Akses.co.id — KUALA LUMPUR, Kompas.com — Malaysia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang belum memberlakukan pembatasan atau penjatahan bahan bakar, di tengah meningkatnya krisis pasokan global yang mulai melanda kawasan. Perdana Menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim menegaskan hal ini sambil membandingkan harga bahan bakar minyak (BBM) di negaranya yang jauh lebih terjangkau dibandingkan negara tetangga.
Menurut Anwar, harga bensin RON95 di Malaysia dipatok pada angka RM1,99 per liter, salah satu yang terendah di dunia. Ia merinci, “Harga solar tinggi, tetapi untuk petani, nelayan, dan bus sekolah, harganya telah diturunkan. Berapa harga RON95 di negara-negara tetangga? Beberapa mencapai RM10,50 per liter, yang lain RM4, dan RM6. Dan kita? RM1,99.”
Dengan nilai tukar saat ini, harga RON95 di Malaysia setara dengan Rp 8.658 per liter. Angka ini berbanding terbalik dengan harga di beberapa negara tetangga yang bisa mencapai Rp 45.685 per liter.
Andalkan Subsidi dan Diplomasi Energi
Anwar menjelaskan bahwa pemerintah Malaysia menanggung beban subsidi energi yang signifikan setiap bulan demi menjaga harga BBM tetap rendah bagi masyarakat. Kebijakan ini diperkuat dengan pendekatan subsidi yang lebih terarah dan hubungan diplomatik yang baik dengan Iran.
Hubungan diplomatik tersebut, kata Anwar, memastikan kapal tanker minyak Malaysia tetap diizinkan melintasi Selat Hormuz meskipun di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat. Ia menyindir pihak oposisi yang disebutnya kurang dalam mencari fakta.
“Negara mana lagi yang diizinkan mengirim tanker minyak melalui Selat Hormuz? Namun ada pemimpin politik oposisi yang mengklaim kita tidak melewati Selat Hormuz. Ini menunjukkan kurangnya kerendahan hati dalam mencari fakta,” tegas Anwar.
Risiko Penyelundupan Meningkat
Perbedaan harga BBM yang mencolok dengan negara tetangga turut memicu peningkatan risiko penyelundupan bahan bakar di wilayah perbatasan Malaysia. Pemerintah mencatat lonjakan kasus tersebut belakangan ini.
Anwar menyatakan bahwa pengawasan kini diperketat untuk menekan kerugian negara akibat kebocoran subsidi. “Bahan bakar kita terlalu murah dan penyelundupan terlalu merajalela. Ketika penyelundupan terjadi, itu berarti uang negara mengalir keluar. Jadi kita harus memperketat kontrol karena miliaran ringgit hilang,” ujarnya.
Pemerintah juga menginstruksikan seluruh jajaran pusat dan daerah untuk responsif terhadap situasi energi global. Masyarakat pun diimbau untuk lebih cermat dalam menyaring informasi, terutama yang beredar di media sosial.
Dampak Krisis Mulai Terasa di Kawasan
Situasi krisis pasokan global tidak hanya berdampak pada Malaysia, tetapi juga mulai terasa di negara-negara lain di kawasan. Anwar mencontohkan Australia yang sempat mengajukan permohonan pasokan diesel dari Malaysia.
“Dia bertanya apakah Malaysia dapat memasok diesel. Saya mengatakan kita tidak memiliki surplus diesel, tetapi jika ada kelebihan, kita dapat mengekspornya,” tutur Anwar.
Kerja sama antara Malaysia dan Australia tidak terbatas pada sektor energi. Malaysia juga tercatat mengimpor pupuk fosfat dari Australia untuk mendukung sektor pertanian, termasuk para petani di bawah skema Federal Land Development Authority (Felda).
Ikuti Akses.co.id
