Akses.co.id — Ponsel genggam, yang seringkali identik dengan media sosial sebagai sumber dampak negatif kesehatan mental, ternyata menyimpan potensi stres lain dari komunikasi digital sehari-hari. Pesan teks dan notifikasi yang tak henti-hentinya dapat memicu kelelahan mental tanpa disadari, sebagaimana diungkapkan oleh Devi Sridhar, profesor Kesehatan Masyarakat Global dari University of Edinburgh.
Menurut Sridhar, penggunaan ponsel secara konstan menempatkan individu dalam kondisi “selalu siaga” yang menguras energi mental. Perubahan pola komunikasi dari interaksi tatap muka menjadi dominasi pesan digital menjadi salah satu pemicu utama tekanan mental yang meningkat.
Notifikasi: Pemicu Stres yang Tak Terlihat
Setiap notifikasi yang muncul di layar ponsel berpotensi memicu respons stres pada otak, bahkan sebelum pesan tersebut sempat dibaca. Sridhar menjelaskan bahwa notifikasi menuntut otak untuk segera membuat keputusan kecil, seperti membalas saat itu juga atau menundanya. Ketika siklus ini berulang sepanjang hari, dapat mengakibatkan kelelahan kognitif.
Akibatnya, seseorang dapat merasa lelah secara mental meskipun tidak melakukan aktivitas fisik yang berat. Hal ini menunjukkan bagaimana interaksi digital yang terus-menerus dapat memberikan beban tersembunyi pada kesehatan mental.
Kesalahpahaman dalam Komunikasi Digital
Komunikasi melalui layar juga menghilangkan elemen-elemen krusial dalam interaksi manusia, seperti ekspresi wajah, intonasi suara, dan bahasa tubuh. Ketidaklengkapan informasi ini membuat komunikasi digital lebih rentan terhadap kesalahpahaman. Sebuah penelitian yang dikutip dalam tulisan tersebut menemukan korelasi antara intensitas pesan teks yang tinggi dengan tingkat stres yang lebih tinggi pula.
Sebaliknya, interaksi langsung cenderung menghasilkan perasaan yang lebih positif. Temuan ini diperkuat oleh tinjauan studi tahun 2026 yang membandingkan komunikasi digital dengan tatap muka, di mana kesejahteraan mental dilaporkan lebih baik saat berinteraksi secara langsung.
Fitur “Dibaca”: Dampak Psikologis “Rasa Sakit Sosial”
Fitur sederhana seperti tanda pesan telah dibaca ternyata memiliki implikasi psikologis yang signifikan. Sridhar mengemukakan bahwa pesan yang tidak segera dibalas dapat memicu apa yang disebut sebagai “rasa sakit sosial”. Fenomena ini melibatkan bagian otak yang sama dengan rasa sakit fisik, seperti anterior cingulate cortex dan insula.
Situasi di mana pesan diabaikan atau tidak dibalas dapat menimbulkan perasaan penolakan. Fenomena ini bahkan terlihat dalam kebiasaan ghosting, yaitu menghilang tanpa penjelasan dalam komunikasi. Kondisi seperti ini dapat meningkatkan stres, detak jantung, hingga tekanan darah. Bahkan, pesan yang hanya dibiarkan tanpa balasan dalam waktu singkat dapat menimbulkan “penolakan kecil” yang berdampak emosional.
Tekanan untuk Selalu Merespons
Selain potensi rasa ditolak, banyak individu juga merasakan tekanan untuk selalu merespons pesan dengan cepat. Fitur seperti status online, indikator “sedang mengetik”, hingga waktu terakhir aktif menciptakan persepsi bahwa seseorang harus selalu tersedia. Ketidakresponsifan dapat menimbulkan kekhawatiran dianggap tidak sopan atau menjauh.
Kondisi ini menciptakan lingkungan komunikasi yang menuntut keterlibatan terus-menerus, sehingga mengaburkan batas antara waktu kerja dan waktu pribadi. Lingkungan ini secara implisit menekan individu untuk selalu hadir dan terhubung.
Paradoks Koneksi dan Kesepian
Ironisnya, di tengah kemudahan komunikasi yang semakin meningkat, tingkat stres dan kesepian justru dilaporkan meningkat secara global. Sridhar berpendapat bahwa hal ini terjadi karena sistem saraf manusia tidak dirancang untuk menghadapi komunikasi digital yang bersifat konstan. Otak manusia lebih terbiasa dengan interaksi langsung dalam kelompok kecil, sementara komunikasi digital memberikan tekanan tanpa jeda.
“Kita lebih terhubung dari sebelumnya, tetapi juga lebih stres dan merasa kesepian,” tulis Sridhar. Fenomena ini menjadi pengingat penting bahwa penggunaan ponsel, bahkan tanpa keterlibatan media sosial, tetap memerlukan pengelolaan yang bijak untuk menjaga kesehatan mental.
Ikuti Akses.co.id
