Akses.co.id — JAKARTA, KOMPAS.com – PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA), salah satu emiten di industri kelapa sawit, melaporkan lonjakan pendapatan sebesar 49,2 persen pada kuartal I 2026. Kinerja positif ini ditopang oleh kontribusi signifikan dari fasilitas refinery yang baru beroperasi penuh.
Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 2,486 triliun dalam tiga bulan pertama tahun 2026, menunjukkan pertumbuhan year on year (YoY) yang impresif. Peningkatan ini sebagian besar didorong oleh kontribusi penuh dari fasilitas refinery yang mulai beroperasi sejak pertengahan tahun lalu, menandai langkah strategis perusahaan dalam hilirisasi produk.
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba kotor STAA juga tercatat meningkat 28,5 persen YoY menjadi Rp 737 miliar. Marjin laba kotor perusahaan berada di angka 29,7 persen, yang menurut manajemen mencerminkan perubahan komposisi produk serta dinamika harga komoditas kelapa sawit sepanjang periode tersebut.
Efisiensi Produksi di Tengah Tantangan Cuaca
Di sisi operasional, total produksi tandan buah segar (TBS) STAA pada kuartal I 2026 mencapai 221.421 ton. Angka ini mengalami penurunan 7,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan produksi tersebut terutama dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang kurang kondusif selama periode berjalan.
Meskipun demikian, STAA berhasil mencatat peningkatan efisiensi melalui perbaikan tingkat ekstraksi minyak sawit mentah (CPO). CPO extraction rate meningkat menjadi 22,4 persen, sebuah pencapaian yang disebut mencerminkan optimalisasi proses produksi yang berkelanjutan.
Perusahaan menegaskan bahwa strategi hilirisasi dan penguatan infrastruktur terintegrasi terus menjadi pilar penguatan fundamental bisnisnya. Upaya ini mencakup peningkatan kualitas operasional di seluruh lini usaha.
Bergabung dengan RSPO, Komitmen pada Keberlanjutan
Dalam rangka memperkuat komitmennya terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan, STAA secara resmi mengumumkan keanggotaannya sebagai anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Langkah ini disebut sebagai formalisasi standar operasional perseroan yang telah mengacu pada praktik dan standar internasional.
Selain menjadi anggota RSPO, perusahaan juga tengah menjalankan proses sertifikasi RSPO di seluruh unit operasionalnya. Hingga saat ini, dua entitas operasional STAA telah berhasil memperoleh sertifikasi tersebut. Perusahaan menyatakan bahwa proses sertifikasi akan terus dilanjutkan seiring dengan peningkatan standar operasional secara berkelanjutan.
Manajemen STAA menilai langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk ekspor perusahaan sekaligus memperkuat posisi STAA di pasar internasional.
“Kami melihat keberlanjutan sebagai bagian integral dari operasional perseroan. Keanggotaan RSPO dan proses sertifikasi yang berjalan mencerminkan komitmen kami untuk menjaga standar operasional yang konsisten dengan praktik global,” ujar Head of Investor Relations STAA, Kevin Wijaya, dalam siaran pers, Sabtu (25/4/2026).
Fokus Jangka Panjang: Hilirisasi dan Keberlanjutan
Sejalan dengan strategi hilirisasi, STAA berkomitmen untuk terus meningkatkan praktik agronomi, efisiensi produksi, serta pengelolaan lingkungan dan sosial. Perseroan memandang integrasi antara pertumbuhan bisnis dan keberlanjutan sebagai arah strategis jangka panjang perusahaan.
Dengan fondasi bisnis yang dinilai kuat, STAA optimis dapat terus menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham. Selain itu, perusahaan juga berharap dapat berkontribusi lebih besar terhadap industri kelapa sawit nasional dan global.
Ikuti Akses.co.id
