JAKARTA, KOMPAS.com – Sektor infrastruktur dan kelistrikan, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan angin, serta industri otomotif, khususnya kendaraan listrik (EV), diprediksi akan menjadi pendorong utama peningkatan permintaan tembaga di Indonesia. Ketiga sektor ini dipandang krusial dalam menyerap produksi tembaga olahan dari smelter domestik.
Pendiri dan Penasihat ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, menjelaskan bahwa ekosistem industri yang kuat membutuhkan dukungan dan fasilitasi memadai dari pemerintah. Kemudahan investasi pada sektor-sektor turunan yang menyerap tembaga menjadi kunci agar produksi tembaga dapat terserap secara optimal di dalam negeri.
“Itu yang nantinya akan menyerap produksi tembaga dan tembaga olahan (katoda) dari smelter tembaga yang beroperasi di Indonesia,” ujar Pri Agung dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/5/2024).
Ia menambahkan, peningkatan nilai tambah dari ekspor mineral mentah menjadi katoda tembaga dinilai cukup kuat untuk mendongkrak neraca perdagangan global Indonesia di masa mendatang. Namun, jika ekosistem industri pendukung belum berkembang, sebagian besar produksi tembaga kemungkinan akan dialihkan untuk ekspor.
Potensi Besar Indonesia dalam Industri Tembaga
Tembaga merupakan salah satu bahan baku vital bagi industri global saat ini. Pri Agung menilai, Indonesia memiliki potensi keuntungan besar dari pemanfaatan komoditas strategis ini.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Indonesia menempati posisi ketujuh dalam hal cadangan tembaga dunia, dengan porsi sekitar 3 persen dari total keseluruhan. Namun, dari sisi produksi tambang, Indonesia berada di peringkat ke-11.
Sementara itu, di industri hilir, Indonesia menduduki peringkat ke-18. Posisi ini masih tertinggal dari negara-negara seperti Jepang, India, Korea Selatan, dan Bulgaria, yang bahkan tidak memiliki sumber daya tembaga.
Perusahaan Tambang Besar dan Peningkatan Cadangan
Industri tembaga di Indonesia saat ini didominasi oleh sejumlah perusahaan tambang besar yang mengelola proyek-proyek strategis. Di antaranya adalah PT Freeport Indonesia (anggota Grup MIND ID), PT Amman Mineral Internasional Tbk, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk.
Perusahaan-perusahaan ini melaporkan peningkatan cadangan tembaga mereka. PT Freeport Indonesia, misalnya, mencatat hasil eksplorasi terbaru menunjukkan cadangan tembaga yang dapat diekstraksi hingga tahun 2041 meningkat menjadi 8 miliar pon, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 7 miliar pon.
PT Amman Mineral Nusa Tenggara melaporkan total cadangan mineral mencapai sekitar 460 juta ton hingga tahun 2030. Peningkatan ini seiring dengan dimulainya fase baru penambangan Fase 8 di Tambang Batu Hijau.
PT Merdeka Copper Gold Tbk mengungkap pertumbuhan cadangan tembaga sepanjang 2025 menjadi 9,1 juta ton, atau naik 6 persen. Cadangan bijih tembaganya bahkan melonjak 60 persen menjadi 3 juta ton.
Peran Smelter dalam Nilai Tambah
Besarnya cadangan tembaga ini didukung oleh kehadiran smelter yang berperan penting dalam meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut. Merujuk pada penelitian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), nilai tambah dari pengolahan di smelter tembaga dapat mencapai sekitar 1,74 kali lipat dibandingkan bahan baku konsentrat.
Indonesia telah memiliki sejumlah smelter aktif yang menjadi tulang punggung hilirisasi industri tembaga. Fasilitas utama terdapat di Gresik, Jawa Timur, serta proyek smelter baru di Nusa Tenggara Barat, yang semakin memperkuat kapasitas pengolahan domestik.
Dengan kombinasi cadangan melimpah, proyek hilirisasi yang terus berkembang, serta potensi permintaan dari berbagai sektor strategis, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan peran tembaga dalam perekonomian nasional.






