— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mulai merancang strategi mitigasi menghadapi fenomena El Nino yang diprediksi akan memperpanjang musim kemarau pada 2026. Kesiapan ini mencakup upaya penanganan dua potensi bencana utama: kekeringan dan peningkatan polusi udara di Ibu Kota.

Salah satu langkah konkret yang disiapkan adalah pengaktifan kembali peralatan water mist milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta. Perangkat serupa yang terpasang di sejumlah gedung perkantoran juga akan dioptimalkan untuk membantu menekan angka polusi udara yang kerap memburuk saat musim kemarau.

Selain itu, BPBD DKI Jakarta berencana berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Kegiatan ini difokuskan pada periode puncak kemarau, terutama saat intensitas El Nino diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan Agustus.

Sebagai landasan hukum dan pedoman bagi seluruh perangkat daerah, BPBD DKI tengah menyusun Instruksi Gubernur. Dokumen ini akan mengatur langkah-langkah konkret dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi kering.

Mitigasi Kekeringan dan Penanganan Air Bersih

Dalam menghadapi potensi kekeringan, BPBD DKI Jakarta juga akan mengaktifkan Satuan Tugas (Satgas) Air Bersih. Koordinasi erat dengan Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya akan dilakukan untuk memastikan distribusi air bersih kepada masyarakat berjalan lancar, terutama di wilayah yang berpotensi mengalami krisis air.

Untuk mendukung upaya tersebut, BPBD DKI telah menyiapkan armada mobil tangki air. Kendaraan ini dapat dikerahkan sewaktu-waktu guna memenuhi kebutuhan air bersih di lapangan apabila terjadi situasi darurat.

Sekretaris Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, menjelaskan bahwa seluruh langkah mitigasi ini disusun berdasarkan hasil koordinasi intensif dengan BMKG serta rapat lintas sektor yang melibatkan pemerintah pusat, TNI-Polri, dan instansi terkait lainnya. Ia menekankan bahwa prediksi El Nino tahun ini diperkirakan akan berlangsung lebih lama dibandingkan tahun 2023, sehingga kesiapsiagaan yang lebih matang sejak dini menjadi krusial.

“Dampaknya ada tiga isu utama, yakni kekeringan, potensi kebakaran termasuk di kawasan perkotaan Jakarta, serta meningkatnya polusi udara,” ujar Marulitua Sijabat, Jumat (24/4/2026), dikutip dari situs resmi Pemprov DKI Jakarta.

DPRD Minta Koordinasi Terpadu

Menyikapi kesiapan BPBD DKI, Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta, Achmad Yani, menyoroti pentingnya sinergi antar dinas dalam menghadapi ancaman El Nino. Ia mengimbau seluruh perangkat daerah untuk tidak bekerja secara terkotak-kotak, melainkan menyusun strategi antisipasi yang terintegrasi demi meminimalkan dampak negatif terhadap masyarakat.

“Harapannya semua dinas memiliki langkah antisipasi yang jelas dan terkoordinasi dengan baik, sehingga tidak menimbulkan dampak kerugian bagi masyarakat,” tegas Achmad Yani.