Akses.co.id — SURABAYA, Kompas.com – Menjalani hidup sebagai orang tua tunggal menuntut perempuan untuk mengemban tanggung jawab berlapis, mulai dari pemenuhan kebutuhan ekonomi hingga menjadi pilar emosional bagi anak. Kondisi ini secara inheren membentuk ketangguhan yang tumbuh dari tekanan kehidupan.
Dra. Lanny Herawati, seorang konselor dari Universitas Kristen Petra Surabaya, menyoroti bahwa kompleksitas tuntutan hidup memaksa perempuan single parent untuk menjadi pribadi yang kuat. “Perempuan single parent di tengah tuntutan hidup yang kompleks mau tidak mau harus menjadi pribadi yang kuat, sekalipun menjalaninya tidak mudah,” ujar Lanny kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).
Kekuatan tersebut, menurut Lanny, termanifestasi dalam berbagai bentuk. Mulai dari kegigihan dalam bekerja demi menopang keluarga, kemandirian dalam mengambil setiap keputusan penting, hingga kemampuan untuk bangkit kembali setelah mengalami keterpurukan emosional. “Dia harus kuat mental, sehingga ketika air mata berderai, dia sanggup bangkit dengan kecakapan resiliensi,” jelasnya.
Banyak perempuan single parent juga menjadikan nilai spiritual sebagai jangkar dalam menghadapi badai kehidupan. Keyakinan memberikan ruang untuk tetap teguh, bahkan ketika situasi terasa sangat berat.
Tekanan Hidup Membentuk Ketangguhan dan Perawatan Diri
Lebih lanjut, Lanny mengidentifikasi tekanan ekonomi dan sosial sebagai tantangan terbesar yang sering dihadapi perempuan single parent. Namun, di balik berbagai tekanan tersebut, tersembunyi proses pembentukan mental yang tidak sederhana. “Menghadapi tekanan membutuhkan pribadi yang ulet dan tangguh. Perempuan harus punya skill dan mental pejuang, bukan mental mencari belas kasihan,” tegas Lanny Herawati.
Ia menambahkan, setiap usaha yang dijalani dengan kesungguhan akan membuahkan hasil. Keteguhan dalam menjalani peran sebagai orang tua tunggal juga memberikan dampak langsung pada perkembangan mental anak-anak. “Selama hidup di jalan yang benar, dia akan lebih kuat menghadapi tekanan sosial. Dengan demikian, anak-anaknya pun akan memiliki mental yang kuat,” tuturnya.
Di sisi lain, Lanny menekankan pentingnya perempuan single parent untuk tetap menyisihkan waktu bagi diri sendiri di tengah kesibukan yang tiada henti. Strategi coping yang sehat menjadi kunci agar tidak terperosok dalam kelelahan emosional. “Perlu menerima diri dan mengasihi diri, tapi bukan mengasihani,” kata Kepala Pusat Konseling dan Pengembangan Diri UKP itu.
Memberikan waktu untuk “me time” bukanlah bentuk egoisme, melainkan cara vital untuk menjaga kewarasan. Selain itu, memiliki komunitas yang suportif juga krusial sebagai wadah berbagi dan mendapatkan dukungan emosional. Ketika beban terasa semakin berat, mencari bantuan profesional menjadi langkah bijak. Kedekatan dengan Tuhan juga menjadi sumber kekuatan batin yang tak ternilai. “Dekat dengan Tuhan karena itu tempat berteduh dan kekuatan sejati,” ujar Lanny.
Lingkungan Suportif Kunci Pertumbuhan
Perjalanan perempuan single parent, menurut Lanny, juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Dukungan keluarga menjadi faktor penentu, terutama dalam memenuhi kebutuhan figur ayah bagi anak-anak. Namun, dukungan yang paling dibutuhkan bukanlah belas kasihan atau penyesalan atas masa lalu.
“Support system yang sehat bukan mengasihani atau menyalahkan, seperti mengatakan ‘seandainya dulu…’,” jelas Lanny.
Sebaliknya, yang krusial adalah pendampingan yang membuka ruang bagi pertumbuhan. Kehadiran keluarga yang mendukung tanpa mengambil alih peran justru membantu anak-anak belajar tentang tanggung jawab. [video.1]
Seiring waktu menjalani peran sebagai orang tua tunggal, Lanny menggarisbawahi bahwa ini bukan hanya tentang menghadapi kesulitan, tetapi juga tentang menciptakan makna. Setiap perjuangan yang dijalani menghadirkan pelajaran hidup berharga bagi diri sendiri dan anak-anak. Di tengah berbagai tekanan, perempuan single parent membuktikan bahwa kekuatan tidak selalu terlihat garang, melainkan hadir dalam kesabaran, ketekunan, dan cinta tanpa syarat.
Lanny menambahkan, perempuan single parent tidak hanya bertahan, tetapi sedang membangun generasi yang kelak memahami arti tanggung jawab, keteguhan, dan harapan, langsung dari sosok yang mereka saksikan setiap hari. “Ini akan menjadi hal yang membanggakan bagi anak-anak sepanjang hidup mereka,” pungkasnya.
Ikuti Akses.co.id
