— Pemerintah Kota Medan menyatakan kesiapannya untuk membangun kembali jembatan Gang Damai yang roboh akibat bencana longsor pada tahun 2024. Namun, proyek ini masih terkendala menunggu surat persetujuan dari Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) karena lokasi jembatan berada di atas tanah milik PT KAI.

Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Medan, Khairul Azmi, mengonfirmasi bahwa Balai Wilayah Sungai (BWS) telah siap mengeluarkan persetujuan teknis. Di sisi lain, Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga menunjukkan kesiapan penuh untuk membantu pembangunan jembatan gantung tersebut.

“Tetapi di sini ada problem, karena itu tanah PJKA, jadi ada regulasinya, apakah sewa, hibah, atau pinjam pakai. Kita masih menunggu suratnya dan belum ngasi jawaban,” ujar Khairul saat dihubungi Kompas.com, Jumat (25/4/2026).

Jembatan yang berlokasi di Jalan Adi Sucipto, Gang Damai, Kecamatan Medan Polonia ini menjadi satu-satunya akses bagi siswa untuk mencapai sekolah. Sejak jembatan roboh, para siswa terpaksa menggunakan pipa air milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebagai jalur penyeberangan, sebuah kondisi yang baru mendapat perhatian serius setelah beberapa siswa terekam melewati pipa tersebut.

Khairul menambahkan, Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, telah meminta agar proses ini dipercepat. “Pak wali minta secepatnya, karena TNI sudah siap untuk bangun. Kita tinggal menunggu PJKA, karena harus ada regulasi yang harus dilengkapi,” tuturnya.

Dia memperkirakan, begitu surat dari PJKA diterima, pembangunan jembatan akan segera dilaksanakan. “Biasanya TNI tidak pernah lama,” imbuh Khairul.

Menyoal pendanaan, Pemerintah Kota Medan tidak akan mengeluarkan biaya untuk pembangunan jembatan tersebut. Dana dan tenaga pembangunan sepenuhnya berasal dari TNI. Pemerintah Kota Medan hanya akan membantu menyediakan bahan-bahan pendukung seperti pasir dan kebutuhan logistik lainnya. “Artinya ini kerja kolaborasi kita,” jelas Khairul.

Jembatan gantung yang rencananya akan dibangun ini dikhususkan untuk pejalan kaki. Kendaraan, termasuk sepeda motor, tidak diizinkan melintas.

Sebelumnya, video yang memperlihatkan sejumlah siswa di Kota Medan harus mempertaruhkan nyawa demi bersekolah dengan melintasi pipa PDAM untuk menyeberangi Sungai Deli sempat viral di media sosial. Dalam video tersebut, terlihat dua siswa mengenakan seragam sekolah dan membawa tas, berjalan hati-hati di atas pipa.

“Miris di Kota Medan, siswa pertaruhkan nyawa lintas jembatan maut untuk sekolah,” demikian narasi yang menyertai unggahan video tersebut.

Kepala Lingkungan 21, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, Lestari, menjelaskan bahwa pipa PDAM tersebut menjadi akses penghubung tiga wilayah. “Sebelumnya di sini ada jembatan cuma roboh tahun 2024,” kata Lestari saat diwawancarai di lokasi, Rabu (15/4/2026).

Menurut Lestari, jembatan tersebut awalnya rusak akibat tertimpa longsor sebelum akhirnya berangsur roboh. Akibatnya, mayoritas siswa dari Kecamatan Polonia yang bersekolah di SMP 34, Kelurahan Kampung Baru, terpaksa menggunakan pipa PDAM. “Jadi biasanya anak SMP yang lewat sini. Justru anak SMA gak berani,” ucapnya.