Akses.co.id — WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Penembakan yang terjadi di acara jamuan makan malam Gedung Putih di Washington Hilton pada Sabtu (25/4/2026) malam waktu setempat, kembali membuka luka lama terkait ancaman terhadap keselamatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Insiden ini menambah daftar panjang upaya yang mengancam nyawa orang nomor satu di Negeri Paman Sam tersebut, mulai dari penembakan saat kampanye, rencana pembunuhan berencana yang diduga didalangi Iran, hingga serangkaian insiden keamanan yang berulang.
Menurut laporan media Amerika Serikat Axios pada Minggu (26/4/2026), Donald Trump telah dua kali selamat dari upaya pembunuhan yang terjadi selama masa kampanyenya di tahun 2024.
Insiden pertama terjadi pada Juli 2024. Thomas Matthew Crooks, seorang pria berusia 20 tahun, melepaskan tembakan dari sebuah lokasi yang tidak jauh dari arena kampanye Trump di Butler, Pennsylvania, Amerika Serikat.
Tembakan tersebut mengenai telinga kanan Trump. Ia segera dievakuasi dari panggung oleh agen Secret Service. Peristiwa nahas itu merenggut nyawa satu peserta kampanye dan menyebabkan dua lainnya luka-luka. Pelaku, Crooks, tewas di tempat setelah ditembak oleh penembak jitu Secret Service.
Dua bulan berselang, upaya kedua terjadi di West Palm Beach, Florida. Ryan Routh terlihat membawa senapan saat Trump sedang bermain golf di lapangan pribadinya. Beruntung, seorang agen Secret Service berhasil menembak Routh, yang kemudian melarikan diri sebelum akhirnya berhasil ditangkap. Pihak berwenang kemudian mengkonfirmasi bahwa Routh memang memiliki niat untuk membunuh Donald Trump.
Ancaman Pembunuhan Lain yang Menargetkan Trump
Selain dua upaya yang nyaris merenggut nyawanya, Donald Trump juga pernah menghadapi berbagai rencana jahat dan ancaman pembunuhan dari pihak-pihak yang berbeda.
- Pada Juni 2016, seorang warga negara Inggris berusia 20 tahun mencoba merebut senjata seorang petugas polisi dengan tujuan menembak Trump saat kampanye di Las Vegas.
- Pada September 2020, Trump menerima surat yang dikirimkan oleh seorang warga negara ganda Prancis-Kanada. Surat tersebut diketahui berisi racun mematikan jenis ricin.
- Lebih lanjut, pada Juli 2024, seorang warga negara Pakistan ditangkap karena diduga terlibat dalam rencana pembunuhan berencana yang menargetkan Trump atas nama Korps Garda Revolusi Iran.
- Di tahun yang sama, seorang warga Iran didakwa mencoba membunuh warga negara AS lainnya. Ia mengaku diperintahkan untuk juga membunuh Trump.
- Bahkan pada Februari lalu, Dinas Rahasia menembak mati seorang pria berusia 21 tahun yang membawa senapan dan tabung gas ke Mar-a-Lago, kediaman Trump, saat sang presiden berada di Washington.
Insiden Penembakan di Acara Jamuan Gedung Putih
Peristiwa penembakan di Washington Hilton pada Sabtu malam lalu memaksa Trump dievakuasi setelah suara tembakan terdengar. Suara ledakan keras menggema dan para tamu yang hadir dalam acara jamuan makan resmi Gedung Putih segera berhamburan mencari perlindungan di bawah meja, seperti dilaporkan oleh AFP.
Tim taktis bersenjata lengkap segera mengambil posisi di panggung tempat Trump duduk sebelum akhirnya mengevakuasinya. Trump dan istrinya dilaporkan berhasil lolos dari insiden tersebut tanpa cedera. Ketika ditanya apakah ia yakin menjadi target, Trump menjawab, “Kurasa begitu.”
Pelaku Penembakan Telah Ditangkap
Tak lama setelah insiden tersebut, Trump mengumumkan melalui unggahan di akun media sosialnya, Truth Social, bahwa pelaku penembakan telah berhasil ditangkap.
“Dinas Rahasia dan Penegak Hukum melakukan pekerjaan yang fantastis. Mereka bertindak cepat dan berani. Pelaku penembakan telah ditangkap,” tulis Trump.
Pihak berwenang kemudian mengidentifikasi tersangka pelaku penembakan sebagai Cole Tomas Allen, seorang pria berusia 31 tahun asal California. Ia diketahui merupakan tamu di hotel Washington Hilton.
Carroll, kepala polisi DC, menyatakan bahwa penyelidikan masih dalam tahap awal, namun para penyidik meyakini tersangka memang melepaskan tembakan. FBI juga dilaporkan sedang memeriksa balistik dan senjata api laras panjang yang ditemukan di lokasi kejadian, serta mewawancarai para saksi mata.
Direktur FBI, Kash Patel, mengimbau masyarakat untuk membagikan informasi apa pun yang relevan dengan peristiwa tersebut guna membantu kelancaran penyelidikan.
Ikuti Akses.co.id
