Regional

Perjuangan Sonya Da Gama, Rintis Usaha Tenun Ikat Hingga Dipasarkan Keluar NTT

Advertisement

MAUMERE, KOMPAS.com – Tekad kuat untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi kedua anaknya mendorong Angelia Sonya Da Gama merintis usaha tenun ikat di Maumere, Nusa Tenggara Timur. Bisnis yang ia beri nama Angelia Sonya Da Gama (ASDG) Ikat Production ini telah berjalan sepuluh tahun dan kini mampu menembus pasar hingga ke kota-kota besar seperti Jakarta.

Di balik kesuksesan yang mulai ia rasakan, Sonya harus melewati badai kehidupan yang tak mudah. Perceraian dengan sang suami, yang berasal dari Medan, pada tahun 2018 menjadi titik balik yang mengharuskannya kembali ke Maumere bersama kedua buah hatinya. Setahun kemudian, ia memberanikan diri memulai usaha tenun ikat.

“Anak-anak sebenarnya adalah kekuatan saya,” ujar Sonya dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di Maumere, Selasa (20/4/2026).

Inspirasi dari Pariwisata

Ide mendirikan usaha tenun ikat muncul setelah Sonya melihat potensi besar dari kerajinan tangan di Bukittinggi. Ia terkesan dengan bagaimana produk lokal di daerah tersebut mampu dipasarkan hingga ke luar negeri.

“Saya lihat di Bukittinggi itu memang pariwisatanya bagus ya. Tapi kok pemasaran produk lokalnya mereka itu sampai keluar negeri saat itu,” tuturnya.

Bagi Sonya, usaha tenun ikat ini bukan sekadar memproduksi barang. Ia melihatnya sebagai sarana untuk belajar bercerita (storytelling) dan menggali lebih dalam potensi tenun Sikka yang kaya akan nilai budaya.

Jejak Pasar dan Standar Internasional

Kini, produk tenun ikat ASDG telah merambah berbagai daerah di Indonesia dan mulai menarik perhatian wisatawan. Meskipun belum mencapai skala ekspor besar, Sonya terus berupaya meningkatkan kualitas produknya.

Advertisement

“Untuk ekspor itu quality control-nya juga memang luar biasa, kita masih perlu perbaikan, tekstur tenun dan sebagainya, kualitas jahit dan sebagainya,” ungkapnya, menekankan pentingnya penyesuaian dengan standar internasional.

Anak sebagai Motivasi Utama

Sonya menegaskan bahwa anak-anaknya adalah sumber kekuatan terbesar dalam setiap perjuangannya. Sebagai seorang ibu, keluarga dan anak-anak memegang peranan sentral dalam hidupnya.

“Sebagai seorang ibu, keluarga adalah segalanya terutama anak-anak,” katanya.

Oleh karena itu, ia sangat menekankan pentingnya pendidikan, pembentukan karakter, dan pelestarian budaya bagi anak-anaknya. Sonya meyakini bahwa pendidikan adalah bekal terpenting bagi seorang perempuan untuk dapat mandiri dan menyelamatkan dirinya sendiri.

“Pendidikan adalah senjata mereka, itulah investasi kehidupan. Makanya saya selalu berjuang untuk sekolahkan mereka sampai perguruan tinggi,” pungkasnya.

Advertisement