Akses.co.id — Situasi genting di Teluk Persia menunjukkan pergeseran taktik dari konfrontasi militer menjadi adu kesabaran, di mana Iran justru mampu membalikkan prediksi awal yang menempatkan Amerika Serikat dalam posisi lebih kuat. Meskipun saluran diplomatik antara kedua negara masih terbuka secara resmi dan Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata, pembicaraan konkret justru mandek tanpa jadwal baru yang pasti.
Menurut kantor berita nasional Tasnim, Iran belum memiliki rencana untuk kembali duduk di meja perundingan dengan Amerika Serikat. Laporan media AS sebelumnya yang menyebutkan kemungkinan putaran negosiasi baru pada Jumat (24/4/2026) tampaknya belum berbuah kenyataan.
Dalam potensi negosiasi, selain isu nuklir Iran yang menjadi prioritas utama Trump, isu sensitif lain seperti masa depan penggunaan Selat Hormuz juga diperkirakan akan mengemuka. Iran sendiri telah menyatakan pada Kamis (23/4/2026) kesediaannya menerima pembayaran bea pelayaran melalui selat krusial tersebut. “Biaya tol pertama telah disetorkan ke rekening Bank Sentral Iran,” kata Tasnim mengutip wakil ketua parlemen Iran.
Pertarungan Strategi dan Ketahanan
Para pakar menilai bahwa dinamika saat ini lebih mencerminkan pertarungan strategi, waktu, pengaruh, dan ketahanan daripada pertukaran serangan militer langsung. “Saat ini, kedua belah pihak seperti sedang dalam permainan kesabaran taktis,” ujar Hanna Voss, pakar Timur Tengah dari Friedrich-Ebert-Stiftung, dalam wawancara dengan DW.
Iran menunjukkan kehati-hatian dalam merespons kemungkinan pembicaraan dengan AS. “Di Teheran, ada kekhawatiran besar bahwa ini adalah tipu daya—negosiasi tetapi di saat yang sama militer tetap siap sedia,” jelas Voss.
Kewaspadaan ini sejalan dengan perhitungan strategis Iran. Pauline Raabe, analis politik dari think tank Berlin Middle East Minds, menambahkan, “Bagi Iran, taruhannya jauh lebih besar karena ini menyangkut wilayahnya sendiri.” Oleh karena itu, Teheran dinilai menggunakan instrumennya dengan bijaksana. “Berkaitan dengan Selat Hormuz, Iran tidak diragukan lagi berada dalam posisi yang kuat—saat ini Hormuz adalah instrumen penting.”
Posisi Iran dalam mengendalikan Selat Hormuz tidak hanya efektif secara militer, tetapi terutama secara ekonomi. Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat bahwa Iran memanfaatkan letak geografisnya untuk memberikan tekanan terhadap perekonomian global dengan mengendalikan lalu lintas di selat tersebut. Energi menjadi isu utama, di mana minyak dan gas memiliki konsekuensi jangka panjang bagi pasar regional dan global, sebagaimana ditekankan oleh Washington Institute.
Selat Hormuz: “Kartu As” Iran
Voss menyebut Selat Hormuz sebagai “instrumen” yang mudah digunakan. “Tidak perlu banyak usaha untuk memblokade jalur ini secara efektif.” Ancaman saja sudah cukup untuk memicu dampak ekonomi yang signifikan, seperti perusahaan pelayaran yang mundur dan perusahaan asuransi yang menarik diri, sementara ancaman senjata nirawak dan ranjau terus membayangi jalur laut tersebut.
“Dengan kata lain: Secara taktis, Iran saat ini memegang kendali yang lebih kuat dan justru dari situlah muncul keunggulan strategis,” kata Voss.
Raabe menambahkan bahwa Iran kerap diremehkan dalam dimensi militer. “Tampaknya Iran kerap diremehkan, tetapi negara itu terbukti masih mampu meluncurkan rudal secara rutin.” Hal ini membantah anggapan bahwa Iran telah melemah secara signifikan, sebaliknya, negara tersebut justru secara terarah meningkatkan kemampuannya dalam beberapa tahun terakhir.
Aktor Ideologis di Tengah Konflik
Konflik ini juga melampaui ranah militer, di mana Iran digambarkan sebagai aktor yang bertindak tidak hanya sebagai negara, tetapi juga sebagai aktor ideologis. Kesepakatan yang dibuat bersifat praktis, namun sikap dasar Iran tidak berubah.
Karakteristik struktural ini tercermin dalam negeri. “Pimpinan Iran siap menuntut banyak hal dari rakyatnya sendiri,” kata Voss, merujuk pada tingkat penderitaan di dalam negeri yang jauh lebih tinggi dibandingkan masyarakat Barat selama puluhan tahun.
Raabe menyoroti dinamika sosial: “Ketika masyarakat dalam negeri menyaksikan negaranya diserang dari luar, hal itu dapat mempererat hubungan mereka.” Namun, ini lebih merupakan reaksi terhadap tekanan eksternal daripada dukungan otomatis terhadap rezim yang berkuasa.
Sementara Iran mengandalkan strategi ketahanan jangka panjang, tekanan politik dalam negeri di AS semakin meningkat. “Seiring berjalannya waktu, dampak ekonomi semakin terasa,” kata Raabe, mengacu pada kenaikan harga energi dan ketidakpastian pasar yang berdampak langsung pada opini publik.
Namun, dalam jangka pendek, konflik ini justru menstabilkan sistem Iran. “Hal ini mengarah pada konsolidasi internal,” kata Voss. Perang ini dinilai sesuai dengan logika ideologis yang telah dipersiapkan rezim.
Konsesi dan Imbalan dalam Dinamika Diplomatik
Dinamika diplomatik pun mengalami pergeseran. Surat kabar pan-Arab Al Quds Al Arabi melihat adanya tekanan yang semakin besar terhadap Washington untuk meredam konflik ini secara politis. Teheran tampil semakin percaya diri dan menuntut imbalan konkret untuk setiap konsesi yang diberikannya, seperti pelonggaran sanksi atau pencairan aset Iran yang dibekukan.
Keberhasilan strategi Iran juga terkait dengan perang asimetris yang dijalankannya. Meskipun mengalami kekalahan militer, Teheran disebut masih memberikan pengaruh signifikan melalui serangan siber, sabotase, dan tekanan ekonomi, menurut CSIS.
Washington Institute memperkirakan beberapa skenario hasil perang. Skenario pertama adalah “kekalahan tersembunyi” AS melalui gencatan senjata, sementara Iran tetap mempertahankan pengaruhnya. Skenario lainnya adalah “kekalahan terbuka” AS, di mana Teheran bertahan hingga AS tidak lagi mampu membendung tekanan yang begitu besar.
Pada akhirnya, konflik ini menyempit menjadi satu pertanyaan krusial: Siapa yang dapat bertahan lebih lama—secara ekonomi, politik, dan sosial? Seperti yang diungkapkan Raabe, “Waktu yang ada saat ini cenderung tidak berpihak pada AS,” dan Voss menambahkan, “Waktu sedang berpihak pada Iran.”
Ikuti Akses.co.id
