PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatat perbaikan kinerja keuangan pada kuartal I 2026. Maskapai pelat merah ini berhasil meningkatkan pendapatan usaha dan menekan angka kerugian bersih, meskipun masih dibayangi oleh beban keuangan dan struktur liabilitas yang tinggi.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim per 31 Maret 2026, Garuda Indonesia membukukan pendapatan usaha sebesar 762,35 juta dollar AS atau setara Rp 13,14 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.240 per dollar AS). Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 723,56 juta dollar AS atau sekitar Rp 12,48 triliun.
Pendapatan Usaha Tumbuh Didorong Bisnis Penerbangan Berjadwal
Pertumbuhan pendapatan Garuda Indonesia terutama didorong oleh kinerja bisnis penerbangan berjadwal. Segmen ini mencatat pendapatan sebesar 648,10 juta dollar AS atau sekitar Rp 11,17 triliun, naik dari 603,69 juta dollar AS atau Rp 10,41 triliun pada kuartal I 2025.
Sementara itu, pendapatan dari bisnis penerbangan tidak berjadwal mengalami penurunan. Pada kuartal I 2026, pendapatan segmen ini tercatat sebesar 24,98 juta dollar AS atau sekitar Rp 430,66 miliar, turun dari 37,96 juta dollar AS atau Rp 654,43 miliar pada tahun sebelumnya. Pendapatan lain-lain justru menunjukkan tren positif, meningkat menjadi 89,27 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,54 triliun, dibandingkan 81,91 juta dollar AS atau Rp 1,41 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Rugi Bersih Menyusut, Beban Operasional Terkendali
Di tengah kenaikan pendapatan, Garuda Indonesia berhasil menekan rugi bersih periode berjalan menjadi 41,62 juta dollar AS atau sekitar Rp 717,53 miliar. Angka ini membaik secara signifikan dibandingkan rugi bersih 75,93 juta dollar AS atau Rp 1,31 triliun yang dicatatkan pada kuartal I 2025.
Penyusutan rugi juga tercermin dari rugi sebelum pajak penghasilan yang turun dari 88,74 juta dollar AS atau Rp 1,53 triliun menjadi 47,72 juta dollar AS atau Rp 822,29 miliar. Perbaikan ini sejalan dengan terkendalinya beban operasional. Total beban usaha Garuda Indonesia turun menjadi 713,22 juta dollar AS atau sekitar Rp 12,29 triliun, dari 718,36 juta dollar AS atau Rp 12,39 triliun pada kuartal I 2025.
Komponen beban operasional penerbangan juga mengalami penurunan, dari 361,96 juta dollar AS atau Rp 6,24 triliun menjadi 350,24 juta dollar AS atau Rp 6,04 triliun. Namun, beberapa pos beban justru mengalami kenaikan. Beban pemeliharaan dan perbaikan naik menjadi 159,14 juta dollar AS atau Rp 2,74 triliun dari sebelumnya 156,19 juta dollar AS. Beban kebandaraan juga meningkat menjadi 57,84 juta dollar AS atau Rp 997,16 miliar, begitu pula beban tiket, penjualan, dan promosi yang naik menjadi 45,64 juta dollar AS atau Rp 786,83 miliar.
Beban Keuangan Masih Menjadi Tantangan
Meskipun mencatat penyusutan rugi, beban keuangan Garuda Indonesia masih menjadi catatan penting. Pada tiga bulan pertama 2026, perseroan membukukan beban keuangan sebesar 104 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,79 triliun. Angka ini memang turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 124,57 juta dollar AS atau Rp 2,15 triliun, namun tetap menjadi salah satu penekan utama profitabilitas.
Di sisi lain, pendapatan keuangan mengalami peningkatan menjadi 9,13 juta dollar AS atau Rp 157,40 miliar, naik dari 3,36 juta dollar AS atau Rp 57,93 miliar. Namun, perseroan juga mencatat rugi selisih kurs neto sebesar 1,39 juta dollar AS atau Rp 23,96 miliar, berbalik dari posisi keuntungan selisih kurs 12,83 juta dollar AS atau Rp 221,19 miliar pada kuartal I 2025. Pos pendapatan dan beban lain-lain neto juga bergeser menjadi beban 1,20 juta dollar AS atau Rp 20,69 miliar.
Secara keseluruhan, total pendapatan dan beban usaha lainnya masih tercatat negatif 96,85 juta dollar AS atau Rp 1,67 triliun, sedikit lebih dalam dibandingkan periode sebelumnya yang negatif 93,94 juta dollar AS atau Rp 1,62 triliun.
Likuiditas Menurun, Liabilitas Meningkat
Dari sisi neraca, total aset Garuda Indonesia per 31 Maret 2026 tercatat sebesar 7,51 miliar dollar AS atau Rp 129,41 triliun, mengalami sedikit kenaikan dari 7,43 miliar dollar AS atau Rp 128,11 triliun pada akhir 2025. Aset lancar juga meningkat menjadi 1,51 miliar dollar AS atau Rp 26,05 triliun.
Namun, kas dan setara kas menunjukkan tren penurunan. Per 31 Maret 2026, kas dan setara kas tercatat sebesar 857,50 juta dollar AS atau Rp 14,79 triliun, turun dari 943,40 juta dollar AS atau Rp 16,27 triliun pada akhir 2025. Penurunan ini juga tercermin pada arus kas operasi yang tercatat 118,92 juta dollar AS atau Rp 2,05 triliun, lebih rendah dibandingkan 162,27 juta dollar AS atau Rp 2,80 triliun pada kuartal I 2025.
Arus kas neto yang digunakan untuk aktivitas investasi justru meningkat menjadi 134,98 juta dollar AS atau Rp 2,33 triliun, sementara arus kas untuk aktivitas pendanaan tercatat negatif 62,48 juta dollar AS atau Rp 1,08 triliun. Secara total, kas dan setara kas berkurang bersih 78,54 juta dollar AS atau Rp 1,35 triliun selama kuartal I 2026.
Di sisi kewajiban, total liabilitas Garuda Indonesia meningkat menjadi 7,44 miliar dollar AS atau Rp 128,24 triliun, dari 7,34 miliar dollar AS atau Rp 126,54 triliun pada akhir 2025. Liabilitas jangka panjang masih mendominasi, mencapai 5,90 miliar dollar AS atau Rp 101,68 triliun.
Pos liabilitas sewa tercatat sebesar 1,98 miliar dollar AS atau Rp 34,19 triliun, sementara liabilitas estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat mencapai 2,28 miliar dollar AS atau Rp 39,35 triliun. Utang obligasi tercatat 684,61 juta dollar AS atau Rp 11,80 triliun, dan pinjaman jangka panjang sebesar 630,06 juta dollar AS atau Rp 10,86 triliun.
Total ekuitas justru mengalami penurunan menjadi 68,25 juta dollar AS atau Rp 1,18 triliun, dari 91,91 juta dollar AS atau Rp 1,58 triliun pada akhir 2025. Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk bahkan bergeser menjadi negatif 39,63 juta dollar AS atau minus Rp 683,22 miliar. Akumulasi rugi belum dicadangkan juga bertambah menjadi 3,88 miliar dollar AS atau Rp 66,85 triliun.






