangkuman lengkap dari daftar artikel terpopuler di kanal Tren Kompas.com:

1. 30 Lebih Negara Akan Kumpul di Inggris Bahas Selat Hormuz, Apa Targetnya?

Perwakilan militer dari lebih dari 30 negara dijadwalkan akan berkumpul di London, Inggris, untuk membahas upaya membuka kembali Selat Hormuz. Pertemuan yang berlangsung selama dua hari mulai Rabu (22/4/2026) ini akan difokuskan pada penyusunan rencana operasional guna memastikan jalur pelayaran di kawasan tersebut kembali aman. Langkah ini merupakan kelanjutan dari pembahasan sebelumnya terkait misi internasional untuk melindungi navigasi di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia.

2. Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu, Ada Apa di Baliknya?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, hanya beberapa jam sebelum kesepakatan tersebut berakhir pada Selasa (21/4/2026). Keputusan ini disebut diambil untuk memberikan ruang bagi kelanjutan perundingan damai antara kedua negara. Dalam pernyataannya, Trump mengatakan bahwa ia menyetujui permintaan Pakistan, yang berperan sebagai mediator, untuk menunda serangan terhadap Iran hingga para pemimpin kedua negara dapat menyusun proposal damai yang terpadu.

Baca juga: [POPULER TREN] AS Sita Kapal Kargo Iran Berbuntut Panjang | Kalender Mei 2026 Penuh Libur

Advertisement

3. Sunyi di Kantor, Ramai Saat “Ngopi”: Waspada “Silent Rebellion” di Kantor

Tidak semua pemberontakan terjadi dengan suara keras. Di banyak kantor saat ini, hal itu justru berlangsung dalam diam melalui pegawai yang tetap hadir di rapat, menyelesaikan pekerjaan, bahkan tampak patuh pada aturan. Namun, perlahan mereka menarik diri dari pekerjaannya dengan tidak lagi berinisiatif, tidak lagi berdebat, dan tidak lagi benar-benar peduli. Fenomena ini kini dikenal sebagai silent rebellion, yang tidak muncul dalam bentuk demonstrasi atau penolakan terbuka.

4. Perbandingan Rupiah dengan Mata Uang Negara ASEAN Lain, Mana Paling Kuat?

Setiap negara memiliki mata uang masing-masing yang digunakan sebagai alat transaksi oleh para warganya. Contohnya, Indonesia dengan mata uang rupiah dan Vietnam dengan mata uang dong. Sementara itu, Thailand menggunakan mata uang baht, sedangkan Malaysia dengan ringgitnya. Singapura juga mempunyai mata uang sendiri, berupa dollar Singapura. Artikel ini mengulas perbandingan Rupiah dengan mata uang negara ASEAN lainnya.

Baca juga: [POPULER TREN] Kenapa Iran Tutup Selat Hormuz Lagi? | Paus Leo Luruskan Isu Cekcok dengan Trump

5. Kurangi Ketergantungan Terhadap Dollar, Negara-negara BRICS Borong Emas

Sejumlah negara yang tergabung dalam kelompok BRICS gencar meningkatkan pembelian emas sebagai bagian dari strategi cadangan devisa dalam beberapa tahun terakhir. Menurut laporan World Gold Council, data terbaru menunjukkan bahwa negara-negara BRICS kini menguasai lebih dari 6.000 ton emas atau sekitar 17,4 persen dari total cadangan emas bank sentral dunia. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan sekitar 11,2 persen pada tahun 2019.

Advertisement