— Invasi ikan sapu-sapu di Indonesia berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi tahunan mencapai Rp 2,72 triliun. Angka ini setara dengan 0,012 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2025. Perhitungan tersebut didasarkan pada pemodelan total economic loss (TEL) dalam skenario moderat.

Surya Gentha Akmal, pakar spesies akuatik invasif dari IPB University, menyatakan bahwa hasil perhitungan ini dianggap paling realistis saat ini. “Kami menganggapnya (hasil perhitungan) paling realistis untuk saat ini,” ujar Surya dalam sebuah webinar pada Sabtu (25/4/2026).

Tujuh Komponen Kerugian Ekonomi

Angka kerugian sebesar Rp 2,72 triliun diperoleh dari penghitungan tujuh komponen utama. Komponen tersebut meliputi produksi perikanan tangkap, kerusakan alat tangkap, erosi dan sedimentasi, jasa ekosistem (non-pasar), biaya kesehatan masyarakat, biaya pengendalian oleh pemerintah, serta kerugian pada sektor budi daya.

Dari ketujuh komponen tersebut, kerugian ekonomi terbesar disumbangkan oleh produksi perikanan tangkap yang mencapai Rp 1,12 triliun dan jasa ekosistem yang diperkirakan sebesar Rp 1,13 triliun.

Dampak Ekologis Ikan Sapu-Sapu

Keberadaan ikan sapu-sapu yang bersifat invasif memberikan dampak signifikan terhadap ekosistem perairan lokal. Ikan ini bersaing dengan spesies asli dalam memperebutkan sumber makanan seperti alga, detritus, dan lumut.

Lebih lanjut, ikan sapu-sapu juga berkontribusi pada penurunan populasi spesies lokal melalui alterasi habitat dan predasi terhadap telur ikan asli. Tingkat predasi ini bahkan dilaporkan dapat mencapai 90 persen.

Sebuah riset yang diterbitkan dalam jurnal IPB pada tahun 2020 memperlihatkan perbedaan mencolok pada hasil tangkapan nelayan tradisional di Danau Sindereng, Sulawesi Selatan, sebelum dan setelah ledakan populasi ikan sapu-sapu. Rata-rata hasil tangkapan ikan nilem, tawes, mujair, dan gabus sebelum invasi mencapai 45,55 kg. Namun, setelah populasi ikan sapu-sapu melonjak dan mendominasi, rata-rata hasil tangkapan nelayan menurun drastis menjadi 21,45 kg.

Risiko Kepunahan Spesies Lokal

Gentha mengingatkan adanya ancaman kepunahan permanen terhadap spesies lokal jika tidak ada upaya pengendalian yang efektif terhadap ikan sapu-sapu. Ia mencontohkan tragedi di Danau Poso, Kalimantan Tengah, di mana spesies lokal seperti ikan moncong bebek (Andrianichtys kryti) dan potpta’s bunting (Xenopoecilus poptoe) dinyatakan punah setelah ikan mujair diintroduksi.

“Danau Poso ini ancient lake, danau purba yang menyimpan spesies-spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di seluruh dunia. Niatnya baik ya, introduksi mujair pada 1951 untuk meningkatkan ketahanan pangan, memberi sumber protein yang cepat tumbuh. Tetapi konsekuensinya jauh di luar perhitungan kita semua,” jelasnya.

Proyeksi Kerugian Jangka Panjang

Selain perhitungan kerugian tahunan, pendekatan InvaCost Methodology mengungkapkan potensi kerugian ekonomi akibat invasi ikan sapu-sapu di Indonesia mencapai Rp 23,59 triliun dalam kurun waktu 10 tahun mendatang, yaitu periode 2026-2035.

Melalui simulasi perhitungan Monte Carlo Analysist, kerugian akibat invasi ikan sapu-sapu di Indonesia diproyeksikan berada di kisaran Rp 1,53 triliun hingga Rp 4,77 triliun.

“Kerugiannya paling sedikit Rp 1,5 triliun. Ini angka absolut, tidak mungkin lebih rendah ya dari hasil hitung-hitungan dari semua publikasi, dari semua riset yang sudah coba kami kumpulkan ya,” tegas Gentha.