Para pemimpin perusahaan dihadapkan pada tekanan ganda: membimbing tim melewati era kecerdasan buatan (AI) sekaligus menghadapi potensi perubahan pada tanggung jawab pekerjaan mereka sendiri. Sebagian besar eksekutif teknologi kini diliputi kekhawatiran akan kehilangan posisi jika gagal mengarahkan organisasi dalam transisi teknologi yang pesat ini.
Survei yang dilakukan oleh platform AI, Writer, terhadap 2.400 pekerja dan eksekutif, mengungkap fakta mengejutkan: 61 persen pemimpin teknologi mengaku cemas kehilangan pekerjaan akibat kegagalan dalam memimpin adopsi AI di perusahaan mereka. Kekhawatiran ini muncul di tengah prediksi meluasnya penggunaan AI dalam lima tahun ke depan.
Melansir ESG Dive pada Selasa (21/4/2026), tiga perempat eksekutif memproyeksikan penggunaan AI akan semakin merata di organisasi mereka. Namun, peningkatan ini justru memicu rasa ketidakamanan. Setengah dari para eksekutif tersebut merasa bahwa keterampilan yang mereka miliki kini mulai tertinggal zaman seiring dengan perkembangan AI.
Mina Alaghband, perwakilan dari platform Writer, menekankan bahwa pemimpin teknologi yang sukses di era ini adalah mereka yang berani mengambil inisiatif. “Pemimpin yang berpengaruh tidak lagi bertanya ‘Apa strategi AI kita?’, melainkan bertanya ‘Bagaimana saya bisa mendapatkan alat dan infrastruktur untuk membangun tenaga kerja berbasis AI sendiri, dan bagaimana kita mengaturnya secara besar-besaran?'” ujarnya.
Adopsi AI dan Dampaknya pada Tenaga Kerja
Adopsi AI tidak hanya menimbulkan kegelisahan di kalangan eksekutif, tetapi juga merambah ke berbagai tingkatan pekerja. Baik para pemimpin teknologi maupun karyawan junior sama-sama mengkhawatirkan potensi AI menggantikan posisi mereka.
Menurut laporan Deloitte, pengeluaran dan pemanfaatan AI diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat dalam dua tahun mendatang. Lonjakan investasi ini mengindikasikan perusahaan akan semakin gencar mengintegrasikan AI dalam operasional mereka, sembari terus berupaya mengelola dampak yang timbul.
Lebih lanjut, 75 persen eksekutif memproyeksikan agen AI akan menjadi bagian integral dari jajaran pimpinan tinggi perusahaan dalam lima tahun ke depan. Namun, ironisnya, para eksekutif melaporkan adanya kesenjangan keahlian AI yang signifikan. Sebanyak 58 persen dari mereka merasa rekan sesama pemimpin tidak memiliki pengetahuan dasar yang memadai untuk mengambil keputusan strategis terkait AI.
Kesenjangan ini, menurut laporan yang sama, memicu stres di kalangan petinggi teknologi. Lebih dari separuh eksekutif menyatakan bahwa adopsi AI telah menimbulkan “perebutan kekuasaan dan gangguan” dalam organisasi mereka. Situasi ini diperparah dengan 69 persen eksekutif yang melaporkan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dipicu oleh faktor AI.
Situasi ini membuat hampir separuh eksekutif merasa terancam kehilangan pekerjaan dalam setahun ke depan akibat masalah adopsi AI. Meski demikian, Alaghband meyakini bahwa keterampilan manusia yang unik, seperti penilaian kritis, keahlian spesifik bidang, dan pemahaman mendalam tentang perusahaan, tidak akan tergantikan oleh AI.
“Pemimpin teknologi harus memandang strategi AI sebagai keputusan tentang bakat. Mereka perlu mempertimbangkan keahlian apa yang ingin diubah menjadi sistem, atau kerangka penilaian apa yang ingin dimasukkan ke dalam alur kerja AI,” tambah Alaghband.
Kesenjangan Keterampilan Penggunaan AI
Laporan tersebut juga menyoroti adanya kesenjangan keterampilan yang mencolok di antara karyawan di banyak organisasi. Di satu sisi, terdapat kelompok “pengguna super” yang sangat produktif dalam memanfaatkan AI. Di sisi lain, ada pula mereka yang jarang menggunakan atau bahkan menolak teknologi ini. Kesenjangan ini ditemukan baik di tingkat staf maupun pimpinan.
Alaghband menjelaskan bahwa AI secara fundamental mengubah definisi pekerjaan. Nilai utama seorang pekerja kini bergeser, tidak lagi semata-mata terkait dengan pengerjaan tugas teknis, melainkan lebih kepada peran sebagai pengatur atau “dirigen” bagi sistem cerdas tersebut.
“Tanggung jawab ada pada para pemimpin untuk meningkatkan ambisi manusia,” kata Alaghband.
“Para eksekutif harus membantu orang-orang membayangkan peran pekerjaan yang bahkan belum ada saat ini, mendukung kerja sama antar tim daripada hanya fokus pada satu keahlian sempit, dan menyadari bahwa pengaruh seseorang kini ditentukan oleh hasil kerja dan kemampuan menggunakan AI, bukan lagi dari seberapa sibuk mereka atau seberapa lama mereka sudah bekerja,” pungkasnya.






