Akses.co.id — JAYAPURA, KOMPAS.com — Komisariat Daerah Pemuda Katolik (Komda PK) Provinsi Papua Tengah menyalakan seribu lilin di Kapela SMA YPPK Adhi Luhur Nabire pada Kamis (23/4/2026). Aksi ini menjadi penanda pembukaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) I Pemuda Katolik Papua Tengah, sekaligus menjadi wujud solidaritas dan doa bersama untuk masyarakat di Tanah Papua.
Hendrikus Yeimo, Ketua Panitia Rakerda I Pemuda Katolik, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan ekspresi duka, harapan, dan solidaritas bagi warga sipil yang terdampak konflik. “Selama puluhan tahun, warga sipil di Tanah Papua, anak-anak, ibu-ibu, tenaga kesehatan, dan para guru telah menjadi korban dari situasi yang tidak berkesudahan,” ujar Hendrikus.
Suasana aksi berlangsung hening dan khidmat. Seribu lilin yang tersusun rapi menjadi simbol harapan akan terwujudnya kedamaian di Bumi Cenderawasih.
Doa Bersama untuk Para Korban
Rangkaian kegiatan diawali dengan misa Ekaristi dan dilanjutkan dengan doa bersama yang ditujukan untuk para korban konflik serta keluarga yang berduka. Para peserta juga memohon kedamaian bagi masyarakat di Papua Tengah dan seluruh wilayah Papua.
“Aksi ini juga menjadi pesan kuat bahwa generasi muda menolak segala bentuk kekerasan dan perpecahan,” tegas Hendrikus.
Seruan untuk Menghentikan Kekerasan
Abeth A You, perwakilan Departemen Gugus Tugas Papua Pengurus Pusat Pemuda Katolik, menegaskan bahwa aksi ini bukan bertujuan untuk memprovokasi, melainkan sebuah panggilan moral. “Kami mengajak semua pihak untuk berhenti sejenak, merenung dan melihat bahwa di balik konflik ini ada manusia-manusia yang kehilangan hak hidup dengan aman dan bermartabat,” kata Abeth.
Ia menekankan pentingnya persaudaraan, toleransi, dan saling menghormati sebagai kunci utama menuju Papua yang damai.
Ajakan Dialog dan Perlindungan Warga
Para peserta aksi juga membentangkan spanduk yang berisi seruan damai, di antaranya “Damai Sejahtera Bagi Papua” dan “Hidup adalah Anugerah, Lindungi Setiap Nyawa”. Menurut Abeth, konflik yang berkepanjangan telah menimbulkan dampak luas, mulai dari terganggunya sektor pendidikan hingga hilangnya rasa aman di tengah masyarakat.
“Kami percaya bahwa perdamaian bukan hanya sebuah harapan, tetapi sebuah keharusan,” ujar Abeth.
Aksi damai ini ditutup dengan ajakan kepada seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan untuk membuka ruang dialog demi mewujudkan Papua yang aman, damai, dan bermartabat.
Ikuti Akses.co.id
