Akses.co.id — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan kondisinya dalam keadaan fisik yang sangat baik setelah menjalani perawatan untuk tumor ganas di prostatnya. Pernyataan ini disampaikan melalui unggahan di platform X pada Jumat (24/5/2024), menyusul publikasi laporan medis tahunannya.
Netanyahu menjelaskan bahwa tumor ganas stadium awal tersebut ditemukan saat ia menjalani pemantauan medis rutin pascaoperasi pembesaran prostat jinak. Dokter mendeteksi adanya benjolan kecil berukuran kurang dari satu sentimeter dalam pemeriksaan terakhir.
“Saya mengalami masalah medis ringan pada prostat saya yang telah sepenuhnya diobati. Syukurlah, itu sudah berlalu,” kata Netanyahu sebagaimana diberitakan BBC.
Ia menambahkan bahwa tindakan medis yang telah dilakukan berhasil mengatasi kondisi tersebut sepenuhnya tanpa meninggalkan jejak. Pemimpin Israel berusia 76 tahun itu sebelumnya telah menjalani operasi pembesaran prostat jinak pada tahun 2024 dan terus melakukan pemeriksaan berkala.
Penundaan Publikasi Laporan Kesehatan
Netanyahu juga mengungkapkan bahwa ia sengaja menunda publikasi laporan kesehatannya. Keputusan ini diambil agar informasi medis tersebut tidak dirilis pada saat konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran sedang memuncak.
Ia berpendapat bahwa publikasi pada waktu tersebut berpotensi dimanfaatkan oleh Teheran untuk menyebarkan propaganda terhadap Israel. Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan bahwa keputusan menjalani perawatan dilakukan segera setelah mengetahui adanya potensi bahaya.
Ia menyebut langkah cepat tersebut sebagai prinsip yang berlaku baik dalam kehidupan pribadi maupun kepemimpinan nasional.
Konteks Politik dan Kunjungan ke Gedung Putih
Pengungkapan kondisi kesehatan Benjamin Netanyahu ini muncul menjelang rencana kunjungan Netanyahu ke Gedung Putih dalam beberapa minggu mendatang. Kunjungan tersebut berkaitan dengan upaya Amerika Serikat untuk menengahi kesepakatan perdamaian jangka panjang dalam konflik dengan Iran.
Di sisi lain, perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, setelah konflik dengan kelompok Hizbullah yang didukung Iran, dilaporkan telah diperpanjang selama tiga minggu.
Ikuti Akses.co.id
