— Fitur Anti-lock Braking System (ABS) kian lazim terpasang pada skutik di Indonesia, menawarkan solusi keselamatan untuk mencegah roda terkunci saat pengereman mendadak. Namun, kesalahan dalam pengoperasian justru dapat mengurangi efektivitas sistem canggih ini.

Banyak pengendara masih memperlakukan rem ABS layaknya sistem rem konvensional. Agus Sani, Head of Safety Riding Promotion Wahana, menjelaskan bahwa perbedaan krusial terletak pada cara menarik tuas rem saat pengereman.

“Cara berkendaranya sebenarnya tidak jauh berbeda, hanya saja saat kita melakukan pengereman, cukup tekan tuas rem secara normal dan tidak perlu dipompa,” ujar Agus kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).

Agus merinci, sistem ABS bekerja secara otomatis mengatur tekanan rem untuk mencegah roda selip. Ini berbeda dengan rem biasa atau Combined Brake System (CBS) yang berisiko mengunci roda jika ditekan terlalu kuat, terutama pada kondisi jalan licin.

Sensasi Getaran adalah Pertanda Baik

Salah satu fenomena yang kerap mengejutkan pengendara pemula adalah munculnya getaran pada tuas rem saat melakukan pengereman keras. Agus menegaskan bahwa getaran ini justru merupakan indikator positif.

“Itu normal banget. Saat sistem ABS bekerja, memang akan terasa getaran di tuas rem atau pedal. Itu tanda sistemnya lagi aktif mencegah roda terkunci. Nah kalau kejadian begitu, jangan dilepas remnya,” kata Agus.

Kesalahan fatal yang sering terjadi adalah pengendara panik dan melepas tuas rem akibat merasakan getaran tersebut. Tindakan ini, menurut Agus, justru membahayakan.

“Justru yang benar adalah tetap tekan atau tarik rem dengan stabil, karena sistem akan mengatur tekanan otomatis supaya roda tidak selip. Kalau dilepas karena kaget, jarak pengereman malah bisa jadi lebih panjang dan berisiko,” ucapnya.

Adaptasi dan Kesadaran Pengendara

Agus menyarankan pemilik motor ABS untuk membiasakan diri dengan melakukan latihan di tempat aman. Tujuannya agar pengendara tidak kaget saat merasakan sensasi getaran di situasi darurat.

Namun, ia menekankan pentingnya menjaga jarak aman dan kontrol kecepatan. “Tapi perlu diingat, pengendara tetap harus menjaga jarak aman dan kontrol kecepatan. Jangan bergantung sepenuhnya pada fitur, karena teknik berkendara yang benar tetap faktor utama keselamatan,” tutur Agus.