Akses.co.id — WASHINGTON DC – Pentagon secara tegas membantah laporan yang menyebutkan bahwa pihaknya memerlukan waktu enam bulan untuk membersihkan sepenuhnya Selat Hormuz dari ranjau yang diduga ditanam oleh Iran. Departemen Pertahanan Amerika Serikat menilai informasi tersebut sebagai bagian dari pengambilan data yang selektif dan tidak akurat.
Sebelumnya, surat kabar The Washington Post melaporkan pada Rabu (22/4/2026) bahwa Pentagon telah menyampaikan perkiraan waktu enam bulan tersebut dalam sebuah pengarahan rahasia kepada anggota Komite Angkatan Bersenjata. Laporan itu mengutip tiga pejabat anonim yang mengetahui jalannya diskusi tersebut.
Menanggapi pemberitaan itu, Juru Bicara Utama Pentagon, Sean Parnell, memberikan bantahan keras. “Media yang memilih-milih informasi yang bocor, yang sebagian besar salah, dari pengarahan tertutup dan rahasia adalah jurnalisme yang tidak jujur,” ujar Parnell kepada AFP pada Kamis (23/4/2026).
Parnell menambahkan, “Satu penilaian bukan berarti penilaian tersebut masuk akal, dan penutupan Selat Hormuz selama enam bulan adalah hal yang mustahil dan sama sekali tidak dapat diterima oleh Menteri.”
Iran Diduga Tanam Lebih dari 20 Ranjau
Para anggota parlemen Amerika Serikat sebelumnya telah diberi informasi bahwa Teheran diduga telah menempatkan 20 ranjau atau lebih di dalam dan sekitar Selat Hormuz. Beberapa ranjau tersebut dilaporkan dihanyutkan dari jarak jauh menggunakan teknologi GPS, yang membuatnya semakin sulit untuk dideteksi, menurut The Washington Post.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) juga telah mengeluarkan peringatan mengenai “zona bahaya” yang meliputi area seluas 1.400 kilometer persegi, di mana ranjau tersebut kemungkinan besar berada.
Angkatan Laut Amerika Serikat menyatakan pada bulan ini bahwa kapal-kapal mereka telah melintasi jalur air tersebut untuk memulai operasi pembersihan ranjau. Namun, klaim tersebut dibantah oleh IRGC, yang mengancam kapal-kapal militer mana pun yang mencoba menyeberangi selat itu.
Iran diketahui telah menutup jalur air yang krusial tersebut sejak perang meletus pada akhir Februari 2026. Penutupan ini secara otomatis memicu kenaikan harga minyak dan gas, serta mengganggu perekonomian global. Teheran sendiri telah menyatakan sumpah untuk tidak membuka kembali Selat Hormuz selama Amerika Serikat memblokade pelabuhannya.
Ikuti Akses.co.id
