— Jakarta, Indonesia – Pasar kecerdasan buatan (AI) di Indonesia menunjukkan geliat yang signifikan, memicu kolaborasi strategis antara Blaize Holdings, Inc. dan PT Datacomm Diangraha. Kedua perusahaan sepakat menjalin kerja sama teknologi untuk mengembangkan solusi AI inference yang ditargetkan menyasar sektor industri, keamanan, dan logistik di tanah air.

Perjanjian ini diresmikan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di sela-sela acara Gitex Asia 2026 di Singapura. Langkah ini menandai fase awal penjajakan pemanfaatan AI yang lebih aplikatif di berbagai lini sektor di Indonesia.

“Asia Pasifik saat ini berada pada titik krusial dalam perkembangan AI inference, dan Indonesia menonjol sebagai salah satu kontributor utama pertumbuhan tersebut,” ujar Dinakar Munagala, Co-Founder dan Chief Executive Officer Blaize, dalam keterangan pers yang diterima pada Jumat (24/4/2026).

Munagala menambahkan bahwa Datacomm memiliki keunggulan dalam hal fondasi infrastruktur yang kokoh dan jaringan relasi yang kuat dengan perusahaan-perusahaan besar. “Datacomm memiliki fondasi infrastruktur yang kuat serta relasi enterprise yang solid. Mereka punya relasi kuat dengan pelanggan enterprise yang dibutuhkan pasar ini,” jelasnya.

Kolaborasi ini diharapkan mampu menghadirkan solusi AI yang dapat diimplementasikan secara nyata di berbagai sektor. “Bersama-sama, kami mengeksplorasi bagaimana platform AI Blaize yang dapat diprogram dan hemat energi dapat menghadirkan nilai nyata di dunia nyata, mulai dari keamanan publik, infrastruktur cerdas, physical AI, hingga logistik di seluruh Indonesia,” ungkap Munagala.

Indonesia: Pasar AI yang Kian Strategis

Pertumbuhan pasar AI di Indonesia memang patut diperhitungkan. Negara ini tercatat sebagai salah satu pasar dengan laju pertumbuhan tercepat di kawasan Asia Pasifik. Fenomena ini didorong oleh masuknya pemain global ternama (hyperscaler), pengembangan infrastruktur digital yang kian berdaulat, serta ekspansi teknologi pada level perusahaan (enterprise) yang semakin masif.

Sebuah laporan bertajuk Empowering Indonesia Report 2025 yang dirilis oleh Indosat Ooredoo Hutchison dan Twimbit memproyeksikan bahwa sovereign AI berpotensi menyumbang hingga 140 miliar dollar AS bagi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2030. Proyeksi ini disertai dengan estimasi pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 6,8 persen.

Sementara itu, sektor AI di Indonesia mencatatkan angka pertumbuhan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 31 persen, menjadikannya yang tertinggi di wilayah Asia Tenggara, berdasarkan data Digital in Asia 2026.

Melihat potensi pasar yang begitu besar, Blaize dan Datacomm memfokuskan kerja sama mereka pada pengembangan solusi di bidang Physical AI, keamanan publik, pengawasan, AI industri, dan logistik.

Ruang Lingkup Kerja Sama

Melalui nota kesepahaman yang telah ditandatangani, kedua perusahaan akan mendalami berbagai area strategis. Salah satu poin penting adalah pengembangan AI inference as a service. Hal ini akan dicapai melalui integrasi platform Hybrid AI milik Blaize dengan DCloud, layanan komputasi awan (cloud) dari Datacomm, serta memanfaatkan infrastruktur pusat data (data center) milik Datacomm.

Lebih lanjut, kolaborasi ini juga mencakup pengembangan berbagai kasus penggunaan (use case) yang relevan. Beberapa di antaranya adalah analitik video, sistem pengawasan pintar (smart surveillance), peningkatan keamanan fisik, serta optimalisasi rantai pasok logistik, baik untuk sektor publik maupun perusahaan.

Pemanfaatan AI inference juga diarahkan untuk mendukung otomatisasi di sektor industri Indonesia, termasuk penerapan teknologi computer vision dan sistem yang berbasis sensor.

Presiden Direktur dan Founder Datacomm, Tan Wie Tjin, menegaskan kesiapan perusahaannya dalam menyongsong era baru AI.

“Di Datacomm, kami telah menghabiskan lebih dari tiga dekade untuk membangun kepercayaan dari berbagai pelanggan enterprise, instansi pemerintah, dan operator infrastruktur kritikal di Indonesia,” ujar Wie Tjin.

Ia menambahkan bahwa Indonesia kini berada di ambang transformasi AI yang signifikan. “Indonesia berada di ambang transformasi AI yang signifikan, dan kebutuhan akan solusi inference yang cerdas, scalable, serta aman terus meningkat di setiap sektor yang kami layani,” lanjutnya.

Wie Tjin memandang kolaborasi ini sebagai langkah strategis yang sangat tepat untuk menjawab kebutuhan pasar tersebut. “Aliansi dengan Blaize ini merupakan langkah yang natural sekaligus menarik dalam perjalanan kami menuju era AI. Kombinasi antara infrastruktur cloud dan data center Datacomm dengan platform AI inference kelas dunia dari Blaize menempatkan kami pada posisi yang unik untuk menjawab kebutuhan tersebut,” ucapnya.

“Saya menantikan berbagai peluang yang akan dihadirkan aliansi teknologi ini, baik bagi pelanggan kami maupun masa depan digital Indonesia,” tambahnya.

Perlu dicatat bahwa MoU yang disepakati ini bersifat non-binding, yang berarti menjadi kerangka awal bagi kerja sama kedua belah pihak. Keduanya membuka pintu lebar untuk kelanjutan ke proyek-proyek konkret melalui perjanjian lanjutan di masa mendatang.

Fokus utama dari kolaborasi ini adalah pengembangan solusi AI inference yang tidak hanya aman dan skalabel, tetapi juga hemat energi serta mampu terintegrasi dengan baik ke dalam lingkungan cloud, data center, maupun infrastruktur fisik yang ada di Indonesia.