Cahaya

Pesantren Rasa Korporasi: BIMA Melejit dengan 3 Kampus, 5.000 Santri, hingga Jaringan 16 Negara

Advertisement

Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) menjelma menjadi sebuah fenomena unik dalam lanskap pendidikan pesantren di Indonesia. Lembaga ini berhasil mengawinkan manajemen modern ala korporasi dengan akar nilai kepesantrenan yang kuat, menghasilkan model pendidikan yang inklusif dan berorientasi global.

Sejak didirikan pada tahun 2013, BIMA kini telah melebarkan sayapnya dengan tiga kampus utama: Bina Insan Mulia I, II, dan III. Perkembangan pesat ini menjadi cerminan komitmen pendirinya, Kiai Haji Imam Jazuli, untuk menyediakan pendidikan berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat.

Sosok Visioner di Balik Kemajuan BIMA

Di balik kesuksesan BIMA, terdapat peran sentral Kiai Haji (KH) Imam Jazuli, seorang figur dengan latar belakang akademik dan pengalaman organisasi yang mumpuni. KH Imam Jazuli merupakan alumnus Universitas Al-Azhar, Mesir.

DR KH Nanang Firdaus Masduki Lc MM, Pimpinan Syafana Islamic School BSD City, yang merupakan teman seperjuangan KH Imam Jazuli di Universitas Al-Azhar, berbagi cerita mengenai kiprah dan keunikan sosok pendiri BIMA tersebut.

Nanang mengenang, bahkan sejak masa mahasiswa di Kairo, Imam Jazuli telah menunjukkan karakter yang menonjol di antara teman-temannya.

“Di saat banyak mahasiswa memilih menekuni muqarar atau diktat kitab di apartemen, dia justru memilih jalur ‘berisik’. Dia aktivis tulen. Nafasnya ada di organisasi,” kenang Nanang kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).

Menariknya, meskipun sangat aktif dalam berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan, Imam Jazuli tetap mampu mempertahankan prestasi akademiknya hingga lulus tepat waktu. Hal ini dianggap sebagai pencapaian yang langka.

“Biasanya, kalau tidak lulusnya telat, ya organisasinya yang mandek. Izul sabet keduanya,” tambah Nanang, merujuk pada panggilan akrab Imam Jazuli.

Karakteristik inilah yang kemudian membentuk gaya kepemimpinannya dalam membangun pesantren.

Perpaduan Unik: Manajemen Korporat dan Jiwa Santri

Keunikan BIMA juga terlihat jelas dalam sistem pengelolaannya yang profesional. Nanang menilai pesantren ini sebagai perpaduan langka antara tradisi dan modernitas.

“Dia mengelola pesantren dengan standar korporasi namun tetap berjiwa santri. Dia tidak mengikuti arus, dia menciptakan arus,” ujarnya.

Menurut Nanang, KH Imam Jazuli adalah sosok dengan ide-ide yang tak pernah habis.

“Di kepalanya itu kayak ada gudang gagasan. Stok idenya nggak pernah habis, bahkan sering bikin pusing timnya sendiri,” ungkapnya.

Akses Pendidikan Inklusif untuk Semua Lapisan

Direktur Pengembangan HCM (Human Capital Management) Bina Insan Mulia, Ubaydillah Anwar, menjelaskan bahwa ekspansi fisik BIMA bukan sekadar pertumbuhan, melainkan bagian dari visi besar pendidikan yang inklusif.

“Pesantren Bina Insan Mulia berkembang sangat cepat. Dari tahun 2013 sampai sekarang yang baru berusia sekitar 13 tahun, sudah menjadi tiga, yaitu Bina Insan Mulia I, Bina Insan Mulia II, dan Bina Insan Mulia III,” ujar Ubaydillah Anwar kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).

Pembagian kampus ini, menurut Ubaydillah, didasarkan pada aksesibilitas sosial ekonomi tanpa mengorbankan kualitas pendidikan.

“Yang ekonomi menengah atas bisa memilih di Bina Insan Mulia II, yang ekonomi sedang bisa memilih di Bina Insan Mulia I, sedangkan yang di bawah bisa memilih di Bina Insan Mulia III,” jelasnya.

Advertisement

Meski demikian, Ubaydillah menegaskan bahwa perbedaan fasilitas tidak mengurangi kualitas pembinaan santri.

“Meskipun berbeda-beda fasilitasnya, tetapi secara layanan pendidikan dan kehadiran kiai di hati santri melalui berbagai kegiatan sama. Semua orang punya kesempatan untuk berkembang,” tegasnya.

Target Lulusan: Saleh dan Berkontribusi Strategis

Lebih lanjut, Ubaydillah menekankan bahwa BIMA tidak hanya berfokus pada pembentukan akhlak mulia, tetapi juga pada peran strategis santri di masa depan.

“Kiai Imam Jazuli ingin menghantarkan santrinya bukan saja menjadi generasi yang saleh berakhlak mulia, tetapi generasi yang saleh plus punya peranan strategis untuk pembangunan Indonesia,” katanya.

Untuk mewujudkan visi tersebut, pesantren secara aktif memfasilitasi santri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, baik di dalam maupun luar negeri.

“Sebagian besar diarahkan untuk mendalami STEM, sains dan teknologi. Sebagian kecil ke studi keislaman di Timur Tengah seperti Mesir, Tunisia, Jordania, dan Maroko. Sisanya ke Eropa, seperti Rusia, Prancis, Jerman, dan Inggris,” jelasnya.

Ubaydillah menambahkan, meskipun usianya masih tergolong muda, jaringan alumni BIMA sudah tersebar luas.

“Santri Bina Insan Mulia yang usianya baru sekitar 13 tahun ini sudah berada di 16 negara,” ujarnya.

Pesantren Berbasis Aswaja dan Melek Politik

Sebagai pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama, BIMA menanamkan praktik keagamaan yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah.

“Praktik ibadah di dalamnya menerapkan Ahlussunnah wal Jamaah dengan corak ke-NU-an,” kata Ubaydillah.

Selain itu, BIMA juga menjadi salah satu pesantren pionir yang memperkenalkan pendidikan politik bagi santri melalui Sekolah Pendidikan Politik Bina Insan Mulia.

“Pesantren ini menjadi salah satu yang pertama memiliki sekolah politik untuk para santri. Santri harus berani masuk ke pertarungan politik sebagai bentuk panggilan untuk terlibat dalam pembangunan Indonesia,” tegasnya.

Menuju Pesantren Masa Depan

Dengan perpaduan manajemen profesional, akses pendidikan yang inklusif, jejaring global, serta keberanian membuka ruang politik bagi santri, BIMA dipandang sebagai model pesantren masa depan.

Nanang melihat konsistensi karakter Imam Jazuli sejak masa muda hingga kini menjadi kunci utama dari transformasi tersebut.

“Dia adalah aktivis yang tuntas, pengusaha yang cerdas, dan kiai yang visioner,” ujarnya.

Fenomena BIMA menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya mampu beradaptasi di tengah perubahan zaman, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak lahirnya generasi unggul yang religius, intelektual, dan siap berkontribusi di kancah global.

Advertisement