— Penutupan Selat Hormuz dalam dua bulan terakhir telah memicu pergeseran signifikan dalam peta perdagangan global. Sejumlah perusahaan pelayaran terkemuka kini mengalihkan rute distribusi barang mereka melalui jalur darat, sebuah langkah yang terpaksa diambil karena kapal tidak lagi dapat menjangkau wilayah pesisir negara-negara Teluk.

Situasi ini memaksa pengiriman bahan pangan dan barang manufaktur ke kawasan tersebut kini sepenuhnya mengandalkan truk. Laporan dari Agence France-Presse (AFP) pada Jumat (1/5/2026) mengindikasikan bahwa Pelabuhan Jeddah di Arab Saudi, yang terletak di Laut Merah, telah bertransformasi menjadi pusat distribusi baru.

Pergeseran Rute dan Pelabuhan Alternatif

Kapal-kapal dari operator besar seperti MSC, CMA CGM, Maersk, dan Cosco kini tiba di Pelabuhan Jeddah melalui Terusan Suez. Dari sana, barang-barang kemudian diangkut menggunakan truk melintasi daratan menuju berbagai negara tujuan. Wilayah seperti Sharjah, Bahrain, dan Kuwait, yang sebelumnya dilayani jalur laut, kini harus mengandalkan moda transportasi darat sejak dua bulan terakhir.

Namun, lonjakan arus barang ini turut menimbulkan kepadatan di Pelabuhan Jeddah. Rata-rata waktu tunggu untuk bongkar muat dilaporkan meningkat tajam, dari sekitar 17 jam menjadi 36 jam.

Selain Jeddah, perusahaan pelayaran juga mulai menjajaki pelabuhan alternatif di luar Selat Hormuz. Pelabuhan Sohar di Oman, serta Khor Fakkan dan Fujairah di Uni Emirat Arab, kini menjadi pilihan baru. Sementara itu, Pelabuhan Aqaba di Yordania dimanfaatkan sebagai basis distribusi untuk Irak, mencakup kota-kota seperti Baghdad dan Basra. Jalur darat yang berasal dari Turki juga mulai dioptimalkan untuk memasok wilayah Irak bagian utara.

Kapal Menghindari Laut Merah Akibat Risiko Keamanan

Perubahan rute pelayaran ini sebenarnya telah berlangsung sejak akhir tahun 2023. Pemicunya adalah peningkatan risiko keamanan di Laut Merah, menyusul serangkaian serangan yang dilancarkan oleh kelompok Houthi, yang didukung Iran, terhadap kapal-kapal komersial.

Akibatnya, banyak kapal memilih untuk memutar haluan melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan sebagai rute alternatif menuju Eropa. Keputusan ini diambil untuk menghindari Laut Merah dan Terusan Suez.

Data menunjukkan bahwa sekitar 70 persen lalu lintas pengiriman yang sebelumnya melalui Laut Merah kini telah dialihkan ke rute yang lebih panjang ini. Lalu lintas kapal melalui Tanjung Harapan bahkan mengalami peningkatan lebih dari tiga kali lipat dalam tiga tahun terakhir.

Sebaliknya, aktivitas pelayaran di Selat Bab al-Mandeb mengalami penurunan drastis. Jika pada tahun 2023 rata-rata terdapat 18 kapal per hari yang melintas, kini jumlah tersebut menyusut menjadi hanya sekitar lima kapal dalam periode yang sama beberapa tahun kemudian.

Dampak Lonjakan Waktu dan Biaya Logistik

Pergeseran rute pelayaran ini memiliki dampak langsung pada efisiensi dan biaya logistik global. Waktu tempuh pengiriman antara Asia dan Eropa kini bertambah rata-rata dua pekan.

Biaya operasional turut melonjak. Kebutuhan bahan bakar meningkat antara 30 hingga 50 persen, sementara penambahan armada kapal sebesar 10 hingga 20 persen diperlukan untuk menjaga frekuensi layanan.

Harga pengiriman kontainer ukuran standar 40 kaki juga tercatat mengalami kenaikan sekitar 14 persen pada bulan April, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Di sisi lain, beberapa pelabuhan di Afrika justru mencatat peningkatan aktivitas. Pelabuhan Tanger Med di Maroko, misalnya, melaporkan peningkatan volume hingga 11 juta kontainer pada tahun 2025, yang merupakan kenaikan sebesar 8,4 persen.

Sementara itu, Mesir harus menelan kerugian besar akibat berkurangnya lalu lintas di Terusan Suez. Pada tahun 2024, pendapatan dari kanal tersebut dilaporkan turun lebih dari 60 persen, atau setara dengan sekitar 7 miliar dollar AS, dibandingkan tahun sebelumnya.

Situasi ini menggarisbawahi bagaimana konflik di Timur Tengah tidak hanya mengancam keamanan kawasan, tetapi juga secara signifikan mengguncang rantai pasok global dan memaksa industri pelayaran untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan kondisi.