Global

Picu Pro Kontra, Mengapa Kuil di India Ini Wajibkan Minum Air Kencing Sapi?

Advertisement

Kebijakan baru yang mengharuskan pengunjung mengonsumsi ramuan ritual berbasis produk turunan sapi, termasuk urin sapi, telah diterapkan di Kuil Gangotri, salah satu situs Hindu suci di kawasan Himalaya, India. Aturan ini memicu kontroversi dan perdebatan mengenai inklusivitas ruang keagamaan.

Dharmendra Semwal, salah satu panitia kuil, menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk membatasi akses bagi individu yang bukan penganut Hindu. “Ini untuk mencegah orang-orang non-Sanatani dan non-penganut agama Hindu memasuki kuil Gangotari,” ujarnya kepada The Independent, merujuk pada Sanatan Dharma sebagai istilah untuk praktik keagamaan Hindu tradisional.

Semwal menegaskan bahwa umat yang beriman sejati tidak akan keberatan dengan ritual ini. “Orang-orang yang beriman sejati tidak akan mengalami masalah dalam mengonsumsinya,” katanya. “Hanya mereka yang masuk dengan menyamar dan tidak memiliki keyakinan pada agama tersebut yang akan mengalami masalah. Mereka tidak akan diizinkan masuk.”

Ritual ini akan dilaksanakan di pintu masuk kuil, di mana petugas akan menyajikan “air suci” yang merupakan campuran dari lima produk turunan sapi: susu, dadih, ghee, madu, dan urin sapi. “Ini akan memulihkan iman dan spiritualitas dalam diri masyarakat, dan mereka yang berkesempatan untuk menikmatinya harus menganggap diri mereka beruntung,” tambah Semwal.

Pengumuman aturan baru ini bertepatan dengan dimulainya ziarah tahunan besar umat Hindu, Char Dham Yatra, pada Minggu (19/4/2026). Ziarah ini menarik jutaan peziarah ke empat kuil utama di Himalaya, yang biasanya dimulai dari Yamunotri, dilanjutkan ke Gangotri, Kedarnath, dan Badrinath.

Tidak Semua Kuil Terapkan Aturan Serupa

Mayoritas kuil di India bersifat terbuka bagi non-penganut Hindu maupun wisatawan, bahkan kerap memberikan penjelasan mengenai praktik keagamaan. Namun, kebijakan pembatasan akses tidak lazim diterapkan.

Advertisement

Sebagai contoh, pada Maret lalu, Komite Kuil Badrinath-Kedarnath mengeluarkan larangan bagi non-Hindu untuk memasuki 47 kuil di bawah pengelolaannya. Semwal melaporkan bahwa sejauh ini, para peziarah Char Dham yang telah berdatangan belum menunjukkan keberatan dalam mengonsumsi “air suci” di Kuil Gangotri.

Meskipun sapi dianggap suci dalam ajaran Hindu dan urinnya kerap digunakan dalam ritual penyucian, kewajiban mengonsumsinya menimbulkan pertanyaan mengenai kenyamanan sebagian umat Hindu sendiri. Kritik juga muncul karena kebijakan ini dinilai dapat mengasingkan non-Hindu dan mengurangi sifat inklusif ruang keagamaan yang selama ini dikenal.

Larangan Non-Hindu Picu Pro dan Kontra

Menanggapi aturan baru tersebut, anggota parlemen Kedarnath, Asha Nautiyal, menyatakan dukungan dengan alasan menjaga kesucian tempat ibadah. “Mereka yang menyakiti agama dan menodai suasana sucinya tidak boleh diizinkan masuk. Tempat-tempat ini seharusnya khusus untuk mereka yang datang untuk berdoa. Keputusan ini akan membawa agama ini ke tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya, dikutip dari Indian Express, Minggu (19/4/2026).

Namun, Nautiyal tidak merinci mekanisme penerapan pembatasan tersebut, terutama mengingat tingginya jumlah pengunjung. Kedarnath sendiri mencatat sekitar 17,68 lakh pengunjung pada tahun lalu, dengan total kunjungan ke empat lokasi suci mencapai 51 lakh pada November 2025, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Nautiyal sebelumnya juga telah mendorong pembatasan akses bagi non-Hindu. Ia mengungkapkan adanya aspirasi dari penduduk lokal dan pengusaha yang merasa sentimen keagamaan mereka dilukai oleh kehadiran non-Hindu. “Orang-orang dari seluruh dunia datang untuk beribadah kepada Baba Kedar, jadi orang-orang seperti itu harus dilarang,” katanya pada Maret lalu, seraya menekankan bahwa keempat situs Dham seharusnya melarang non-Hindu.

Advertisement