Money

Pendapatan Garuda (GIAA) Kuartal I 2026 Tumbuh 5,36 Persen, Ditopang Perbaikan Kinerja Operasi

Advertisement

JAKARTA, CNN Indonesia — PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatatkan pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 5,36 persen pada kuartal I 2026, mencapai 762,35 juta dollar AS atau sekitar Rp 12,58 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 723,56 juta dollar AS atau sekitar Rp 11,94 triliun.

Perbaikan kinerja operasional menjadi pendorong utama kenaikan pendapatan ini. Peningkatan permintaan penumpang, perbaikan yield, serta tren positif pendapatan seiring dengan proses transformasi perusahaan turut berkontribusi.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, sebelumnya telah mengungkapkan upaya optimalisasi alat produksi yang terus dilakukan. “Seiring berlanjutnya langkah optimalisasi alat produksi, jumlah pesawat operasional Grup meningkat menjadi sedikitnya 99 unit pada akhir 2025,” ujar Glenny dalam keterangan persnya, Rabu (22/4/2026).

Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dari sekitar 84 unit pesawat yang beroperasi pada pertengahan tahun yang sama. “Jumlah tersebut meningkat dari sekitar 84 unit pada pertengahan tahun yang sama,” lanjutnya.

Kontributor Pendapatan dan Penyesuaian Biaya

Penerbangan berjadwal tetap menjadi kontributor terbesar pendapatan Garuda Indonesia, dengan perolehan 648,10 juta dollar AS atau sekitar Rp 10,69 triliun. Angka ini naik dari 603,69 juta dollar AS atau sekitar Rp 9,96 triliun pada kuartal I 2025.

Sementara itu, pendapatan dari penerbangan tidak berjadwal mengalami penurunan, tercatat sebesar 24,98 juta dollar AS atau sekitar Rp 412,17 miliar, berbanding dengan 37,96 juta dollar AS atau sekitar Rp 626,34 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Namun, pendapatan lain-lain justru menunjukkan peningkatan, mencapai 89,27 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,47 triliun, naik dari 81,91 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,35 triliun.

Di sisi lain, perbaikan operasional juga tercermin pada sisi beban. Total beban usaha berhasil ditekan menjadi 713,22 juta dollar AS atau sekitar Rp 11,77 triliun, turun dari 718,36 juta dollar AS atau sekitar Rp 11,85 triliun pada kuartal I 2025. Beban operasional penerbangan juga mengalami penurunan menjadi 350,24 juta dollar AS atau sekitar Rp 5,78 triliun, dari 361,96 juta dollar AS atau sekitar Rp 5,97 triliun.

Beban umum dan administrasi pun ikut berkurang menjadi 42,01 juta dollar AS atau sekitar Rp 693,17 miliar, dibandingkan 47,81 juta dollar AS atau sekitar Rp 788,87 miliar pada periode sebelumnya. Namun, beberapa pos biaya mengalami kenaikan, seperti beban pemeliharaan dan perbaikan yang meningkat menjadi 159,14 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,63 triliun, serta beban tiket, penjualan, dan promosi yang naik menjadi 45,64 juta dollar AS atau sekitar Rp 753,06 miliar.

Advertisement

Penyesuaian biaya ini berdampak positif pada laba operasi, yang meningkat signifikan menjadi 49,13 juta dollar AS atau sekitar Rp 810,65 miliar. Angka ini jauh melampaui laba operasi pada kuartal I 2025 yang hanya sebesar 5,20 juta dollar AS atau sekitar Rp 85,80 miliar.

Penurunan Beban Keuangan dan Kerugian

Selain perbaikan operasional, beban keuangan juga berhasil diturunkan menjadi 104,00 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,72 triliun, dari 124,57 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,06 triliun. Meskipun demikian, perseroan masih mencatat rugi periode berjalan sebesar 41,62 juta dollar AS atau sekitar Rp 686,73 miliar.

Namun, angka kerugian ini menunjukkan perbaikan dibandingkan rugi yang tercatat pada kuartal I 2025, yaitu sebesar 75,93 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,25 triliun.

Posisi Aset dan Likuiditas

Dari sisi neraca, total aset Garuda per 31 Maret 2026 tercatat sebesar 7.506,78 juta dollar AS atau sekitar Rp 123,86 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan total aset pada akhir 2025 yang sebesar 7.431,60 juta dollar AS atau sekitar Rp 122,62 triliun.

Aset lancar pun mengalami peningkatan menjadi 1.510,87 juta dollar AS atau sekitar Rp 24,93 triliun, dari 1.418,27 juta dollar AS atau sekitar Rp 23,40 triliun. Sementara itu, aset tidak lancar mengalami sedikit penurunan menjadi 5.995,91 juta dollar AS atau sekitar Rp 98,93 triliun.

Posisi kas dan setara kas tercatat sebesar 857,50 juta dollar AS atau sekitar Rp 14,15 triliun, mengalami penurunan dari 943,40 juta dollar AS atau sekitar Rp 15,57 triliun pada akhir 2025. Pada sisi ekuitas, Garuda mencatat posisi sebesar 68,25 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,13 triliun per 31 Maret 2026.

Advertisement