ISLAMABAD – Kekerasan kembali melanda Provinsi Balochistan, Pakistan barat daya, setelah sebuah proyek pertambangan emas dan tembaga diserbu oleh puluhan milisi bersenjata. Insiden yang terjadi pada Rabu (22/4/2026) ini merenggut nyawa sedikitnya sepuluh orang, menambah daftar panjang kekerasan di wilayah yang telah lama bergolak akibat gerakan separatis.
Serangan mendadak itu dilaporkan terjadi di area Darigwan, Distrik Chagai. Sekitar 40 anggota milisi, yang dilaporkan menggunakan sepeda motor dan berbagai kendaraan lainnya, menggempur lokasi proyek milik perusahaan National Resources Private Limited (NRL).
Seorang pejabat administrasi setempat, yang enggan disebutkan namanya, mengonfirmasi jumlah korban jiwa. “Serangan itu menewaskan sepuluh orang, termasuk tujuh pekerja dan tiga personel keamanan,” ujarnya kepada AFP.
Selain korban tewas, ada kekhawatiran mengenai nasib sejumlah karyawan lainnya. Pejabat tersebut menambahkan, “Ada laporan yang belum terkonfirmasi bahwa milisi juga menyandera beberapa karyawan.”
Konflik Berkepanjangan di Balochistan
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kelompok yang secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun, dugaan mengarah pada kelompok separatis etnis lokal yang dalam beberapa tahun terakhir semakin gencar menyasar proyek-proyek pertambangan di wilayah tersebut.
Balochistan merupakan provinsi terluas namun termiskin di Pakistan. Wilayah ini tercatat tertinggal jauh dalam berbagai indikator pembangunan, termasuk pendidikan, lapangan kerja, dan ekonomi, jika dibandingkan dengan provinsi lain.
Para separatis Balochistan kerap menuding pemerintah pusat Pakistan mengeksploitasi kekayaan sumber daya alam provinsi itu, seperti gas alam dan mineral, tanpa memberikan imbalan yang berarti bagi penduduk lokal.
Salah satu kelompok separatis yang paling aktif, Tentara Pembebasan Baloch (BLA), diketahui pernah melancarkan serangkaian serangan terkoordinasi pada Februari lalu yang menewaskan lebih dari 190 orang. Kelompok separatis ini dilaporkan sering menargetkan pekerja berdasarkan etnis mereka, khususnya etnis Punjabi dan Sindhi, yang dianggap sebagai “orang asing” di Balochistan.
Menanggapi insiden tersebut, pihak NRL membenarkan adanya serangan pada Rabu malam. Dalam pernyataan resminya, perusahaan menyatakan bahwa pasukan keamanan telah merespons dengan sigap.
“Pasukan keamanan merespons dengan segera dan telah mengamankan area tersebut,” demikian bunyi pernyataan resmi NRL.
Untuk meredam isu marginalisasi, NRL juga menekankan bahwa mayoritas karyawannya berasal dari penduduk lokal. “90 persen dari total tenaga kerja kami adalah pekerja lokal,” tegas perusahaan.






