Akses.co.id — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) akan membagikan dividen tunai sebesar Rp 49,44 per saham kepada pemegang sahamnya. Keputusan ini diambil setelah mendapatkan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 21 April 2026, untuk tahun buku 2025.
Corporate Secretary PGEO, Kitty Andhora, dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), merinci bahwa total dividen yang dibagikan mencapai 123,9 juta dollar AS. Angka ini didasarkan pada kinerja keuangan perseroan per 31 Desember 2025, yang mencatatkan laba bersih sebesar 137,7 juta dollar AS dan saldo laba ditahan sebesar 139 juta dollar AS.
Jadwal Pembagian Dividen
Pemegang saham PGEO perlu memperhatikan jadwal berikut untuk pencairan dividen:
- Cum dividen pasar reguler dan negosiasi: 30 April 2026
- Ex dividen pasar reguler dan negosiasi: 4 Mei 2026
- Cum dividen pasar tunai: 5 Mei 2026
- Ex dividen pasar tunai: 6 Mei 2026
- Recording date (DPS): 4 Mei 2026, pukul 16.00 WIB
- Pembayaran dividen: 22 Mei 2026
Pada penutupan perdagangan Jumat (24 April 2026), saham PGEO tercatat melemah 2,44 persen atau turun 25 poin ke level Rp 1.000. Meskipun demikian, dalam kurun waktu satu tahun terakhir, saham ini masih menunjukkan pertumbuhan sekitar 3,63 persen.
Kinerja Keuangan dan Operasional PGEO
Sepanjang tahun 2025, PGEO berhasil membukukan pendapatan sebesar 432,73 juta dollar AS dengan laba bersih mencapai 137,67 juta dollar AS. Angka Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) tercatat sebesar 330,35 juta dollar AS, dengan margin 76,34 persen.
Dari sisi operasional, produksi listrik PGEO mencapai 5.095,48 gigawatt hour (GWh). Angka ini merupakan peningkatan sebesar 5,55 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah perseroan.
Peningkatan produksi ini sebagian besar didorong oleh beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2, yang berhasil menambah kapasitas terpasang perusahaan.
Prospek dan Tantangan Bisnis Panas Bumi
Pengamat energi sekaligus Member of the Supervisory Board Rumah Energi, Elrika Hamdi, menilai bahwa capaian kinerja PGEO semakin memperkuat peran energi panas bumi dalam upaya transisi energi nasional.
“Kalau melihat rencana transisi energi Indonesia ke depan, bisnis PGEO memiliki potensi tinggi untuk berkembang karena masih ada sejumlah lapangan panas bumi yang sedang dieksplorasi yang kemudian dapat dieksploitasi, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi investor,” ujar Elrika dalam keterangan tertulis, Jumat (24/4/2026).
Menurutnya, energi panas bumi memiliki keunggulan fundamental berupa stabilitas pasokan dengan capacity factor yang dapat mencapai sekitar 90 persen, memungkinkan operasi sepanjang waktu.
Namun, Elrika mengingatkan bahwa pengembangan energi panas bumi menghadapi tantangan signifikan pada tahap awal. Proses identifikasi dan eksplorasi lapangan membutuhkan waktu yang panjang serta memiliki risiko yang tinggi.
“Kalau sudah beroperasi, pembangkit listrik panas bumi umumnya kinerjanya baik dan menguntungkan. Namun, tantangan utama justru berada pada proses awal identifikasi hingga ke eksplorasi, yang memerlukan waktu cukup panjang dan penuh risiko,” jelasnya.
Di sisi lain, kinerja operasional yang stabil dari sektor energi panas bumi dinilai sebagai sinyal positif bagi pasar. Hal ini berpotensi mendorong investasi baru di sektor energi terbarukan yang membutuhkan komitmen jangka panjang.
Kebijakan pemerintah melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) menargetkan porsi energi baru terbarukan mencapai 76 persen pada periode 2025–2034. Kontribusi energi panas bumi ditargetkan sebesar 5,2 gigawatt (GW).
Target tersebut juga sejalan dengan komitmen penurunan emisi karbon Indonesia sebesar 31,89 persen pada tahun 2030, sebagaimana tertuang dalam Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) 2022.
Ikuti Akses.co.id
