— JAKARTA, KOMPAS.com — Sepeda klasik era 1870-an, Penny Farthing, sukses mencuri perhatian pengunjung Car Free Day (CFD) di kawasan Sudirman–Thamrin, Jakarta, Minggu (26/4/2026). Bentuknya yang unik dengan roda depan berukuran raksasa dan roda belakang jauh lebih kecil membuat banyak warga berhenti untuk berfoto dan bahkan mencoba sensasi mengendarainya.

Kehadiran lima unit sepeda Penny Farthing yang dibawa berkeliling oleh komunitas di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, memberikan pemandangan berbeda di tengah hiruk pikuk CFD. Ukuran roda depannya yang mencapai sekitar 48 inci, berbanding terbalik dengan roda belakang yang hanya berkisar 16 hingga 20 inci, membuat sepeda ini terlihat mencolok dan mudah dikenali dari kejauhan.

Keunikan yang Mengundang Penasaran

Bagi sebagian pengunjung, Penny Farthing bukan barang asing karena kerap muncul di media sosial. Namun, melihatnya secara langsung di CFD memunculkan rasa penasaran yang lebih besar.

Hendra, seorang warga Karet Tengsin, mengaku takjub dengan desain sepeda tersebut. “Kalau melihat sering di sosmed, nah pas ada di CFD ini saya coba foto. Ban besar dan beda ukuran kan itu uniknya, saya penasaran juga bagaimana mengendarainya, belum pernah coba,” ujarnya kepada Kompas.com di kawasan Bundaran HI, Minggu (26/4/2026).

Meski penasaran, Hendra memilih untuk tidak mencoba mengendarai sepeda antik ini karena khawatir terjatuh. “Enggak coba tadi takut juga, tari cuma foto saja,” tuturnya.

Sensasi Mengendarai Sepeda Klasik

Berbeda dengan Hendra, Sri, warga Mampang, justru memberanikan diri mencoba sensasi mengendarai Penny Farthing dengan bantuan anggota komunitas.

“Susah banget enggak, tapi harus tekun latihan sepertinya. Saya baru coba pertama kali jadi masih kaku,” kata Sri setelah mencoba.

Ia menambahkan, ketertarikannya untuk mencoba sepeda abad ke-19 ini berawal dari sering melihatnya di media sosial. “Iya, kalau lihat di sosmed sering, tapi kalau secara langsung baru kali ini, makanya tadi cobain,” ungkapnya.

Replika Buatan Indonesia, Simbol Status Sosial Era Victoria

Fahmi, founder Komunitas Penny Farthing Indonesia, menjelaskan bahwa sepeda yang dipamerkan di CFD adalah replika yang seluruhnya dibuat di Indonesia. Ia menambahkan bahwa Penny Farthing merupakan sepeda periode kedua dalam sejarah penciptaan sepeda, yang mulai diproduksi pada tahun 1870-an.

“Tapi yang ada di CFD saat ini adalah replika, buatan Indonesia. Penny Farthing ini adalah sepeda periode kedua dalam sejarah penciptaan sepeda,” terang Fahmi.

Pada masanya, sepeda ini tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi, tetapi juga menjadi simbol status sosial. Posisi pengendara yang lebih tinggi dari pejalan kaki memberikan kesan superioritas.

“Jadi kalau mereka naik Penny Farthing, mereka akan melihat orang berjalan kaki ke bawah. Dan orang yang jalan kaki akan melihat ke atas. Di situlah nilai derajat kemanusiaan diukur dari sepeda Penny Farthing ini,” pungkas Fahmi.