JAKARTA, KOMPAS.com – Para pedagang di Pasar Cipulir, Jakarta Selatan, diliputi kecemasan setiap kali hujan deras mengguyur. Kondisi pasar yang kerap tergenang air membuat mereka khawatir barang dagangan rusak dan terendam lumpur.

Syaiful (36), seorang pedagang kemeja, menceritakan pengalamannya merugi akibat terlambat menyelamatkan barang saat banjir. “Waktu itu banjirnya jam 02.00 WIB, kan kami lagi pada tidur di rumah. Air keburu (naik), sejam saja sudah langsung penuh, jadi enggak selamat. Waktu itu belum dinaikin ke atas tangga,” ujar Syaiful kepada Kompas.com di lokasi, Sabtu.

Beruntung, dagangan bajunya kala itu tidak terlalu lama terendam dan masih bisa diselamatkan setelah dicuci. “Enggak sempet tuh ngamanin, jadi kemarin sempat dua sampai tiga lusin terendam. Alhamdulillah masih bisa tertolong di-laundry. Cuma ya itu, ongkosnya jadi berlipat-lipat kan karena laundry butuh ongkos. Habis lah, boncos jadinya,” keluhnya.

Kerugian Bisa Capai Puluhan Juta Rupiah

Syaiful mencontohkan kejadian yang menimpa pedagang di toko sebelahnya saat banjir pada awal tahun 2026. Akibat kelalaian mengevakuasi barang ke tempat yang lebih tinggi, hampir seluruh stok dagangannya terendam air.

“Waktu kemarin toko sebelah sampai habis barangnya kena banjir semua, ada 50 lusin. Bayangin saja, barang bagus kayak gamis dijual Rp 100 ribuan per potong. Kalau grosiran selusin Rp 750.000, hitung aja tuh kerugiannya, banyak banget, puluhan juta kayaknya kalau enggak selamat,” tuturnya.

Kecemasan serupa dirasakan oleh Miran (39), pedagang yang telah berjualan di Pasar Cipulir selama 10 tahun. Rasa takut akan kerugian materiil mendorongnya untuk kembali ke pasar pada Sabtu malam, meskipun sudah sampai di rumahnya di Jembatan Lima, Jakarta Barat.

Banjir yang terjadi pada Sabtu sore sempat mencapai ketinggian 50 sentimeter. “Tadi udah pulang, kita sengaja balik buat bersihin lumpurnya. Kalau ntar udah kering susah bersihinnya. Terus ya demi barang kan, takutnya rusak kena air juga. Kita bingung juga ini nggak surut-surut airnya,” kata Miran.

Miran menambahkan, berbagai upaya antisipasi telah dilakukan baik oleh pengelola maupun pedagang. Mulai dari menguruk lantai agar lebih tinggi sekitar 30 hingga 40 sentimeter, hingga membuat meja etalase yang lebih tinggi dengan lapisan semen anti-bocor.

Namun, semua upaya tersebut belum sepenuhnya menghilangkan rasa khawatir para pedagang. “Walaupun kita udah bikin meja, tetap waswas namanya sama air, daripada kenapa-kenapa kan,” ujar Miran.

Harapan Perbaikan Infrastruktur

Menghadapi banjir yang berulang kali terjadi, para pedagang berharap adanya perbaikan infrastruktur dari pemerintah. Miran mengaku jenuh harus berulang kali membersihkan tokonya dari banjir dan lumpur yang turut menyita waktu istirahatnya.

“Ada harapan penginnya sih pemerintah atau pihak PD (Pasar) sini beresin lah gotnya gitu, biar kalau ada hujan dikit air nggak masuk. Kita juga merasa jenuh banjir terus,” tutup Miran.