Akses.co.id — BANDUNG BARAT, KOMPAS.com – IPB University meluncurkan program “Kampus Berdampak” di Desa Tugumukti, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Jumat (24/5/2024). Program ini bertujuan memperkuat produksi komoditas sayuran dan membenahi manajemen pascapanen petani hortikultura di wilayah tersebut. Melalui skema One Village One CEO (OVOC) dan Desa Sejahtera Astra (DSA), inisiatif ini berfokus pada peningkatan produktivitas dari hulu ke hilir, mencakup kualitas hasil panen, pengemasan, hingga akses pasar.
Rektor IPB University, drh. Alim Setiawan Slamet, menegaskan bahwa konsep Kampus Berdampak menempatkan perguruan tinggi sebagai motor penggerak perubahan sosial-ekonomi di tingkat desa. Keterlibatan alumni dinilai krusial dalam memberikan pendampingan teknis di lapangan, khususnya untuk meningkatkan produksi dan pengelolaan pascapanen.
“Melalui program OVOC dan Desa Sejahtera Astra, kami mendampingi masyarakat desa dengan inovasi dan teknologi agar lebih produktif, memiliki akses pasar, serta mampu menjadi pelaku usaha mandiri,” ujar Alim Setiawan saat ditemui di lokasi peluncuran.
Pendekatan yang diterapkan bersifat terintegrasi, mulai dari pengembangan komoditas unggulan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga penguatan akses pembiayaan dan pasar. “Desa tidak lagi sekadar obyek pembangunan, melainkan menjadi subyek utama dalam menggerakkan ekonomi lokal,” tambahnya.
Program ini melibatkan kolaborasi multipihak melalui pendekatan pentahelix, yang mencakup akademisi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan media. Pada kesempatan peluncuran, turut dilakukan penandatanganan kerja sama dengan mitra pasar serta pameran produk hasil inovasi.
Dukungan Astra dan Kebutuhan Riset
Head of Environment and Social Responsibility PT Astra International Tbk, Diah Suran Febrianti, menyampaikan bahwa program ini telah merangkul sekitar 400 masyarakat, dengan fokus pada komoditas hortikultura seperti selada air, labu, buncis, tomat, cabai, kol merah, kenya, dan paprika. “Hingga saat ini, program berhasil menciptakan sekitar 250 lapangan kerja baru, dengan seluruh hasil produksi terserap pasar,” jelasnya.
Selain peningkatan produksi, program ini juga mendorong penguatan branding, pemasaran digital, dan membuka peluang ekspor sebagai bagian dari pengembangan ekosistem bisnis desa. Direktur Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Heri Kuswanto, menekankan pentingnya riset yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat. “Pengabdian kepada masyarakat harus membawa nilai dan memperkuat potensi yang ada. Sinergi antara kampus, industri, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjawab berbagai tantangan,” tuturnya.
Potensi dan Kendala Hortikultura Bandung Barat
Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail, mengakui potensi besar sektor hortikultura di daerahnya, namun di sisi lain, KBB masih menghadapi sejumlah kendala. “Pola produksi yang masih konvensional, keterbatasan teknologi, hingga akses pasar yang belum optimal menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus segera diatasi,” kata Asep Ismail.
Ia menilai program Kampus Berdampak dengan pendekatan OVOC sangat relevan untuk mengatasi persoalan tersebut. Menurutnya, program ini tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga membangun ekosistem bisnis desa secara menyeluruh. ““Program ini berbasis inovasi, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat. Ini yang kita butuhkan untuk mendorong kemajuan desa secara berkelanjutan,”” tandasnya.
Ikuti Akses.co.id
