Akses.co.id — YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Penggerebekan terhadap tempat penitipan anak (daycare) Little Aresha di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, ternyata berawal dari laporan seorang mantan karyawannya. Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Eva Guna Pandia mengungkapkan, laporan tersebut muncul setelah karyawan tersebut merasa ada perlakuan yang tidak manusiawi terhadap anak-anak yang dititipkan.
“Awalnya dari karyawannya itu melihat bahwa perlakuan terhadap bayi atau anak yang dititip itu kurang manusiawi,” kata Pandia saat dihubungi, Sabtu (25/4/2026).
Ketidaksesuaian dengan nurani itulah yang mendorong karyawan tersebut untuk mengundurkan diri. “Tidak sesuai dengan hati nuraninya karena mungkin ada yang dianiaya juga mungkin kan. Ditelantarkan, akhirnya dia merasa tidak sesuai hati nurani minta resign,” ujar Pandia.
Namun, situasi semakin rumit ketika ijazah karyawan tersebut ditahan oleh pihak daycare setelah ia mengundurkan diri. “Ijazahnya ditahan sama pemilik sehingga dia melaporlah ke kita. Sehingga kami dapat informasi seperti itu. Langsung ditindaklanjuti,” bebernya.
Pantauan Kompas.com di lokasi pada Sabtu siang menunjukkan bahwa daycare tersebut dalam kondisi tutup dan telah dipasangi garis polisi. Spanduk yang terpasang di depan pagar menginformasikan bahwa tempat penitipan anak ini melayani anak usia 2 bulan hingga 8 tahun.
Orang Tua Temukan Luka Lebam dan Tanda Trauma
Salah seorang orang tua murid, Aldewa, mengaku mengetahui kabar penggerebekan itu dari media sosial pada Jumat sore. Ia terkejut mendengar laporan bahwa anak-anak terlihat diikat.
“Itu saya baca jam 5 ada ibu jemput katanya lihat di video sudah posisi diiket (anak) dan segala macam,” katanya saat ditemui di Yogyakarta, Sabtu (25/4/2026).
Aldewa mengakui sempat menemukan luka lebam di kaki anaknya yang berusia 3 tahun. Namun, ia awalnya mengira luka itu disebabkan oleh jatuh. “Kalau bekas luka, terakhir kemarin dijemput mbahnya itu ada luka lebam di kaki. Nah mbahnya enggak bilang apa-apa. Terus istri saya bilang kayaknya jatuh deh. Ya udah saya juga enggak tanya pihak sekolah,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa anaknya menunjukkan tanda-tanda trauma, seperti menangis setiap kali akan berangkat ke daycare. “Kalau pagi. Biasanya kalau mau sekolah mesti nangis. Tapi kalau udah sampai ‘cep’ diem,” kata Aldewa.
Anak Sering Sakit Tanpa Pemberitahuan
Orang tua lain, Khairunisa, mengungkapkan bahwa anaknya yang berusia 1,5 tahun sering mengalami gangguan kesehatan selama dititipkan di tempat tersebut.
“Dia pilek sampai sekarang belum sembuh. Terus batuk biasanya nggak pernah batuk. Batuknya sampai muntah-muntah,” ujarnya.
Ia juga mencatat penurunan berat badan pada anaknya dan pernah mengalami demam tinggi tanpa ada pemberitahuan dari pihak daycare. “Yang saya kaget dia demam sampai 38,7 derajat atau 39 itu tidak bilang ke kami. Bilangnya pas kami sudah ngomong. Buk ini demam ya. Oh iya demam kemarin,” lanjutnya.
Khairunisa mendatangi Polresta Yogyakarta untuk melapor dan mencari kejelasan atas peristiwa yang terjadi. “Melapor sekaligus melihat kejadian kemarin dan memang anak saya terlihat kondisi tangannya diikat di sini,” katanya.
Polisi saat ini masih terus melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait dugaan kekerasan dan penelantaran anak di tempat penitipan tersebut.
Ikuti Akses.co.id
