BANGKALAN, Kompas.com – Dinas Kesehatan Bangkalan bergerak cepat melakukan pelacakan atau tracing terhadap ribuan siswa yang menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bangkalan menyusul dugaan keracunan yang menimpa dua siswa dan satu guru di SMPN 1 Blega pada Senin, 20 April 2026.
Tim surveilans dari Dinas Kesehatan telah dikerahkan ke berbagai sekolah untuk memantau kondisi para penerima MBG yang bersumber dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Blega, Yayasan Manunggal Kartika Jaya.
“Saat ini dari Dinkes dibantu puskesmas melakukan tracing ke sekolah namun belum semuanya selesai,” ujar Kepala Puskesmas Blega, drg Siti Safitri Maulita, pada Rabu (22/4/2026).
Siti menjelaskan bahwa proses pelacakan ini membutuhkan waktu karena beberapa sekolah masih dalam tahap pelaksanaan ujian. Meskipun demikian, pihaknya menargetkan untuk mendata sebanyak 2.892 penerima MBG dari dapur tersebut.
Proses Tracing Masih Berjalan
Ketua Satgas MBG Bangkalan, Bambang Budi Mustika, mengonfirmasi bahwa hasil survei yang dilakukan oleh tim kesehatan belum rampung sepenuhnya. “Kami masih menunggu tracing ini rampung, karena saat ini prosesnya masih berjalan,” katanya.
Bambang juga menambahkan bahwa salah satu siswa yang sempat dirawat di puskesmas akibat dugaan keracunan tersebut kini telah dipulangkan. “Alhamdulillah, tadi jam 10.00 WIB sudah dipulangkan dalam kondisi sehat,” ujarnya.
[video.1]Dapur MBG Pastikan Kejadian Terisolasi
Sementara itu, Mitra SPPG Blega, Yayasan Manunggal Kartika Jaya, Moh Amir, menegaskan bahwa dugaan keracunan tersebut hanya terjadi di satu sekolah, yaitu SMPN 1 Blega.
“Yang lainnya aman. Kami juga langsung melakukan penarikan ompreng di sekolah yang mengalami kejadian tersebut,” pungkasnya.
Sebelumnya, insiden ini bermula ketika dua siswa dan satu guru dilaporkan mengalami gejala mual dan muntah setelah mengonsumsi MBG. Kondisi satu siswa dan satu guru dilaporkan memburuk hingga memerlukan penanganan medis di puskesmas.






